Keadaan Krisis

1523 Kata
Meski hanya dugaan saja, tapi Arter Brock sangat yakin bahwa pemicu munculnya makhluk Kill kali ini adalah kemampuan yang di keluarkan oleh Ricky. "Anak itu dalam bahaya!!" Seru Arter mengejutkan Mary yang tertegun saat melihat pria yang tadinya seperti orang jahat, namun kekhawatiran nampak di raut wajahnya dan bergegas menghampiri di mana Ricky berada. Refleks Mary juga ikut bergegas menghampiri ruangan medis. Situasi semakin kisruh ketika makhluk Kill sudah tiba dan menghancurkan lantai bawah langsung menuju ruang medis. Bertubuh cukup besar memiliki tanduk dan ekor panjang, kini berdiri tepat di hadapan Ricky dan Edo yang ketakutan. Tubuh Ricky gemetaran rasa takutnya kembali menyelimuti hati dan pikirannya. Bahkan dia benar-benar teringat kembali cengkraman cakar mengerikan itu. "Kemari lah ...." makhluk Kill itu tersenyum menyeringai. "Ayoo lari!!" Edo menarik tangan Ricky yang terdiam karena rasa takutnya. 15 menit sebelumnya Gio dan Zeep adalah anak buah Arter Brock, kali ini mereka berdua menelan pil yang sudah di siapkan oleh keduanya sebelum kedatangan pasukan Indra. Indra berhadapan dengan seorang pria bernama Gio yang sudah menelan pil dan merubah tubuhnya di kelilingi kilatan listrik. Begitu juga Altran berhadapan dengan pria bernama Zeep yang berubah menjadi manusia baja. Pertempuran yang sengit pun terjadi di antara mereka. Kecepatan bagai sambaran kilat terus menyerang Indra tanpa henti. Indra yang merasa terdesak, dia memukul keras bagian jalan aspal di bawah kakinya hingga mengganggu pergerakan manusia kilat itu. "Heh, kau pikir bisa lari dari ku?!" tanpa ragu Indra menerjang langsung ke arah manusia kilat yang terjatuh akibat hancurnya jalan aspal. Saat pukulan Indra hampir mengenai lawannya, dalam sekejap manusia kilat menghindar dan menyerang balik menendang wajah Indra, meski menggunakan pelindung wajah tetap efeknya cukup keras hingga terpental. Namun gerakan dengan insting kuatnya Indra segera mengulurkan tangan kanan untuk mendarat dan menahan hingga berbalik badan. Gio terkejut akan gerakan Indra yang mulai agresif. Gio tak bisa lagi menghentikan langkah cepatnya yang sudah mendekati Indra. Meski Gio dalam posisi ingin menyerang, akan tetapi Indra sudah terbiasa dalam situasi terdesak dan pukulan telak pun tepat mengenai bagian perut si manusia kilat. Pukulan Indra yang begitu keras membuat si manusia kilat itu terpental jauh dan terhempas ke bangunan di sekitarnya. "Eeeh ... satu pukulan yang mematikan," Prof. Sheo Lee mengambil data pertempuran Indra. Di sisi lain Altran menyerang bahkan serangannya selalu mengenai pria bertubuh baja itu, namun pukulan dan tendangan yang di lancarkan tak berpengaruh sama sekali. "Heh, benar-benar merepotkan sekali!!" Altran mengeluarkan senjata andalan, sarung cakar buasnya. "Hmm, sudah lama ku tak melihat Altran berkelahi seserius ini." Edwin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kebiasaan Prof, Sheo Lee. Edwin bertugas siaga menjaga seorang ilmuwan yang bersikeras ingin ikut bersama meraka dan akhirnya mendapat izin dari Ryuga karena sebuah alasan tertentu. Salah satu anggota Indra melihat suatu pergerakan aneh dari radar yang digunakannya untuk mengetahui lokasi Ricky. "Lapor Kapten, ada sesuatu yang mendekati lokasi Ricky sekarang! Dengan kecepatan luar biasa melaju kearahnya!" Pandangan Indra langsung tertuju ke sebuah bangunan di mana Ricky dan Mary berada. Tak lama kemudian seketika terdengar seperti sebuah ledakan yang cukup keras. "Altran!!" "Haah, jangan berteriak aku tidak tuli!!" "Kau tahan mereka," "Heh, tanpa kau perintah pun tugas ku hanya menemani sampai di sini!" Tanpa memperdulikan ocehan Altran, Indra langsung bergegas menghampiri bangunan yang terdengar sebuah tembakan di dalam sana. "Kris!! Yoga!! Lindungi aku." "Siap ...!" Kedua anggota bersiap melindungi di tempat masing-masing menggunakan senjata sniper. Indra segara berlari dan memaksimalkan kekuatan di kedua kakinya. Si manusia kilat mengejar Indra dan ingin melancarkan tendangannya, namun aksinya di hentikan oleh tembakan Yoga yang tepat mengenai kakinya. "Secepat apa pun kau, tak akan bisa menandingi ketepatan yang ku miliki." Yoga tersenyum tipis, tembakan pelurunya tepat sesuai perhitungan, dia adalah seorang penembak jitu yang handal. Acungan jempol di tunjukan Indra kepada Yoga. Kini Indra sudah masuk ke dalam bangunan, terlihat porak poranda. Dia tertegun ketika melihat banyak sekali orang-orang yang tewas mengenaskan dan bahkan ada terlihat 3 orang anak kecil yang terkulai bersimbah darah tak berdaya lagi di tempat. Indra terlihat geram dan marah sekali, hingga mengepalkan kedua tangannya. Dia mengaktifkan jet pack dan melesat terbang ke arah di mana terlihat sesosok makhluk yang sudah ada di lantai atas.* "Kemari lah ...." Makhluk Kill itu tersenyum menyeringai melangkah maju mendekati Ricky. Ricky yang gemetaran karena rasa takutnya. Ketika tangan makhluk itu hampir meraih Ricky, tiba-tiba ekor panjangnya di tarik paksa oleh Indra dan menghempaskan makhluk Kill ke bawah lantai dasar. Hempasan Indra tidak cukup kuat untuk melempar Kill ke lantai dasar, Kill mampu berbalik badan dan mendapat pijakan di salah satu lantai. "Meski tubuhnya sebesar itu, tapi gerakannya cukup gesit juga." Indra menganalisa gerakan Kill yang berada di lantai bawah tak jauh dari posisi dia berdiri. "Indra ...!" Mary tertegun saat mendapati Indra sudah ada di depan yang menghadang lawannya. "Mary, segera bawa anak-anak pergi ketempat yang aman!" seru Indra tanpa menoleh ke arah Mary, dia tidak ingin mengalihkan pandangannya saat berhadapan dengan makhluk yang siap menyerang kapan saja. Mary melihat ke arah Ricky yang gemetaran, dengan segera dia menggendong di ikuti pula oleh Edo. Mary tak menghiraukan Arter yang terdiam berdiri di samping pintu karena terpaku melihat hancurnya ruangan medis kali ini. Arter Brock yang juga berada tak jauh di sana, dia ingin mendekati Indra namun di cegah salah seorang anak buahnya. "Apa yang ingin anda lakukan! Biarkan orang itu yang membereskannya." Arter mengurungkan niatnya mendekati Indra, namun dia masih saja menggunakan robot mininya aktif mengawasi apa saja yang di lakukan oleh Indra. Wujud yang nampak mengerikan memiliki ekor cukup panjang, lidah yang menjulur keluar bahkan memiliki tanduk di kepalanya. Bertubuh tinggi besar kini siap menyerang dan melompat ke arah Indra. Dalam posisi menyerang, Indra dengan pedang laser nya langsung menerjang ke arah makhluk Kill begitu juga sebaliknya. Mereka berdua saling beradu serangan, hingga ruangan dalam bangunan semakin hancur. Kemahiran Indra dalam mengayunkan pedang sangatlah akurat, namun tetap saja gerakan lawannya lebih gesit dalam menghindari setiap serangan yang di lancarkan oleh Indra. "Aku harus menemukan celah agar bisa mengalahkannya!" Indra mengeluarkan sebuah pedang laser lagi di genggaman tangan kirinya. Kali ini posisi siaganya sedikit berbeda dari sebelumnya. Indra bertarung menggunakan tehnik pedang ganda. Namun Kill yang ada di hadapannya juga mengeluarkan senjata dari kedua lengannya menyerupai pedang sabit. "Oi ... oi, yang benar saja?! Makhluk buruk rupa itu meniru ku!" seru batin Indra, dia terlihat kesal melihat Kill yang ada di hadapannya kali ini juga memiliki sepasang pedang menempel di kedua lengannya bahkan berbentuk sabit. Beradu pedang, serangan dan tangkisan juga kecepatan keduanya seimbang. Keadaan dalam gedung begitu semakin porak poranda akibat sebuah pertarungan sengit antara keduanya. Indra menggunakan kecepatan dan kekuatan maksimal dari armor yang dikenakannya, meski dia tahu bahwa Kill yang menjadi lawannya bukanlah makhluk yang lemah. Mary yang menggendong Ricky dan juga di ikuti oleh Edo, mereka berlari keluar dari gedung. Tak lama kemudian Arter Brock juga menyusul keluar bangunan berserta seorang anggotanya mengikuti dari di belakang. Kris dan Yoga bersiap dan menargetkan tembakannya ke arah Arter juga seorang anggota yang mengikutinya dari belakang. "Tahan!! Jangan tembak, kita memerlukan mereka," ucap Altran membuat Kris dan Yoga sontak berhenti, benar saja mereka hampir menarik pelatuk dan ingin menembak ke arah Arter bersama dengan seorang anggotanya di belakang. "Eeh, sungguh hebat insting Kapten Altran," ucap Kris sembari menghela nafas, dia benar-benar ingin menarik pelatuk senjatanya. Edwin yang melihat Mary menggendong Ricky dan juga seorang anak yang mengikutinya, dengan segera dia berlari menghampiri mereka bertiga meski tak terlihat lagi anggota-anggota Bulan Kegelapan yang tersisa. Bahkan 2 orang anggota yang tadinya menelan pil kini sudah di lumpuhkan, hanya tersisa seorang ilmuwan Arter Brock dan seorang anggotanya yang sudah di amankan oleh Kapten Altran. Prof. Sheo Lee mendekati Arter Brock. "Arter, kau ..." "Lee ..!!" "Mau apa kau kesini, hah?!" "Kau tak pernah berubah ...." "Heh, kau sendiri bagaimana?!" Tanpa suara, Altran mendekati dan langsung merobek baju yang di kenakan oleh Arter Brock. Terlihat sebuah Lifestone kecil bersinar menempel di dadanya Arter. "Lifestone? bagaiman bisa ...." Sheo Lee membulatkan kedua matanya, dia tidak percaya apa yang di lihatnya pada tubuh sahabat masa lalunya itu. Arter memalingkan wajahnya dari pandangan Sheo Lee. "Cukup, nanti saja reuninya. Sekarang apakah masih ada yang tersisa di dalam sana?" tanya Altran sembari melihat ke arah gedung disana. "Altran! Segera evakuasi semua orang yang bertahan di sini. Sebisa mungkin aku akan mengalihkan perhatian makhluk buruk rupa ini, tolong." Indra berbicara sambil menangkis serangan Kill. "Aku rasa semuanya sekarang dalam keadaan kritis!" Mereka semua terkejut mendengar hal itu dari Arter, "Yoga, Kris, kalian bisa melihatkan keadaan di dalam sana? Apakah masih ada yang tersisa?" Yoga dan Kris mengamati keadaan setiap ruangan menggunakan alat teropong canggih yang bisa menembus dinding. "Masih banyak bahkan ada anak-anak di beberapa ruangan, tapi ...." Belum selesai Yoga berbicara Altran langsung berlari menuju gedung itu. Terdengar pertarungan yang sangat sengit di dalam sana antara Indra dan makhluk Kill. Altran bergerak cepat mengaktifkan kamuflase dan masuk melewati pertempuran Indra. Sebisa mungkin Altran mengevakuasi orang-orang yang masih bertahan di dalam gedung, meski dia tahu bahwa semua orang yang di evakuasi sudah dalam keadaan kritis penyebaran virus hitam di sekujur tubuh. Yoga dan Kris turut membantu Kapten Altran dalam mengevakuasi orang-orang ke tempat yang lebih aman. "Al ... terima kasih." Ucap Indra dan tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN