Ada yang tidak di mengerti oleh Indra, mengapa Ricky berteriak meminta untuk berhenti menembaki dan sekarang justru berjalan mendekati makhluk Kill.
"Ricky, jangan kesana terlalu berbahaya," ucapan Mary juga tak di hiraukan oleh Ricky, dia tetap melangkahkan kakinya mendekati makhluk yang sudah hampir mati.
Dengan tubuh yang sudah tak berdaya lagi bahkan kobaran api masih saja membakar makhluk itu, dia masih sempat mengucapkan sebuah kalimat sebelum hangus terbakar.
"Kembalilah tuan muda, kau adalah penerus kesatria ...." Kobaran api di tubuh Kill semakin menjadi besar dan perlahan melenyapkan tubuhnya yang di makan api.
"Ricky, ayoo kita pulang," ajak Mary sembari mengulurkan tangannya dengan senyuman menyambut Ricky yang terlihat kebingungan. Dia masih menatap bekas makhluk itu terbakar lenyap di telan api.
Kini pertarungan pun telah berakhir, hanya menyisakan pertanyaan dan sebuah misteri yang tidak bisa di mengerti oleh Ricky saat ini. Pelukan Mary membuat Ricky merasa lebih tenang, dia sempat melihat tetesan air mata di pelipis pipi Ricky saat berpaling menatap dirinya yang mengajaknya pulang.
Hari-hari yang terasa sulit bagi diri Ricky, kini telah berlalu dan dia terdiam membisu dalam pelukan Mary bahkan sampai tertidur pulas karena dia benar-benar merindukan pelukan hangat seorang ibu. Mary tersenyum, mengusap dan mengecup pucuk kepala Ricky.
Perjalanan pulang yang cukup memakan waktu. Semua orang yang selamat segera mendapat pertolongan lebih lanjut dan juga Arter Brock beserta anggotanya yang tersisa akan di mintai keterangan terkait penculikan Mary dan Ricky, begitu juga akan hasil eksperimen ciptaannya berupa pil yang berbahan dasar energi Lifestone. Semua barang bukti termasuk juga sebongkah Lifestone yang sebelumnya di ambil paksa saat insiden p*********n Bulan Kegelapan di kota Orange dahulu.
Arter Brock adalah otak dari segala rencana p*********n di kota Orange dahulu, di karenakan bahwa dia kecewa kepada sahabatnya yang tidak memberi harapan untuk membantu dalam upaya menolong orang-orang yang terkena wabah virus hitam. Meski dia melakukan pembelaan pada dirinya tapi semua tindakannya di anggap sudah melampaui batas bahkan menjadikan orang-orang sebagai uji coba eksperimennya dan pada akhirnya Arter Brock harus menjalani hukuman yang setimpal atas perbuatannya selama ini.*
Seminggu telah berlalu. Sebelum berangkat, Indra ingin mengajak Ricky untuk ikut bersamanya ke kota Blue dan tinggal di apartemen.
"Boleh aku tinggal bersama dengan ibu Mary?"
"Tentu boleh jagoan, tapi aku ingin tau alasannya kenapa?"
Indra dalam perjalanan menaiki motor kesayangannya menuju markas di kota Blue, dalam perjalanan dia masih teringat raut senyuman di wajah mulus Ricky sembari mengatakan dengan ketulusan dalam hatinya.
"Aku menyukai langit biru di kota ini, dan anginnya ... terasa sejuk di sini, aku ingin sekolah bersama dengan seorang teman baik ku. Bolehkah aku tinggal di asrama bersama dengan ibu Mary?" Tanya Ricky tak lepas dari senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah tampan imutnya. Indra tersenyum mengangguk sebagai isyarat mengizinkan Ricky yang ingin tinggal di asrama kota ini.
"Ingat baik-baik pesan ku. Jadilah anak yang tangguh dan kuatkan selalu hati mu, hilangkan rasa keraguan mu ... teruslah melangkah, gapai mimpi mu semampu yang kau bisa. Dikala kamu mendapati masalah, janganlah menyerah ... sesungguhnya ada hal yang lebih keren," Ricky begitu bersemangat mendengarkan dan mengangguk seolah mengerti apa yang di ucapkan oleh Indra.
"Hal yang lebih keren ... apa itu Kapten?" Ricky menjadi penasaran.
"Emm, yang lebih keren itu ... tersenyumlah jagoan, karena senyuman mu adalah penawar luka dan cahaya harapan." Ucapan Indra membuat Ricky tertegun mendengarnya, meski anak kecil yang ada di hadapannya saat ini masih belum memahami artinya.
"Aku sayang pada mu, Kapten!" Ricky memeluk erat pinggang Indra.
"Iyaa, aku juga sayang kalian berdua," Indra membalas pelukan Ricky, dia berharap bahwa nantinya anak ini menjadi seorang yang lebih hebat dari dirinya.
Indra sepintas teringat pada masa kecilnya di kota ini yang penuh kenangan. Namun Ricky merasa ada sesuatu yang aneh dalam ucapan pria ini.
"Kalian berdua? Apa maksud Kapten?" gumam batin Ricky, dia mengerutkan dahinya. Mary dan Edo berdehem ketika melihat adegan pelukan hangat di antara mereka berdua.
Indra tiba-tiba menjadi salah tingkah, akan tetapi Mary menahan tawanya melihat tingkah Indra yang menggaruk kepala, kebiasaan ketika dia tersipu malu di depan gadis apalagi di hadapan belahan jiwanya. Indra mencoba mendekati Mary yang masih terpancar kecantikan wajah alaminya, senyum manis membuat detak jantung pria itu semakin berdebar kencang.
"Ricky ... dia ingin tinggal di asrama ini,"
"Hmm, lalu ..."
"Lalu ..."
"Lalu apa, Indra ..."
"Emm, boleh pinjem tangan kiri?"
"Buat apa?!"
"Sebentar saja ...."
Mary pun mengulurkan tangan kirinya.
"Awas kalau kamu macem-macem!" Mary menatap tajam wajah Indra, begitu juga Indra membalas dengan tatapan. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, membuat Ricky dan Edo malas melihat dua orang dewasa yang canggung dalam menyampaikan suatu perasaan.
Merasa di antara mereka tidak ada percakapan sama sekali, akhirnya Ricky menginjak kaki Indra dan membuyarkan khayalan mereka berdua.
"Mau sampai kapan kalian tatap-tatapannya?" gerutu Ricky, membuat 2 orang dewasa menertawakannya yang terlihat menggemaskan sekali ketika wajahnya cemberut.
Tanpa di sadari oleh Mary, sebuah cincin melingkar di jari manisnya dan dia melihat kearah Indra yang sudah berjalan terlebih dahulu menaiki motornya dan tersenyum kearahnya. Indra memperlihatkan gelang canggih yang dikenakannya dimana terlihat layar hologram kecil dan warna merah berkedip-kedip menunjukan bahwa cincin di jari manis Mary itu adalah sebuah alat pelacak yang di buat khusus olehnya.
"Dasar pria aneh!"
Sepanjang perjalanan Indra tersenyum ceria dan terbayang-bayang selalu wajah Mary apalagi ketika gadis itu tersenyum semakin nampak kecantikan alaminya.***
Tiga bulan telah berlalu sejak insiden yang menegangkan di kota mati. Kini Ricky menetap tinggal bersama Mary di asrama, bahkan sekarang Edo menjadi sahabat terdekatnya. Mereka berdua tidur dalam sebuah kamar yang sudah di sediakan 2 tempat tidur.
Alarm berbunyi. Edo mengerjapkan kedua matanya dan terbangun karna bunyi alarm dari arah tempat tidur Ricky yang dimana arloji itu berada di atas meja belajarnya. Namun setiap kali Edo membuka kedua matanya, teman sekamarnya itu sudah tidak ada di tempat tidurnya melainkan sudah melakukan aktivitas mandi lebih awal dari siapapun di asrama itu.
Matahari bersinar cerah dan kicauan burung-burung bersenandung menyambut hangatnya pagi. Edo menggeliat pelan dan juga merefleksi otot-ototnya agar sedikit rileks, berusaha beranjak dari tempat tidurnya meski sebenarnya ia masih terlalu berat untuk meninggalkan tempat tidurnya.
"Pagi Edo."
"Pagi juga Rick."
"Buruan, waktu kita 30 menit lagi untuk berangkat sekolah," sapa Ricky yang baru masuk kamarnya sembari mengusap-usap rambut basahnya dengan handuk.
"Santai aja kali Rick ... masih banyak waktu yang tersisa." Edo merangkul pundak Ricky.
"Hmm ... siapa cepat dia yang dapat!"
"Hah? Oh iyaa aku lupa!" Edo terburu-buru pergi ke kamar mandi.
Melihat tingkah sahabatnya itu Ricky tersenyum tipis. Ia segera menghampiri lemarinya dan mengenakan pakaian seragam sekolah, berdiri di depan cermin menyisir rambut tebal lurus warna hitam kebiruan.
"Emm sempurna," Tersenyum melihat wajah sendiri di depan cermin. Namun di kedua pergelangan tangannya melingkar sepasang gelang canggih yang di berikan oleh Indra beberapa hari yang lalu sedikit membuatnya risih meski terlihat keren.
"Ini hadiah untukmu, tapi ingat jangan sembarangan gunakan kekuatan mu, yah." Indra memberikan hadiah itu tanpa menjelaskan lebih detail kepada Ricky.
"Woii! Pagi-pagi melamun di depan cermin," Usil Edo yang baru masuk kamar dan mengagetkan Ricky yang memandangi gelang di tangannya.
Setelah selesai merapikan tempat tidur dan bersiap ingin berangkat sekolah, kini mereka berdua menuju ruang makan, di sana cukup banyak terlihat anak-anak yang seusia Edo dan Ricky. Ada juga terlihat beberapa anak perempuan dan anak remaja yang ikut meramaikan asrama disana.
Terhitung sebanyak 20 orang yang berada di asrama itu, putra berjumlah 14 orang termasuk 3 anak remaja sedangkan putri 6 orang termasuk juga 2 anak remaja putri. Seorang bapak cukup tua bernama Rizal, beliau adalah pendiri asrama dan Mary adalah anak kandungnya yang ikut membantu dalam mengurus panti asuhan. Mereka berdua ayah dan anak sebagai pengasuh sekaligus pembimbing anak-anak yatim piatu disana.
Berdoa dan makan bersama adalah rutinitas di asrama itu. Sebelum berangkat sekolah, sudah menjadi hal kebiasaan anak-anak panti berpamitan dan mengucapkan salam kepada pak Rizal dan juga Mary. Ricky dan Edo yang sudah menetapkan perilaku disiplin dan sopan santun menjadikan mereka benar-benar berada di sebuah tempat yang namanya keluarga.*
"Aah ... enak sekali masakan ibu Mary, rasanya aku ingin makan dan makan lagi." Perbincangan Edo tak lain adalah makanan yang ada di dalam pikirannya.
"Nanti kau jadi gendut ..." ledek Ricky.
"Biarlah, aku menikmatinya selama ibu Mary mau memasak untuk kita." Edo mulai berkhayal masakan lagi.
"Heem ... ayoo kita segera menuju sekolah."
"Lest goo ...."
Ricky dan Edo terlihat sangat bersemangat melangkahkan kakinya sambil bersenda gurau sepanjang perjalanan, namun keceriaan mereka tetap di awasi oleh pihak berwenang di karenakan kekuatan yang ada di dalam diri Ricky.
Kekuatan yang bisa membuka dimensi dari alam lain, sehingga mengharuskan Ricky mengenakan sepasang gelang canggih guna menekan kekuatan yang bisa saja akan keluar tanpa ia sadari. Meski belum memastikan secara keseluruhan, akan tetapi bukti dari pengamatan Arter Brock selama ini membuktikan bahwa sudah 2 kali Ricky menggunakan kekuatan supernaturalnya dan selang beberapa menit terdeteksi juga dimensi lain terbuka.
Bel jam pulang sekolah berbunyi.
"Ricky, ajarin aku yaah ... bikin kerajinan tangan seperti tadi. Kamu selalu dapat bintang 5, sedangkan aku cuma dapat bintang 3." Keluh Edo sembari memakan cemilan kentang goreng.
Namun langkah Edo terhenti ketika ia melihat Ricky yang berdiam diri merasakan desiran angin sejuk membuat hati dan perasaannya menjadi lega.