Menuju Kota Mati

1503 Kata
Mendengar penuturan Altran, mereka yang berada di ruangan itu tertegun menyeleksi ucapannya. Sedikit masuk akal juga apa yang diucapkan oleh Altran. "Hmm, sepertinya kita sependapat, Al!" "Jangan samakan aku dengan mu. Aku lihat kamu begitu tenang di dalam peti bahkan enak-enakan berendam di dalam danau itu." Altran begitu santai dalam perkataannya membuat Indra terlihat sedikit kesal bahwa ucapan pria yang duduk di sampingnya itu menyinggungnya. "Hah!! jadi kau hanya menonton saja dan membiarkan ku seperti seekor kelinci yang masuk dalam perangkap! Ooh ... jadi kau juga membiarkan Ricky dan Mary dibawa oleh mereka?!" balas Indra, dia menatap tajam kearah Altran yang masih menunjukan raut wajah datarnya. "Aku punya rencana sendiri untuk mengungkap misi sebenarnya dari para kelompok itu. Sampai-sampai mereka dengan berani mengikuti mu masuk kedalam wilayah ku. Maaf saja, aku tidak senekat dirimu yang dengan mudahnya masuk dalam permainan musuh dan juga telah membiarkan anak dan kekasihmu di bawa, itu memang rencanaku, Indra! Kau pikir aku tidak mengenal sifat mu." Penjelasan Altran membuat semua yang ada di dalam ruangan itu terdiam dan tatapan tertuju kepada Indra. Indra tersenyum tipis dan membenarkan apa yang diucapkan oleh Altran. Kini Indra memperlihatkan kemana Ricky dan Mary di bawa. Sebuah sarung tangan yang dikenakan oleh Indra kini dengan lensa kecilnya menyorotkan tampilan sebuah layar hologram digital map dan menunjukan letak titik di mana keberadaan Ricky dan Mary kali ini di bawa. Dia memang memasang sebuah alat pelacak di dalam sepatu Ricky yang dikenakannya sebelum berangkat pergi bersama di pagi itu. "Ku akui instingmu itu, Al!" ucap Indra. "Heh!! sedikit saja kau salah perhitungan, game over Indra!!" tegas Altran. "jadi sekarang semua sudah jelas bahwa misi mereka kali ini bukanlah ingin menaklukan kau, melainkan hanyalah sebuah strategi sebagai pengecoh saja?!" tanya Yakashi. "Hmm ... ini sedikit rumit. Tapi, yang jelas musuh sudah mulai kembali dengan beraninya beraksi di wilayah kita, kali ini aku akan mengeluarkan misi tingkat A untuk Kapten Indra dan juga Kapten Altran," jelas Ryuga sembari dia berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri dinding yang menampilkan sebuah layar cukup besar dan menunjukan wilayah kemana tujuan musuh sebenarnya. Prof. Lee masih dalam diamnya, dia bergelut dalam pikirannya siapa pencipta pil yang ditemukan oleh Altran saat melumpuhkan sekelompok Bulan Kegelapan. Dia hanya menduga-duga bahwa orang dengan kemampuan seperti itu adalah sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu selalu bersamanya baik di kala susah maupun senang. "Sudah lama kau tidak ada kabarnya sobat, setelah kejadian itu ..." gumam batin Prof. Lee, dia teringat kembali di masa-masa hangatnya kebersamaan dengan sahabatnya itu dan juga terlintas perselisihan di antara mereka berdua dahulu kala. "Prof, kau tidak apa-apa kan?" tanya Ryuga membuyarkan lamunan Prof. Sheo Lee. "Hah? aku tidak apa-apa. Aku hanya terpikirkan sesuatu yang mungkin saja orang yang melakukan eksperimen dengan sebuah pil itu. Bahkan dengan sengaja memamerkan kekuatan baru ciptaannya adalah Arter Brock." Meski sedikit ragu dalam ucapannya, namun Prof Lee mencoba untuk tetap tenang kali ini. Melihat dari pergerakan kelompok Bulan Kegelapan yang kini menuju kesebuah kota yang dahulunya pernah ditinggalkan oleh para penduduknya karena sebuah virus hitam dan mematikan tersebar di kota itu hingga memakan ribuan korban dikala itu, sekarang kota itu disebut kota mati tak berpenghuni. Namun sejak adanya kelompok Bulan Kegelapan, kali ini kota itu menjadi sebuah markas utama untuk mereka tempat tinggali. Setelah semua selesai menyusun rencana dan strategi, hingga misi tingkat A akan di jalankan oleh pasukan Kapten Indra dibantu oleh Kapten Altran dan memulai misinya pada esok pagi. Kini beralih ke situasi di mana Ricky dan Mary yang masih dalam sebuah pesawat menuju perjalanan cukup panjang ke sebuah kota mati. Tangan dan kaki Ricky begitu juga Mary terikat dengan jeratan tali yang cukup erat bahkan jeratan di tangan dan kaki mereka disatukan hingga akan menyusahkan dalam bergerak bebas. Keduanya kali ini dalam posisi berbaring di kursi bersampingan. Setelah cukup lama terlelap karena dalam keadaan tak sadarkan diri, kini anak kecil itu membuka kedua matanya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat tangan dan kakinya terikat hingga membuatnya kesulitan bergerak ingin bangun dari tempat dia berada kali ini. "Apa apaan ini! kenapa tangan dan kaki ku terikat seperti ini, gawat!! yang benar saja dan sekarang ada dimana ini!" Tubuh Ricky yang terikat cukup erat itu membuatnya kesusahan dalam bergerak bebas. Namun saat dia mencoba menggerak-gerak tubuhnya ingin bangun dari posisi duduknya, tiba-tiba seorang pria datang untuk melihat keadaan situasinya kali ini. Badannya yang sudah mau berdiri dengan terpaksa kembali duduk dan merebahkan tubuhnya lagi. Berpura-pura masih dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri dan kali ini dia memejamkan kedua matanya. Seolah-olah masih terlihat pingsan, namun pada kenyataannya dia begitu pandai bermain petak umpet. Sesekali dia mencoba melihat situasi dengan membuka sebelah matanya dan kembali memejamkan matanya lagi ketika seorang pria penjaga itu mendekati dimana dia dan Mary berada. "Iissh, menyebalkan!! kenapa bisa-bisanya aku berada dalam keadaan seperti ini sih! perut ku laper lagi. Emm ... apa aku harus minta makanan yah sama orang itu?!" gumam batinnya, namun saat dia menoleh kearah Mary. Dia terpaku akan kecantikan wanita yang ada disampingnya kali ini Wajah yang cantik alami masih dalam keadaan tak sadarkan diri, namun anak kecil itu begitu terpesona akan kecantikan wanita yang ada disebelahnya. Melihat dari wajah, mata lentiknya dan bibir merah ranumnya hingga turun sampai melihat kebagian tangannya yang juga terikat sebuah tali, membuatnya membulatkan kedua matanya. "Eeeh, kenapa wanita ini juga terikat tali?" Dia bertanya-tanya keheranan, namun dia berinisiatif untuk membangunkan wanita yang ada disampingnya itu. Perlahan dia beberapa kali meniup wajah cantik itu, namun masih belum juga dapat membangunkannya. Hingga dia mencoba melihat keadaan sekitar terlebih dulu untuk memastikan bahwa tidak ada seorang penjaga yang lewat kali ini. "1 ... 2 ... 