Melesat dengan cepat Ricky hampir sampai menyusul Viola yang terlebih dulu mengayuh sepedanya, bahkan bangunan sekolah pun sudah terlihat di depan mata mereka.
Namun saat Viola menoleh ke belakang merasakan bahwa ada seseorang yang menyusulnya, tiba-tiba di depannya ada seekor anak kucing berwarna putih abu-abu berlari menyebrang jalan dan ia pun terkejut mencoba menghindar sampai-sampai oleng kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
"Jangan pejamkan mata mu! Tetaplah fokus dan lihatlah ke depan, Lala!" Ucapan Ricky menyadarkan Viola yang terpejam, dia tidak menyangka bahwa dirinya selamat dari bahaya yang hampir saja terjadi padanya dan anak kucing itu.
"Kamu?!"
"Perhatikan jalannya, jangan melamun!"
"Dih, siapa yang melamun! Kamu saja yang mengikuti ku dari belakang!" elak Viola.
"Haha ... kamu lucu yaah," balas Ricky dengan tawanya.
Viola tertegun ketika Ricky memegangi sepedanya agar tetap stabil dan terus jalan sampai ketempat tujuan dengan selamat. Bertepatan tiba di depan gerbang sekolah dan bel masuk berbunyi, mereka berdua bergegas masuk untuk menghadiri upacara hari pertama kembali sekolah.
"Yoo bro ... haha bagaimana rasanya di kejar waktu?" sapa Edo mengejek Ricky yang baru masuk barisan
"Serasa melayang terbang, bro!" Balas Ricky tersenyum.
"Hah!! Emm ... barusan kau masuk bersamaan dengan Viola, yaah?" tanya Edo mendelik ke arah Ricky.
"Iyaa, memangnya kenapa? Kan dia saudari kita, apa ada yang aneh?!" Balas Ricky tanpa keraguan.
"Maksud ku kenapa kau bisa pergi bersamaan dengan dia?! Apalagi dia itu gadis paling dingin dimana pun dia berada," jelas Edo.
"Sudah nanti saja bicaranya ..." balas Ricky.
Tiba-tiba suara yang dikeluarkan mikrofon saat dinyalakan sangat melengking telinga, membuat semua murid dan guru-guru yang ada di halaman sekolah menutup kedua telinga bersamaan.
"Tes ... Tes ... 1 2 3 ... maaf, sepertinya ada kesalahan teknis." Ucap kepala sekolah yang berdiri di podium upacara.
"Ehem! Selamat pagi ... para guru-guru sekalian. Selamat pagi anak-anak muda penerus harapan yang ku cintai ...." Pidato kepala sekolah cukup panjang dan seperti biasa anak-anak murid ada yang terlihat bosan mendengarkan dan ada juga yang bersemangat di pagi itu.
Setelah usai upacara, kini para siswa dan siswi kembali ke kelasnya masing-masing dan sebelum memulai pelajaran pertama mereka di berikan waktu istirahat 10 menit.
"Hmm ... 10 menit, cukup bersantai di perpustakaan saja sambil baca lanjutan kemarin." Ricky berniat ingin pergi ke perpustakaan seorang diri, namun tanpa ia sadari Edo mengikutinya dari belakang.
"Yoo bro ... rajin sekali kamu mau ke perpus?! Ada apa disana?" tanya Edo menepuk bahu Ricky yang membuatnya terkejut.
"Ada banyak harta Karun di dalam sana!" Balas Ricky cetus, ia melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.
"Ada harta karun ..? Hmm ... yang bisa lihat kan cuma kau seorang," ejek Edo.
Ricky tetap tak menghiraukan ucapan sahabatnya itu, ia pun mempercepat langkah kakinya berjalan agar segera sampai di perpustakaan. Sesampainya di dalam ruangan yang bebas akan polusi udara dan suara berisik, suasana perpustakaan inilah tempat yang paling nyaman dan damai bagi Ricky.
"Psst ..!!"
"Hehe ... maaf, Buu. Saya lupa."
Ricky hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika melihat ke arah Edo yang baru saja ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan, malah dia sudah mendapat teguran dari petugas jaga karena lupa melepas alas kakinya di luar ruangan perpustakaan.
