Rocky berdiri tegap dan tersenyum mengangguk membenarkan apa yang di ucapkan olehnya. Mary pun hanya bisa menghela nafas, dia tidak mengerti apa yang bisa dilakukan oleh anak kecil ini bahkan usianya masih sangat muda.
Segera Rocky keluar dari ruangan di ikuti oleh Mary dari belakang. Mereka berdua memasuki lift dan menuju lantai 10 blok C. Mary merasa anak yang berada disampingnya kali ini memang lah bukan Ricky yang kemarin, dia kembali memperhatikan dari rambut, mata, raut wajahnya hingga pada saat berbicara sangatlah berbeda. Terlebih lagi sifatnya menjadi lebih berani dari sebelumnya.
"Rocky.."
"Hmm.. Iyaa,"
"Emm ... Tidak apa-apa," Mary hanya bisa tersenyum ketika Rocky menoleh kearahnya.
Lift sudah sampai di lantai 10 blok C. Saat pintu lift terbuka, mereka di kejutkan Arter dan beberapa orang membawa seorang anak kecil dengan tandu darurat. Refleks mereka berdua memberikan ruang untuk Arter dan juga beberapa orang yang terlihat cemas mengkhawatir kondisi anak kecil yang terbaring lemas itu.
Rocky memperhatikan anak kecil yang terbaring lemas di tandu itu. Usianya yang hampir sama dengan dirinya, dia mencoba mendekat ingin lebih jelas apa yang dilihatnya. Urat nadinya begitu nampak bahkan berwarna hitam da sudah hampir menjalar di sekujur tubuh anak itu.
"Namanya Edo. Dia hampir seusia kamu." ucap Arter membuat Rocky mengurungkan niatnya ketika ingin menyentuh tangan Edo.
Kini lift sudah sampai di lantai tempat ruangan medis berada. Dengan segera mendorong tandu, sesekali Edo meringis kesakitan di sekujur tubuhnya dan hela nafasnya pun tak beraturan. Debaran detak jantungnya semakin kencang.
Rocky dan Mary mengikuti dari belakang, namun saat ingin masuk ke ruangan darurat mereka di cegat oleh penjaga yang bersiaga di depan pintu masuk ruangan medis.
"Kenapa? Tidak bolehkah membantunya!" Rocky menatap kepada dua orang yang berjaga di depan pintu masuk.
"Memangnya apa yang bisa di harapkan dari mu? Kau lihat kan, bocah yang sudah sekarat itu. Dia sudah tak bisa di tolong lagi, sekalipun penyihir Arter menggunakan magic nya." Salah satu penjaga itu tersenyum mengejek Rocky.
"Magic? Penyihir? Maksudnya apa?" tanya Mary, dia tidak memahami mengapa Arter disebut seperti itu.
Rocky terlihat geram, dia ingin sekali menerobos melewati kedua penjaga itu. Sepintas dia memiliki ide meski hanya bergurau saja.
"Paman tahu, wabah sekarang sudah masuk dan akan menyebar di seluruh ruangan ini beberapa jam lagi lho." Rocky mengedipkan matanya kearah Mary.
"Dasar bocah, buat ku ingin sekali mencubit pipinya," gumam batin Mary, dia benar-benar semakin gemas dengan tingkah Rocky yang seringkali mengedipkan matanya.
Mendengar hal itu, kedua penjaga saling menatap satu sama lain. Meski meragukan ucapan anak kecil yang berdiri tepat di hadapan mereka kali ini. Saat hendak berbalik bertanya tentang apa yang diucapkan oleh Rocky tadi.
Suara alarm kembali berbunyi, namun kali ini menandakan bahwa ada sekelompok orang menyusup memasuki wilayah kota. Hampir di sekeliling setiap sudut kota terpasang alat pendeteksi pelacak yang berupa sensor laser.
Kedua penjaga yang tadinya berdiri di hadapan Rocky dan Mary, kini pergi dan beranjak dari posisinya begitu saja tanpa memperdulikan lagi apa yang di inginkan oleh anak kecil dan gadis itu.
"Ayoo!! Ini kesempatan kita untuk masuk." Rocky menarik tangan Mary.
Namun saat masuk dalam ruangan medis itu, sungguh hal yang tak pernah di bayangkan oleh mereka berdua. Terlihat bongkahan batu cukup besar dan bercahaya orange dalam sebuah wadah khusus, bahkan pipa selang khusus untuk menyalurkan energi Lifestone kini di alirkan ke tubuh Edo.
Tubuh kecil Edo mengejang dengan urat-urat nadinya terlihat di sekujur tubuhnya berwarna hitam mengerikan.
"Payah! Reaksi pil yang ku ciptakan tak berpengaruh sama sekali." Arter terlihat kesal, hingga dia membuka bajunya dan nampak bagian dadanya sebuah benda kecil bersinar.
Mereka yang menyaksikan langsung terkejut saat Arter membuka bajunya. Bukan hanya bagian dadanya, melainkan di sekujur tubuhnya yang juga nampak urat-urat hitam seperti anak kecil yang terbaring di sana.
"Anda ... terjangkit virus itu juga?"
"Heh, dasar bodoh! Semua orang yang bertahan hidup di dalam gedung ini sudah terjangkit dan hanya menunggu giliran saja lagi" Tatapan Arter membuat 2 orang yang menemaninya sedari tadi, kini terdiam membisu.
"Jadi apa yang kamu ucapkan tadi..." Saat Mary melihat ke arah Rocky yang tadinya berdiri di sampingnya, kini tertunduk dan duduk di sudut tak sadarkan diri. Seketika Mary histeris memanggil-manggil nama Rocky dan Ricky, menyentuh pipi anak kecil yang tadinya terlihat mengemaskan kini membuatnya terlihat panik sekali.
Kali ini di sebuah alam bawah sadar yang cukup gelap dan suram, Rocky berjalan di atas genangan air dan melihat dari kejauhan sesosok anak kecil yang duduk termenung sembari memeluk kedua kakinya.
"Huh, rupanya kau disini bocah cengeng."
"Biarkan ku sendiri, jangan ganggu!"
"Oh begitu yaa ... enak sekali dirimu, ketika dalam kesulitan justru aku yang harus menghadapinya."
"Bukankah kamu juga menikmati makanan di luar sana?!"
Penuturan Ricky membuat Rocky geram dan memukul cukup keras di bagian kepala hingga mengadu kesakitan.
"Yang ku maksud bukan tentang makanan, bodoh!!" Rocky meraih dan menarik kerah baju Ricky.
"Cih!! Apa kerjaan mu hanya menangis dan menangis, hah?!"
"Aku takut, aku tidak kuat seperti mu,"
"Heh, aku baru sadar sekarang. Bahwa ayah memiliki seorang anak pengecut seperti dirimu," Rocky memalingkan wajahnya dan berbalik ingin menjauhi Ricky masih terlihat matanya berkaca-kaca.
Namun saat hendak melangkahkan kakinya, Ricky menahan tangan Rocky. Tanpa menoleh sedikitpun kepada Ricky, dia menarik paksa tangannya kembali dan melepaskan genggamannya.
"Apakah kamu akan meninggalkan saudara mu ini?" Lagi-lagi Ricky berhasil menghentikan langkah anak kecil yang hampir mirip dengannya, namun yang membedakan di antara mereka berdua adalah sifat dan kemampuannya.
"Saudara ... kata mu ..? Jangan bercanda! Di saat aku butuh pertolongan mu, di mana kata saudara itu kau simpan hah!! Bahkan kau hanya menunjukan air mata cengeng mu itu setiap kali berhadapan dengan ku. Kau lihat di luar sana kan, begitu banyak orang-orang yang saat ini membutuhkan pertolongan mu!" Mendengar perkataan dan melihat kearah Rocky dengan tatapan tajamnya membuat Ricky tertunduk dan terdiam tanpa sepatah katapun.
Sejenak mereka berdua terdiam, tidak ada lagi perseteruan antara 2 jiwa yang berbeda sifat dan tingkah laku.
"Kalau memang kau tak sanggup memikul beban, biar aku yang akan mengambil alih sepenuhnya raga mu kali ini." Mendengar hal itu, Ricky mendongakkan kepalanya dan melihat kearah Rocky.
"Lalu bagaimana dengan ku?"
"Orang pengecut seperti mu, tidak di butuhkan di luar sana!"
Ketegasan Rocky sudah berada di tahap emosinya.
"Aku merindukan ibu dan ayah." Rengek Ricky meneteskan kembali air matanya.
Mendengar hal itu, Rocky dilanda emosi yang tak tertahankan lagi. Dia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat dan berbalik badan, kali ini sorotan mata biru terpancar jelas menatap tajam kearah saudaranya yang menangisi kedua almarhum orang tua mereka.
Rocky yang terlihat emosi, dia berjalan mendekat dan melayangkan tangannya, seakan ingin memukul wajah Ricky. Refleks Ricky menutup kedua mata juga kedua tangan berupaya melindungi bagian kepala dan wajahnya. Namun hal yang tak terduga, bukan lah sebuah pukulan melainkan sebuah pelukan yang di berikan Rocky kepada saudaranya Ricky.
"Bukan hanya kau yang merindukan mereka, bodoh! Namun tekad kuat ayah dan kelembutan ibu, ada dalam jiwa dan akan terus mengalir kenangan singkat bersama mereka. Apa yang kamu rasakan, juga aku rasakan saat ini. Kau tak perlu merasa kesepian, karena aku tercipta untuk menemani mu sampai akhir, saudara ku.." Ricky tertegun mendengar semua ucapan dan perasaan Rocky yang disampaikannya juga melalui sebuah pelukan.
Seketika alam bawah sadar yang awalnya terlihat gelap dan suram, kini perlahan cahaya yang terpancar dari 2 jiwa yang saling menguatkan dan melindungi, merubah suasana menjadi hangat dan terang benderang.
"Apakah kau yakin, aku bisa menolong mereka?"
"Hmm, aku yakin sekali."
"Tapi aku ...."
"Percayalah pada dirimu sendiri!" Rocky menepuk kedua bahu dan meyakinkannya, sembari tersenyum tipis memberikan semangat kepada Ricky.
Ketika harapan Arter sudah tak memungkinkan lagi untuk menghentikan penyebaran virus ke jantung Edo. Tiba-tiba Ricky yang tadinya terbaring lemas di pangkuan Mary, kini dia berdiri perlahan tanpa berkata sedikitpun dan berjalan mendekati Edo yang dalam kritis hampir tak tertolong lagi.
Mary ingin mencegah Ricky yang menghampiri pasien itu, namun dia di hentikan oleh 2 orang yang berada di sekitar sana atas perintah Arter Brock.
"Kau cukup melihat dari sana! Semakin dekat ke sini, akan semakin berbahaya!" seru Arter membuat Mary berhenti berontak saat ingin menghampiri Ricky. Arter Brock yakin bahwa anak yang di inginkannya kali ini benar-benar membawa harapan besar.
"Tapi bagaimana dengan Ricky.."
Cahaya biru seperti perisai pelindung, kini mengitari Ricky. Dia berjalan dengan tekad keberaniannya, hampir sampai ke tempat Edo yang terbaring mengerang kesakitan. Mengangkat kedua tangannya dan membuka kedua telapak tangan menghadapkan ke arah Edo. Kedua telapak tangan Ricky juga bersinar terang dan meletakkannya ke salah satu bagian tubuh Edo yang sudah benar-benar di ambang kritis.
Perlahan urat-urat hitam yang tadinya begitu nampak di sekujur tubuh, kini memudar bahkan deru nafas Edo berangsur membaik. Denyut detak jantungnya mulai stabil kembali, meski keringatnya begitu membasahi tubuh kecil Edo.
"Luar biasa! Ini sungguh ... benar-benar menakjubkan. Selain menangkal virus yang ingin menyerangnya, dia juga mampu melenyapkan virus yang sudah menyebar luas di tubuh Edo. Bahkan pil ciptaan ku saja tak mampu menaklukan virus hitam itu." Arter Brock takjub akan keberhasilan Ricky dalam menyelamatkan Edo yang hampir tak tertolong lagi.
Perlahan Edo mencoba membuka kedua matanya dan melihat kearah Ricky yang tersenyum lebar, dia merasakan lega dalam hatinya karena mampu mengatasi perasaan takut yang selalu menghantuinya.