3!!!" Anak kecil itu membenturkan kepalanya ke dahi Mary yang berada disampingnya dan membuatnya meringis kesakitan hingga membuka kedua matanya. "Aww ... sakit tau!!" Spontan Mary terkejut dan bersuara merasakan sakit di dahinya, namun ketika dia melihat kearah anak kecil yang ada disebelahnya dan memberikan isyarat kepada Mary untuk tidak berisik dan tetap tenang. "Sssssttt!!" "Ricky? kenapa kita bisa ada disini?" "Hmm, Ricky??" "Iyaa kamu, Ricky! siapa lagi kalau bukan kamu!" Mereka saling berbisik agar tak terdengar suara oleh penjaga yang ada disana. "Hmm ... sepertinya Ricky sedang bermimpi," ucap Rocky sembari tersenyum lebar hingga menampilkan jejeran gigi putihnya. "Hah?! Kamu tidak apa-apa kan Ricky?" tanya Mary mencoba menyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang diucapkan oleh anak kecil yang ada disebelahnya itu. Dia merasakan sesuatu yang memang berbeda dari cara bicara Ricky sebelumnya. "Panggil saja Rocky," bisik Rocky dan tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya. Meski Mary masih merasa kebingungan dengan apa yang terjadi saat ini, apa lagi mereka berdua dalam kondisi tidak baik-baik saja bahkan tangan dan kakinya terikat. Menempuh perjalanan yang cukup panjang memakan waktu 1 hari untuk sampai ketempat tujuan kali ini. Kini pesawat yang membawa Rocky dan Mary sudah mendarat dan sampai di sebuah kota yang benar-benar terlihat sepi. Tanpa ada seorangpun terlihat di sana, hanya bangunan-bangunan tua bahkan terlihat di sepanjang jalan kota dan beberapa gedung apartemen ditumbuhi rumput-rumput liar dan juga ada akar pohon besar terlihat melingkar di sebuah gedung. Mary dan Rocky bersama dengan beberapa pria yang membawanya, kini mereka sudah sampai dan berdiri tepat di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Namun gedung itu terlihat berbeda dari bangunan yang ada disekitarnya. Salah satu pria maju mendekati pintu yang mana ada sebuah tombol dan monitor kecil untuk memasukkan kata sandi dan pintu gerbang pun terbuka. Rocky dan Mary terperangah ketika mereka masuk dan berjalan sembari melihat-lihat sekeliling gedung begitu nampak seperti sebuah kota bahkan orang-orang yang tadinya tidak terlihat seorangpun dari luar, sekarang banyak orang-orang berlalu lalang berjalan bahkan melihat kearah Rocky dan Mary dengan tatapan sinis. Ternyata orang-orang ini melangsungkan hidup dan bertahan dari wabah virus yang di perkirakan masih ada diluar sana. Masih mengikuti kelompok pria yang membawa mereka berdua dan memasuki ke sebuah lift dan menuju bagian lantai paling atas untuk menemui seseorang. "Permisi, kenapa kami dibawa kesini? Memangnya ada apa? kalau mau mengajak kami kesini, kalian bertiga harusnya lebih sopan." Belum habis Mary berbicara, ucapannya di sela oleh pria yang ada di sebelahnya. "Kau diam saja!! nanti kau juga akan tahu sendiri setelah bertemu orang itu!" tegas pria yang berdiri disamping Mary. "Paman, apakah di sana nanti banyak makanannya? aku sudah laper sekali," rengek Rocky menahan perutnya yang sedari tadi berbunyi. "Iyaa, aku juga laper! Apa kalian tak merasa tega memperlakukan seorang wanita dan anak kecil kelaparan begini! Kami sudah sangat kelaparan dari kemarin tau!" tambah Mary. "Berisik!! jangan buat aku kesal, sebenarnya aku juga tidak ingin melakukan misi ini, tetapi kami juga ingin merasakan udara segar seperti kalian yang bisa enak-enakan berada di kota sana tanpa harus khawatir akan sebuah penyakit seperti kami." Ucapan salah satu pria yang berdiri didepan membuat Mary dan Rocky saling bersitatap satu sama lain. Pintu lift terbuka menunjukan sudah sampai ke lantai yang dituju, lantai paling atas adalah ruangan khusus yang hanya boleh ditempati oleh sang pemimpin. Kini mereka berjalan menuju pintu yang ada di depan sana. Salah satu pria mengetuk pintu dan melihat kearah kamera CCTV yang berada disudut atas sebelah kanan terpasang di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN