Arter Brock

1509 Kata
Perjalanan yang cukup melelahkan bagi Rocky dan Mary, apalagi mereka berdua tidak diberikan makanan ataupun minuman dari kemarin. Dengan perasaan bercampur aduk mereka berdua, Rocky dan Mary terpaksa mengikuti beberapa pria yang membawanya sampai masuk ke sebuah bangunan yang cukup besar terlihat dari luar dan bagian dalam nampak luas. Beberapa orang dewasa dan anak kecil terlihat di sana meski pakaian mereka terlihat lusuh, saat kehadiran Rocky dan Mary memasuki gedung itu mereka semua memperhatikan dengan tatapan sinis. Hingga memasuki ruangan lift dan setibanya di depan pintu yang di mana letaknya berada di lantai paling atas. Pintu pun terbuka secara otomatis setelah salah satu pria menatap CCTV berada di sudut atas sebelah kanan. Rocky dan Mary dipersilahkan masuk ke dalam ruangan itu, namun ketiga pria yang membawa mereka tidak ikut masuk melainkan hanya berjaga di luar saja. Masih dengan perasaan was-was, Mary mencoba memberanikan dirinya memasuki ruangan itu, namun siapa sangka Rocky sudah masuk terlebih dulu tanpa menunggu Mary yang masih khawatir akan perasaanya saat ini. "psst ... psst ...! Ricky ... Ricky ... iiihh dasar, Rocky!!" Setelah Mary memanggil nama Rocky, barulah anak kecil itu menoleh kearah Mary membuatnya jadi geram. "Iyaa ..." jawab Rocky dengan kepolosannya. "Kenapa dengan dia? perasaan kemarin anak itu baik-baik saja, tapi sekarang ..!" gumam Mary Saat Mary beberapa langkah masuk ke dalam ruangan itu, tiba-tiba pintu tertutup otomatis dan membuatnya sedikit terkejut. Meski dengan perasaannya yang masih was-was takut akan terjadi sesuatu hal yang tak di inginkan oleh Mary. Namun melihat tingkah anak kecil yang ada di sana, dia begitu santai dan tak nampak rasa takut di raut wajahnya bahkan melihat-lihat seisi ruangan itu. Terlihat di sudut ruangan sebelah kiri nampak beberapa alat sains lengkap dengan bahan cairan zat kimia yang sudah mengisi berbagai macam gelas-gelas corong layaknya seperti sebuah ruangan laboratorium. "Ooh ... rupanya tamuku sudah datang yaah!" Suara seorang pria mengejutkan Rocky dan Mary. "Huh!! bikin kaget saja," gerutu Rocky. Ketika dia menoleh kearah pria itu, Rocky seperti mematung. Mary yang melihat Rocky terdiam bahkan tatapannya tak berkedip sedikitpun, dengan segera dia menghampiri anak itu dan mendekapnya. "Hahaha ... seperti apa yang ku duga." Pria itu mengucapkan hal yang tak dipahami oleh Mary dan Rocky. "Maksud anda apa?" tanya Mary dengan heran. "Kau lihat mata anak itu?" jawab pria itu sembari dia berjalan menuju peralatan sains nya. Meski Mary merasa bahwa anak ini terlihat seperti ketakutan tapi tidak nampak dari raut wajah Rocky yang seakan-akan seperti terhipnotis oleh pria di sana. "Rocky ... Rocky ..! ada apa dengan mu, sayang? Ibu ada di sini bersamamu." Mary mencoba menenangkan Rocky yang semakin lama dia terlihat begitu berkeringat. Tanpa sepatah kata pun Rocky mencoba menunjuk sesuatu yang di lihatnya, meski dengan perlahan telunjuk tangan kanannya mengarah kepada pria yang ada disana. "Hmm ... luar biasa!" gumam batin pria itu yang mengenakan pakaian berjubah putih kaos hitam dan mengenakan celana panjang berwarna hitam, terlihat seperti seorang profesor. "Apa yang kamu lihat, Rocky?!" tanya Mary sembari memegang kedua pundak dan berhadapan menatap wajah Rocky. "Di ... dia bukan manusia!" Rocky menjawab dengan terbata-bata. "Hah?? kamu