"Kau ini ada-ada saja, memangnya sudah berapa tahun kau tidak kesini, hah?!" Ricky membalas ejekan sahabatnya itu mengingat saat diluar tadi.
"Ssst ..! No komen, okey." bisik Edo dan mengisyaratkan telunjuknya ke bibir, Ricky hanya tersenyum tipis mendapati tingkah laku sahabatnya itu.
Kini mereka berdua berjalan menghampiri deretan rak buku, Ricky mengambil buku tentang ilmu seni pernafasan, sedangkan sahabatnya itu ia dengan sembarang saja mengambil buku tanpa tau apa yang dibawanya.
"Kau baca begituan, Rick ..?" tanya Edo, dia menahan tawanya.
"Lalu kau sendiri baca apa? Mau belajar memeras s**u sapi?" Ricky balik bertanya kepada sahabatnya yang duduk di hadapannya kali ini.
"Astaga naga!!" Edo tak menyangka dia mengambil buku peternakan sapi
"Huh dasar!"
"Hehe ... biasa lagi pengen."
Ricky tak menghiraukan lagi sahabatnya itu, kini dia melanjutkan bacaannya mengenai seni dan tehnik pernafasan. Meski terlihat sederhana apa yang di baca oleh Ricky, namun buku itu mengandung arti yang mungkin saja banyak yang tidak di ketahui oleh orang lain.
Edo mengerutkan dahinya melihat sampul buku yang di baca oleh Ricky, ia sedikit penasaran dengan apa yang di baca sahabatnya itu. Bahkan terus-terusan memandangi wajah tampan Ricky yang serius membaca buku seni dan tehnik pernafasan.
Sekitar 2 menit waktu yang tersisa, Ricky dan Edo sahabatnya itu kini mereka beranjak dari kursi dan berjalan mengembalikan buku yang dibaca tadi ke rak buku di sana. Berjalan keluar dari perpustakaan dan masuk terlebih dulu ke dalam kelas sebelum waktu istirahat 10 menit habis.
"Bukankah bernafas itu sederhana, Rick?" tanya Edo.
"Iyaa memang sederhana, kok. Apa ada yang aneh?" balas Ricky.
"Yaa aneh laaaah ... sudah tau itu sederhana kenapa masih ...." Edo tertegun ketika dia melihat sahabatnya itu tersenyum begitu saja tanpa banyak bicara lagi.
Ricky mengisyaratkan jari telunjuknya bahwa guru sudah memasuki kelas mereka.
"Selamat pagi ..."
"Selamat pagi pak ...."
Suara siswa dan siswi bersamaan menyambut salam dari pak guru jasmani.
"Bagus!! Aku menyukai semangat muda kalian. Haha ... sekarang bersiaplah, kita langsung ke lapangan. Akan ku hajar kalian semua dengan peluit ku ini! Hahaha ...." Semua siswa dan siswi yang ada di kelas itu bergidik mendengar ucapan dari pak guru jasmani yang bernama Jhon.
Semua murid merasakan atmosfir sang guru jasmani seolah-olah membuat mereka langsung kelelahan di hari pertama kembali sekolah setelah sekian lama tidak berolah raga. Berbeda dengan Ricky, dia hanya tersenyum tipis karena sudah terbiasa baginya menguras keringat di pagi buta.
Di tempat ruang ganti pakaian khusus anak laki-laki. Semua murid bersiap dan mengganti pakaian seragam dengan pakaian khusus olah raga. Namun setelah Ricky melepas pakaian seragamnya, semua sorot mata tertuju padanya hingga membuat Ricky menjadi salah tingkah, ia pun bergegas mengenakan pakaian olah raganya.
"Woow!! Keren sekali, punya body atletis seperti ini. Kau pasti rajin sekali yah berolah raga?" tanya salah satu teman sekelasnya bernama Rio.
"Ti-tidak juga, hanya saja aku sering senam dan lari pagi santai," balas Ricky sedikit terbata-bata.
"Woow!! Keren sekali, aku juga mau melatih tubuh ku ini seperti kau," ucap Rio bersemangat.
"Kecilkan dulu itu perut mu, baru kau bisa jadi super boom," ejek Edo yang berada di samping Ricky.
"Enak saja, masalah perut adalah paling utama dalam hidup ku. Kalau perut lapar, juga susah bergerak, kan?" protes Rio tidak mau kalah dengan ejekan Edo.
"Paling juga kau sekali makan, pasti lupa dengan rasa kenyang. Haha ...." Edo semakin jadi mengejek Rio.
Rio memang anak yang berpostur tubuh gemuk tinggi badan sedang, namun dia memiliki hati yang baik dan bertutur kata sopan. Hanya saja dia tidak senang ketika ada yang mengatakan dirinya gendut apalagi seorang pemalas. Amarahnya akan sangat meningkat bila sampai terdengar olehnya.
Kini siswa dan siswi yang berjumlah 20 anak murid kelas 3-A memulai hari pertamanya berbaris di lapangan terbuka dan bersiap menerima pelajaran dari Pak John.
"Okey, saya mulai absen terlebih dahulu,. Ketika saya sebutkan namanya katakan SIAP dengan semangat, mengerti!!" tegas pak John.
"SIAAAP!!" Serentak semua anak murid mengucapkannya dengan nyaring.
"Baguuus!!" seru pak John sembari tersenyum.
Satu persatu nama siswa dan siswi di sebutkan hingga sampai nama Ricky di sebut oleh pak Jhon. Tatapan Jhon ke arah Ricky sedikit berbeda, tidak seperti kepada anak-anak lainnya. Apalagi di kedua pergelangan tangan Ricky selalu terpasang gelang merah. Kini semua nama murid sudah di sebutkan dan pak Jhon memperagakan sebuah pemanasan awal kepada anak didiknya. Merenggangkan otot-otot terlebih dahulu sebelum memulai hal yang lebih menguras keringat.
"Lakukan dengan rileks tanpa mengurangi semangat pagi kalian. Agar semua otot-otot yang kalian miliki nanti, tidak berteriak minta ampun kepada ku." Mendengar ucapan dari pak Jhon, baik itu Ricky, Edo dan Rio bahkan teman-teman yang lainnya juga merasakan seperti di dunia berbeda kali ini.
"Apa-apaan orang tua itu. Memangnya kita ini mau olah raga atau mau latihan, sih?!" keluh Rio.
"Sama saja gendut!! Memangnya kita mau berdansa, hah?!" balas Edo.
"Apa kau bilang tadi?!"
"Gendut!!"
Adu mulut Rio dan Edo kembali terjadi, hingga menarik perhatian pak Jhon dan benar saja mereka berdua mendapat teguran.
"You and you, kemari!!" tegas John, dia menunjuk Edo dan Rio dengan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.
"Iyaa pak," ucap Rio tertunduk malu.
"Hmm ... karena kalian sudah membuat suasana menjadi panas. Jadi, aku minta kalian berdua terlebih dulu lari cepat 100 meter disana." Pak John menunjuk kearah lapangan lari maraton.
"Haaah!! Lari pak?" tanya Rio.
"Iyaa lari!!" tegas pak Jhon dengan raut wajah seriusnya serta mata melotot menatap ke arah Rio.
"Pffft ... dasar bodoh! Memangnya kita mau makan disana?!" tambah Edo.
"Dan kau juga!" seru pak Jhon.
"Siap pak!" jawab Edo dengan tangan hormatnya.
Rio dan Edo kini mereka berdua sedang bersiap siaga menunggu aba-aba peluit dari pak Jhon.
"Bersedia ... siaaap ... Pprrrt!!" Bunyi peluit pak Jhon sebagai tanda start dimulai dan finish.
Awal start Edo lumayan bagus di bandingkan Rio yang berbadan gemuk. Meski sudah tertinggal jauh dari Edo, Rio masih berusaha berlari dengan segenap tenaga yang dimilikinya sampai ke garis finish.
"Kalau setiap hari begini caranya, lemak yang ada di dalam tubuh ku bisa habis terbakar. Tapi, rasa lelah dan keringat ini ...." Rio tersengal dalam bernafas.
"Rio ..."
"Iyaa Rick,"
Ricky mengajarkan tehnik pernafasan kepada Rio yang terlihat deru nafasnya tidak beraturan setelah berlari tadi.