Awalnya Mary sempat keheranan saat Ricky bangun, berdiri dan berjalan tanpa menyapanya terlebih dulu. Namun di sisi lain dia tahu bahwa Arter saat itu menghadapi harapan tipis yang tak memungkinkan bisa menyelamatkan nyawa seorang anak kecil.
Berkat Ricky, semua hal yang tak terduga bahkan di detik-detik kritisnya Edo, dengan kemampuan di luar nalar manusia dia membuat semua orang yang ada di ruangan itu takjub melihatnya. Kini nyawa Edo benar-benar terselamatkan, bahkan tak ada terlihat sedikitpun tanda-tanda virus di tubuhnya.
Saat Edo hendak bangun dari tempat dia berbaring.
"Beristirahatlah ... kamu masih belum pulih sepenuhnya," ucap Mary dengan lembut, dia sudah berdiri di samping Ricky.
Ricky tersenyum mengangguk, dia membenarkan apa yang di ucapkan oleh Mary. Kini Arter memeriksa denyut detak jantung Edo, ingin memastikan kesembuhan yang belum pernah dia jumpai dari sekian banyaknya pasien yang di rawatnya dulu.
Untuk memastikan kesembuhan total pada Edo, kini Arter menggunakan alat medisnya. Pancaran laser menyala di mulai dari ujung kaki sampai ke bagian ujung kepala Edo. Tak terdeteksi sama sekali keberadaan virus hitam itu di tubuhnya.
"Terima kasih ..." serak suara Edo.
"Hmm ...." Ricky tersenyum mengangguk.
Mary yang di selimuti rasa penasaran dan begitu banyak pertanyaan dalam benaknya, tentang apa yang di lakukan oleh Ricky tadi. Semua seakan berlalu begitu saja, di tambah lagi melihat tubuh Arter juga tampak mengerikan baginya.
"Pantas saja, dia di sebut penyihir oleh orang-orang tadi," gumam batin Mary.
Keadaan yang sempat di warnai rasa panik dan khawatir, kini sudah berubah menjadi tenang dengan perasaan lega. Namun lain halnya apa yang tengah terjadi di luar gedung. Beberapa pasukan bersenjata yang di pimpin oleh Kapten Indra dan Kapten Altran juga ikut membantu dalam misi kali ini, sudah berada di sekitar kota tempat persembunyian
Pasukan yang ikut dalam misi kali ini hanya berjumlah 6 orang saja, termasuk Indra, Altran, Edwin dan juga prof Sheo Lee. Meski begitu, bawahan yang ikut serta dalam misi penyelamatan adalah mereka yang sudah terlatih kemampuannya. Berpencar dan melakukan tugasnya masing-masing, 2 orang yang bersiaga di atas gedung sebelah bagian selatan dan timur dengan menggunakan senjata sniper.
Di waktu yang bersamaan, sebuah dinding dimensi muncul di sekitar kota dan tak ada satu orangpun yang menyadarinya. Kemunculan sesosok bayangan kaki juga terlihat melangkah keluar di balik dinding dimensi.
Beberapa orang lengkap dengan senjatanya keluar dari gedung dan mengambil posisi siaga. Dari kejauhan Altran sudah mengintai dan akan memulai aksinya.
"Indra, aku akan memulai terlebih dulu." Altran berbicara melalui komunikasi yang sudah terhubung ke semua anggota.
"Dasar si rimba! Seenaknya saja kau ...."
"Kau lambat!!"
"Cih! Semua bersiap!! Jangan ada yang terlewatkan, mengerti!!!"
"Siap ...!" Semua anggota serentak mengucapkannya.
Baku tembak terjadi cukup sengit. Indra menguasai medan pertempuran dan maju melangkah hampir sampai ke bangunan yang di mana Ricky dan Mary berada.
"Mereka sudah mendekati wilayah kita, bagaimana ini, Arter?!" Salah satu anggota menginformasikan kepadanya melalui alat komunikasi radio yang terhubung dengan robot mini miliknya, bahwa mereka dalam keadaan terdesak.
Arter bergegas berlari menuju ruangan kontrol CCTV miliknya. Arter membulatkan kedua matanya, dia tidak menyangka bahwa Indra dan pasukannya berhasil menemukan tempat keberadaannya.