tidak bercanda, 'kan?" tanya Mary lagi, tetapi kali ini dia mencoba melihat kearah di mana pria itu kini berada. "Heh! kau tak perlu khawatir tentang aku" "Siapa anda sebenarnya dan kenapa kami di bawa ke sini?" "Baiklah ... baiklah! pertama aku akan memperkenalkan diri terlebih dulu. Aku Arter Brock, alasan ku membawa kalian hanya ingin ... emm, lebih tepatnya aku menginginkan anak itu! saat aku mengamati dari kamera pengintai ku, aku berpikir lebih baik membawa kalian berdua. Ada sesuatu yang istimewa, mungkin saja dia bisa membantu kami menangani wabah virus yang masih tersebar di kota ini." Penjelasan Arter membuat Mary mengangkat sebelah alisnya dia tidak memahami maksud dari perkataan pria itu. "Sejak kapan dia mengintai ku dan anak ini? jangan-jangan sejak awal dari pertemuan ku dengan Ricky, pada saat Indra membawa ..." Mary mencoba mengingat-ingat awal pertemuannya dengan Ricky. Seekor capung terbang dan hinggap di tangan Mary, namun serangga itu bukanlah serangga biasa melainkan robot mini yang di lengkapi dengan sebuah lensa kecil kamera pengintai yang begitu canggih. Ketika Mary ingin mengamati lebih jelas capung itu, terdengar ketukan pintu dari luar hingga robot serangga itupun terbang. Tiga gadis cantik masuk kedalam ruangan dan membawakan beberapa menu masakan di atas meja dorong. Kini Arter Brock mengajak Mary dan Rocky untuk makan bersama dan menuju ke meja makan yang sudah di siapkan oleh ketiga gadis tadi. Meskipun Mary masih ragu-ragu untuk mengikuti ajakan pria itu, namun dia dan Rocky merasa tak berdaya ketika rasa lapar sudah tak tertahankan lagi. Berjalan perlahan menghampiri meja makan bersama dengan Rocky berjalan lebih dulu darinya. Arter Brock tersenyum tipis melihat seorang gadis dan anak kecil mau makan bersama dengannya. "Silahkan makan, jangan sungkan. Makanan ini bagus untuk pertumbuhan kamu." Arter menawarkan sebuah masakan menu sayuran kepada Rocky. "Hmm ... aku tidak mau memakannya, sebelum anda terlebih dulu memakan sayuran itu," ucap Rocky, dia masih menatap tak henti-hentinya sedari awal melihat Arter Brock. "Haha ... boleh juga tingkat kewaspadaan mu, bocah! baiklah aku yang akan menyicipi terlebih dulu." Arter mengambil beberapa masakan yang tersedia diatas meja makan dan di muat ke piringnya untuk menyicipi. Rocky masih memperhatikan pria yang duduk berseberangan dengan dirinya. Mary sesekali menoleh kearah Rocky yang terlihat sangat berhati-hati dengan pria itu. Arter dengan santainya dia menikmati semua menu makanan yang ada di meja, dia mencoba meyakinkan anak itu dan gadis yang ada di sampingnya bahwa makanan yang tersedia kali ini benar-benar sehat untuk di makan oleh mereka. "Hmm ... kalian benar-benar tidak ingin makan? yaa sudah, aku tidak akan memaksa kalian berdua, tapi apakah kalian bisa bertahan dengan perut yang kosong seperti itu?" tanya Arter sembari mengunyah makanannya, membuat Mary dan Rocky saling menatap satu sama lain. Rocky menelan saliva nya rasa lapar yang tak tertahan lagi, dia pun mengambil beberapa makanan dan memakannya dengan sangat lahap. Meski dengan perasaan sedikit ragu Mary mencoba mengambil makanan dan menikmatinya. Setelah selesai dengan aktivitas makan bersama. Arter Brock mengajak mereka berdua untuk berkeliling dan memperlihatkan beberapa ruangan seperti tempat belajar dan bermain anak-anak, ruang pengobatan, ruang memasak, sampai ke sebuah tempat dimana terlihat begitu banyak tanaman herbal dari yang mudah di dapat sampai pada herbal paling langka. Meski sorotan mata dari orang-orang yang ada disana menatap kepada Mary dan Rocky masih dengan tatapan sinis nya. "Aku berstatus penduduk asli kota ini. Dulunya kota ini sangat indah dan damai, hingga suatu hari dari wilayah kota bagian barat, kepulan kabut asap berwarna hitam keluar dari sebuah dinding dimensi bercahaya. Yaa ... sekarang ku sebut itu adalah Dimensi Iblis dan kini menjadi sebuah petaka bagi kami semua di kota ini." Arter berjalan sembari menceritakan asal mula terjadinya kehancuran kota yang kini terlihat porak poranda. "Lalu apa hubungannya dengan membawa kami kesini?!" tanya Mary. "Hmm ... bukankah sudah ku bilang dari awal, yang ku inginkan anak yang ada di sana itu dan sepertinya dia tidak bisa jauh darimu," jawab Arter sembari memperhatikan Rocky yang melihat-lihat tanaman unik di sana. "Itu karna aku menyayanginya..!" tegas Mary. "Hoo ... manis sekali. Memang rasa sayang seorang wanita bisa meluluhkan perasaan anak-anak seperti dia," ucap Arter tersenyum tipis. "Kalau memang anda menginginkan Rocky, kenapa harus dengan cara di bius, di jerat tangan dan kaki, bahkan kami kelaparan sepanjang perjalanan! Bisa lihat sendiri kan, bagaimana tatapan tajamnya tanpa lengah sedikit pun. Tentunya anda tidak bodoh kan?!" ucap Mary menumpahkan rasa kesal atas perlakuan Arter Brock selama ini. Namun pria itu hanya tersenyum tipis. "Aku melakukannya untuk mengetahui perkembangan emosionalnya." "Apa anda gila!! Dia sudah cukup menderita ..." "Yaa ... aku sudah tau semuanya, bahwa anak itu memanglah istimewa." "Dasar aneh!" Mary berjalan menjauh tanpa mendengarkan lagi ucapan Arter dan dia menghampiri Rocky yang tengah asyik memperhatikan tanaman langka. Saat tengah asyik melihat-lihat beberapa tanaman herbal yang berada di ruangan khusus. Tiba-tiba bunyi alarm cukup nyaring dan terdengar suara seseorang di balik speaker terlihat di bagian sudut ruangan, meminta bantuan kepada Arter Brock untuk segera datang ke lokasi. Arter bergegas keluar dari ruangan dan segera dia menuju lokasi yang di maksud. Mary dan Rocky tertegun melihat Arter berlari menghampiri seseorang yang butuh bantuannya. "Bu, apa yang terjadi?" tanya Rocky. "Entahlah, tapi sepertinya kita bisa memanfaatkan situasi ini untuk pergi dari sini!" seru Mary sembari dia melihat keadaan sekitar untuk memastikan berharap bisa keluar tanpa ada yang menyadarinya. Namun Rocky menahan tangan Mary dan membuatnya heran. "Bu ... aku merasakan banyak kesedihan dan harapan di dalam sini. Bolehkah aku ikut membantu mereka, Bu?!" ucapan Rocky yang tak pernah terpikirkan oleh Mary membuatnya tertegun. "Apa yang kamu rasakan Rocky?!" Mary berjongkok mencoba bertanya dengan lembut. "Hmm ... aku juga tidak tau Bu, tapi bisa merasakan dari setiap tatapan mereka. Mereka ingin menangis namun tak berair mata, mereka ingin berteriak namun tak bersuara, bahkan meminta pertolongan pun kepada siapa? Paman Arter tadi ... dia bukan manusia karena dia tidak memiliki detak jantung dalam tubuhnya lagi, Bu ..!" jelas Rocky membuat Mary tertegun mendengarnya. "Jadi maksud kamu pria itu sudah banyak berkorban untuk orang-orang yang ada disini?" tanya Mary, dia ingin mendapatkan kejelasan apa yang di ucapkan oleh Rocky.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN