Edo termenung ketika melihat Ricky yang berdiam diri nampak exspresi wajahnya yang merasakan sejuknya angin musim semi membuat dirinya lebih tenang.
Dia teringat kembali di detik-detik di mana nyawanya yang hampir tak tertolong lagi, namun di saat itu juga Ricky dengan segenap keberaniannya berjalan melangkah menghampiri dirinya, cahaya harapan yang di pancarkan oleh Ricky waktu itu kini telah memberi semangat kehidupan sampai saat ini. Dia pun berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berada disampingnya baik di kala senang ataupun sedih, Edo bertekad akan menjadi sahabat terbaiknya sampai kapan pun.
"Ricky ..."
"Hmm ..."
"Ayoo cepetan kita pulang, ibu Mary sedang menunggu kita lho!" Ajak Edo.
Ricky pun tersenyum mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya setelah puas merasakan angin yang menerpanya. Pulang bersama dengan sahabat memanglah sangat mengasyikan, kini mereka berjalan dengan wajah ceria menuju asrama di mana sekarang adalah menjadi tempat bernaung mereka yang tidak memiliki orang tua. Namun seorang gadis cantik selalu menyambut kepulangan mereka dengan penuh kasih sayang.*
Sehari-hari Ricky, Edo dan juga anak-anak panti lainnya menjalani keseharian mereka dengan keceriaan meski terkadang susah senang bersama itu tak pernah luput dari kehidupan nyata yang mereka rasakan. Namun dengan adanya pak Rizal dan Mary, putra putri di asrama itu merasakan hangatnya sentuhan kasih sayang yang di berikan kepada mereka, semangat tak pernah padam untuk meraih cita-cita masa depan.
Masa kecil yang di warnai keceriaan canda dan tawa di habiskan Ricky bersama dengan keluarga besarnya di asrama, hingga ia beranjak tumbuh menjadi remaja yang bertalenta meski Ricky adalah orang yang pemalu tapi jiwanya yang selalu menunjukan empati kepada siapa pun yang ada di sekitar, kehadirannya menjadikan semua orang terkesan pada apa yang ia pancarkan di wajah senyum tampannya.
"Huaaah, emmm ... sepertinya pagi ini akan cerah sekali." Ricky beranjak dari tempat tidurnya dan hendak berjalan menuju kamar mandi.
"Dasar, masih saja posisi tidur mu berantakan." Ricky tersenyum tipis melihat ke arah sahabatnya yang tidur berseberangan dengan tempat tidurnya.
Setelah selesai mencuci muka di dalam kamar mandi, kini Ricky pergi keruang dapur untuk membantu Mary menyiapkan makanan sarapan pagi.
"Pagi Buu ..." sapa Ricky.
"Pagi juga sayang," balas Mary dengan senyuman.
"Emmm, hari ini mau masak apa, bu?" Tanya Ricky.
"Bagaimana kalau kita masak kare ayam?" Usul Mary.
"Waaah ... pasti enak, sudah lama tidak memakan kare buatan ibu," Ricky semakin bersemangat. Kedekatan Ricky dan Mary benar-benar terlihat seperti seorang ibu dan anak.
Setiap pukul 5 subuh terdengar alarm dari salah satu kamar di asrama, cukup untuk membangunkan orang yang berada dalam kamar itu.
"Huaaah ... heeh, kebiasaan banget dah. Ini alarm bukannya bangunin dia tapi justru yang ada bangunin aku terus." Edo menggerutu sembari mengusap-usap kedua matanya.
Ia mencari sesuatu di sekeliling badannya dan menemukan bola karet kasti seukuran genggaman tangan. Tanpa rasa ragu ia lemparkan bola kearah arloji milik sahabatnya Ricky, tapi sayangnya lemparannya meleset justru memantul kembali kearahnya lebih tepatnya bola itu mendarat indah di wajah mulusnya.
"Pagi bro ..." Sapa Ricky.
"Hmm ...." Edo menutupi wajahnya dengan handuk.
"Kenapa anak itu, hmm?!"
Seperti biasa Ricky selalu bangun lebih awal dari siapa pun, akan tetapi dia hanya bisa tersenyum setiap kali melihat wajah sahabatnya itu terlihat kesal tapi sedikit menggemaskan bagi dirinya. Dia memang sengaja memasang waktu alarm itu bukan untuk dirinya melainkan untuk teman sekamarnya agar kebiasaan bangun siangnya hilang.
Membuka korden jendela kamar, terjangan cahaya surya pun masuk ke ruangan kamar. Ricky berjalan keluar halaman dan melakukan aktivitas senam pagi hingga lari pagi dia lakukan rutin setiap harinya.
Semangat masa remaja Ricky yang begitu membara siapa saja yang melihatnya akan terpukau karena kegigihannya, apalagi prestasi selama ini yang diraihnya di sekolah membuat keluarga besar asrama bangga memilikinya. Namun dia ingin seperti seorang Kapten Indra, ingatan tentang insiden 15 tahun lalu menjadikannya tidak ingin menyusahkan orang lain. Melainkan ia ingin berusaha agar menjadi kuat dan tangguh seperti Kapten Indra dan ingin menjadi seorang sang penyelamat.
"Tambahkan 2 putaran lagi!" seru Rocky yang menggema dalam diri Ricky.
"Hah!! Jangan bercanda, nanti aku tidak sempat sarapan pagi!" Ricky begitu enggan melakukan apa yang di perintahkan oleh jiwa saudaranya itu.
"Kau harus melatih jantung mu yang lemah itu! Kalau kau tak sanggup lagi, biar aku yang melanjutkannya, bagaimana? Atau mungkin kau sudah melupakan makhluk-makhluk jelek itu," ucapan Rocky dari dalam dirinya kali ini membuat raga Ricky tergerak kembali tanpa berkeluh kesah ia melakukan 2 putaran berlari mengelilingi halaman asrama sesuai permintaan jiwa saudaranya itu.
Sudah beberapa tahun dia melatih otot-otot organ tubuh dan jantungnya, meski di lihat dari penampilannya saat di sekolah terkenal dengan julukan si kutu buku. Namun dia memiliki tubuh yang atletis dan gagah karena hasil dari latihannya selama ini.
Dari dalam kamar anak putri terlihat seorang anak gadis yang sering memperhatikan Ricky berolah raga seorang diri di halaman asrama.
"Hayoo, lagi lihatin apaan kamu." Melly menepuk pundak untuk mengejutkan Riani yang tengah memperhatikan Ricky di balik jendelanya. Hingga membuatnya menjadi salah tingkah.
"Tidak ada, aku lagi merapikan korden ini saja," elak Riani berpura-pura meski debaran jantungnya berdetak sangat kencang setiap kali dikagetkan oleh orang lain.
"Hmm ... benarkah?" Goda Melly lagi.
"Sudah aah, aku mau mandi dulu," Riani mencoba menghindar dan berjalan menuju kamar mandi.
"Eits ... wajah kamu memerah Rin." Cegah Melly.
"Aaaa ... sakit Rin!!" Riani mencubit gemes pipi saudarinya itu.
"Lihat sekarang pipi mu juga memerah, kan?!" Mereka berdua memang terlihat suka bercanda, namun berbeda dengan seorang gadis yang berada disebelah kamar.
Seorang gadis yang bernama Viola, kamarnya bersebelahan dengan Riani dan Melly. Viola sesekali juga mengintip aktivitas Ricky diluar halaman itu dari balik jendelanya.
"Dasar laki-laki tukang pamer!!" gumam Viola dengan tatapan tidak sukanya.
Sarapan pagi bersama dan seperti biasa di awali dengan berdoa bersama. Namun Mary memperhatikan di sekitaran meja makan bahwa ada seseorang yang masih belum juga terlihat di meja makan kali ini.
"Edo ... mana teman mu Ricky?" Tanya Mary.
"Emm ... saya lihat tadi Ricky masih di dalam kamar mandi." Ucap Edi sembari menyuap makanannya.
Di saat semua sudah selesai dengan aktivitas makan pagi bersama, tak lama kemudian Ricky baru datang menghampiri meja makan dan tentunya mendapat teguran dari Mary.
"Ricky! Kenapa lama sekali sayang? Kamu sudah besar, berikanlah contoh yang baik kepada saudara-saudara mu yaah." Nasehat Mary dibalas senyuman dan anggukan Ricky.
Setelah selesai menghabiskan makanan, Ricky pun berpamitan dan bergegas menghampiri pintu utama. Ketika dia menggenggam pedal pintu dan membukanya tanpa sengaja pintu mengenai dahi Viola yang ingin masuk kedalam.
"Aaww! Aduuh ... sakit tau," gerutu kesal Viola sembari mengusap-usap dahinya yang kesakitan.
"Ma-maafin aku Viola, tidak sengaja mengenai mu tadi. Apakah tidak apa-apa itu?" Tanya Ricky, dia mencoba mendekati Viola.
"Jangan mendekat! Aku tidak butuh kasihan mu!" Seru Viola, dia masuk kedalam dan membicarakan sesuatu kepada Mary.
"Hmm, yaa sudahlah ...." Ricky pun bersiap mengenakan sepatunya dan ingin berangkat. Ia berjalan hendak keluar dari pintu gerbang, namun pandangannya tertuju kearah sepeda milik Viola.
"Hmm ... masalah pada rantai sepeda rupanya?!" Ricky tersenyum tipis. Dia melihat waktu yang tersisa 15 menit sebel bel masuk berbunyi.
Ketika Mary keluar mencoba memanggil Ricky meminta bantuannya untuk memperbaiki rantai sepeda milik Viola. Namun ternyata rantai sepeda yang tadinya putus, kini sudah terpasang rapi seperti sebelumnya bahkan masih terlihat baru.
Viola dan Mary hanya bisa tertegun ketika Ricky sudah terlebih dulu menggantikan rantai sepeda milik Viola sebelum sempat memberitahukan apa yang ingin di sampaikannya.
"Sepeda sudah siap meluncur," ucap Ricky tersenyum sembari mengacungkan jempolnya kearah Viola.
"Thanks ..."
"Kembali ...."
Tanpa basa basi Viola langsung saja berangkat terlebih dulu dengan menaiki sepedanya yang baru saja di perbaiki oleh Ricky.
"Ricky ... kamu dapat dari mana rantai sepeda ..."
"Nanti saya kasih tau, sekarang mau berangkat dulu." Lambaian tangan Ricky tujukan untuk Mary dan bergegas berlari untuk menyempatkan waktu yang tersisa 5 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi.
"Hati-hati Ricky!!" Mary sedikit cemas melihat kelakuan Ricky yang bersemangat sekali.
Hari ini adalah hari pertama kembali ke sekolah setelah liburan kenaikan kelas tahun kemarin dan sekarang menuju kelas 3-A yang menjadi tempat penentu kelulusan dimasa remajanya.
"Ada-ada saja anak itu. Eeeh! Kenapa dia berlari ..? jangan bilang rantai itu adalah ...." Benar apa dugaan Mary, ternyata rantai yang terpasang di sepeda Viola adalah milik Ricky.
"Dasar si Ricky! Dia sampai rela melepaskan rantai sepedanya sendiri hanya untuk membantu saudarinya. Hmm ... jadi teringat masa sekolah dulu." Mary sembari tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Semangat anak-anak remaja itu luar biasa." Suara Pak Rizal dari arah belakang Mary, meski sekarang dia dalam keadaan lemah karena mengalami sakit stroke, kini hanya bisa duduk di kursi rodanya. Namun ia masih tetap memperhatikan semua anak asuhnya yang begitu disayanginya dari sejak kecil hingga tumbuh menjadi kebanggaannya.
Masih dalam perjalanan Ricky berlari menuju sekolah yang berjarak lumayan jauh sekitar 5 km.
"Kalau begini caranya aku tidak akan sempat!"
Ricky teringat bahwa sepatu yang dikenakannya sekarang adalah hadiah spesial pemberian dari Indra yang mampu menjadi sepatu roda super. Dia pun melompat sembari menepukan kedua kakinya bersama, sepasang roda pun keluar dari masing-masing sepatunya dan kini Ricky melesat di jalan raya meski yang ditelusurinya sedikit curam turun naik bukit.
"Untung saja Kapten pernah mengajarkan ku bermain sepatu roda ini kalau tidak ... bisa terbang indah aku," Ricky senyam-senyum teringat saat pertama kali mencoba sepatunya.
"Itu dia ... cepat juga Viola mengayuh sepedanya." Ricky semakin bersemangat, apalagi bangunan sekolah sudah terlihat.
Saat Viola menoleh ke belakang ....