"Gio! Zeep! Jangan biarkan mereka masuk!! Kita telah berhasil membuat anak itu menunjukan kemampuannya dan virus itu benar-benar bisa di lenyapkan olehnya." Dengan singkat Arter memberitahukan bahwa rencana mereka berjalan lancar, bahkan lebih dari perkiraan mereka.
"Okey! Kami akan menelan pil nya." Kedua orang itu tersenyum menyeringai.
Diam-diam Mary mengikuti Arter Brock dan mendengarkan di balik pintu. Mary menaruh rasa curiga setelah apa saja yang dibicarakannya kepada anggota yang tengah berada di luar sana.
Sebelum Arter berbalik dan ingin keluar dari ruang kontrol itu, Mary bergegas lari dan bersembunyi di dalam lemari yang tak jauh berada di sana. Ketika Arter berada di luar dan mengunci pintu ruangan dengan nomer kode, dia sempat merasa ada yang mengawasi dan mencoba mendekati lemari yang sedikit menggangunya. Saat Arter hendak membuka pintu lemari itu, tiba-tiba alarm berbunyi kembali hingga dia mengurungkan niatnya untuk membuka lemari itu.
Segera Arter berlari menghampiri ruang medis. Kini perlahan Mary membuka pintu lemari, meski sedikit kesulitan saat membukanya. Mencoba mengingat-ingat kembali nomer kode yang di lihatnya saat Arter mengunci pintu ruangan kontrol tadi.
"Kalau tidak salah 77600458." Mary tersenyum saat monitornya berwarna hijau.
Kini Mary memasuki ruangan kontrol CCTV dan melihat semua layar monitor yang menampilkan semua sudut ruangan dan juga setiap sudut kota. Mary melihat Indra dan juga beberapa pasukan.
"Dasar lemot, kenapa baru datang ...." Mary tersenyum saat melihat wajah Indra di balik layar CCTV.
Mary tidak menyia-nyiakan waktu berharganya, dia segera mencari tahu dan menelusuri apa saja yang di rahasiakan oleh Arter dan para anggotanya. Beberapa rekaman di putar Mary dan menampilkan Indra yang dulu tengah bertarung melawan sesosok mahkluk mengerikan dan juga menyelamatkan seorang anak kecil yang tidak lain adalah Ricky.
"Ternyata dia mengintai Indra sudah sejak lama, tapi kenapa ...?" Masih penasaran Mary kembali memutar rekaman yang lainnya.
Betapa terkejutnya Mary saat melihat rekaman seorang Ricky mampu menghilangkan asap hitam yang keluar dari 4 mata luka di punggung Indra. Kekuatan Ricky yang terlihat di monitor itu sama persis apa yang disaksikannya di ruangan medis tadi. Kini Mary baru memahami kenapa Arter Brock begitu menginginkan Ricky, seharusnya mengintai Indra tapi justru anak kecil itu menjadi targetnya.
"Meski niatnya baik, ingin menyembuhkan para pasien ... tunggu-tunggu, tapi tadi ku dengar dia mengatakan berhasil. Hmm ... apa maksudnya? Hah!! Jangan-jangan Edo itu di jadikan ...." Saat Mary hendak berbalik dan ingin segera menemui Ricky. Sebuah tepuk tangan seakan memberikan hadiah kejutan yang luar biasa.
"Bagaimana ... semua rasa penasaran mu terjawab, bukan?" Arter tersenyum tipis melihat ekspresi wajah Mary yang terkejut.
"Kau benar-benar gila! hanya ingin mendapatkan hasil yang maksimal, kenapa harus sampai mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah!!" Mary menjaga jarak dengan Arter.
"Hahaha ... kau saja tidak mengerti keadaan mereka, semua yang ada disini sudah terinfeksi virus hitam itu!" Arter berjalan menghampiri tempat kontrol.
Arter menayangkan kondisi kota 20 tahun yang lalu, awal terjadinya bencana virus hitam. Terlihat kota begitu sangat indah dan damai, namun kedamaian itu berubah menjadi mencekam ketika sebuah pancaran cahaya menampakan dinding dimensi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kini muncul di tengah-tengah kota.
Menunjukan pukul 12 siang. Orang-orang yang penasaran mendekati dinding dimensi itu, tiba-tiba seseorang terpental keluar dari dinding dimensi. Cukup jauh terlempar dan menghantam keras beberapa bangunan di sana, hingga menimbulkan kehebohan warga saat itu.
Tak lama kemudian kepulan asap hitam keluar dari dinding dimensi hingga membuat kekacauan yang luar biasa. Orang-orang yang terhirup asap hitam, seketika urat-urat di tubuh langsung nampak dan berwarna hitam mengerikan. Di balik kabut asap hitam, terlihat sepasang bola mata merah menyala, kemudian menghilang bersamaan dengan dinding dimensi yang hanya menyisakan kepulan asap hitam di kota ini.
Sejak saat itu, pemerintah pusat mengungsikan beberapa warganya yang selamat, di ungsikan ke zona yang cukup aman. Namun sayangnya semua warga yang berhasil selamat itu, tetap terinfeksi dalam kurun waktu 7 hari saja. Sudah berbagai upaya di lakukan tetap tak ada hasilnya, membuat berbagai obat herbal dan vaksin tetap saja tak membuahkan hasil, meski virus di tubuh korban tak menularkan ke orang lain.
Mary hanya terdiam membisu tak bisa mengatakan apa-apa lagi setelah melihat rekaman 20 tahun yang silam.
"Saat mengetahui kabar buruk dari asal kota ku, dengan segera aku ingin kembali. Namun saat itu aku bersama dengan rekan-rekan sesama ilmuwan mengerjakan pembuatan pilar raksasa untuk sebuah batu meteor, yang kini disebut Lifestone. Entah kenapa sahabat ku melarang ku untuk kembali ke kota. Kau tahu alasannya kenapa? Karena dia sudah mengetahui kabarnya terlebih dulu. Dia mengatakan seorang ahli pengobatan pun tidak mampu menyembuhkan dengan segala macam obat dan vaksin yang di lakukan di sana. Semenjak itulah aku diam-diam mengambil beberapa bongkahan batu meteor, tapi sayangnya aksi ku di ketahui oleh Sheo Lee, yaa dia adalah sahabat ku." jelas Arter Brock membuat Mary masih dalam diamnya mendengarkan cerita ilmuwan itu, namun pandangannya tetap tak lepas begitu saja menatap Arter.
Ricky masih berada di ruangan medis. Terlihat 3 orang dewasa mengalami hal yang sama seperti Edo tadi. Kemampuan yang di miliki Ricky memang luar biasa, satu persatu dia menghilangkan virus hitam di tubuh 3 orang dewasa, meski perlahan dia mulai terlihat seperti kehabisan nafas bahkan wajahnya berkeringat.
"Ke-kenapa tubuh ku terasa lemas ...?" Ketika Ricky hampir tak kuat lagi berdiri, seketika Edo langsung meraih tangan dan merangkul pundak Ricky.
"Sebaiknya kamu istirahat, kawan." Edo memapah Ricky berjalan menghampiri kursi yang tak jauh dari sana.
Di luar bangunan, sesosok makhluk Kill bertubuh cukup besar melihat ke arah aura yang dipancarkan oleh Ricky tadi. Kini dengan kecepatan luar biasa menuju ke bangunan itu. Hantaman yang begitu kuat langsung menghancurkan tembok bangunan bahkan perisai elektro yang dibuat Arter Brock hancur seketika. Lagi-lagi alarm berbunyi, mengejutkan semua orang yang ada di sana. Arter Brock, Mary, Ricky, Edo dan juga semua orang yang berada di bangunan itu terkejut ketika makhluk Kill menghancurkan dengan goncangan sangat kuat.
Beberapa pasukan menyerang makhluk itu, namun setiap serangan dan tembakan nampak sia-sia di hadapan makhluk Kill.
"Apa yang terjadi di luar sana?!" Arter terkejut saat melihat monitor yang menampilkan sesosok makhluk Kill.
"Ba-bagaimana mungkin ...?" Seketika Arter teringat saat Ricky menyembuhkan luka Indra waktu di kediamannya. Selang beberapa menit, juga ada kemunculan mahkluk Kill keluar dari dinding dimensi persis seperti terjadi saat ini. Dia berpikir pemicunya adalah aura yang di keluarkan oleh Ricky.