Pak John terus-menerus memperhatikan Ricky yang di mana ia sedang memberikan arahan mengatur nafas kepada temannya Rio seperti orang yang kehabisan nafas.
"Hmm, anak itu ..." batin pak John. Dia teringat akan pertemuannya dengan Indra beberapa hari yang lalu.*
"Ricky..? Anak yang kau selamatkan waktu itu?" tanya John kepada Indra.
"Iyaa, saya meminta anda untuk mengajarinya hal yang baru sebagai seorang guru di sekolahan itu," ucap Indra.
"Hah! Yang benar saja, aku menjadi guru di sekolahan itu? Tidak salah kau meminta ku untuk menjadi seorang guru disana?" balas John.
"Iyaa, tidak salah sama sekali! Karena anda adalah guru saya dan anda jugalah yang melatih hingga membuat saya seperti sekarang ini!" jelas Indra.
"Hahaha ... itu karena usaha dan kegigihan yang kau miliki, Indra! Aku hanya memotivasi agar kau menjadi seorang yang kuat dalam menjalani hidup seorang diri!" Seru John.
"Ricky ... dia bukan anak biasa, bahkan nyawanya menjadi incaran makhluk-makhluk dari dimensi lain. Mungkin saja di luar alam sana makhluk buruk rupa itu sudah memiliki rencana untuk mendapatkannya dan kemungkinan besar akan ada kekacauan lebih mengerikan lagi yang akan di hadapinya. Terakhir kali saya berhadapan dengan makhluk Kill di kota mati, bahkan pukulan yang sudah terisi full power saja masih belum cukup untuk mengalahkan makhluk dari dimensi lain itu," jelas Indra dengan raut wajah seriusnya.
Dengan terpaksa John menerima tawaran Indra untuk menjadi seorang guru jasmani di sekolah tempat dimana Ricky menimba ilmu. Indra beralasan tidak bisa untuk saat ini memberikan sebuah latihan kepada Ricky, di karenakan tugasnya yang menjadi kendala, bahkan dia hanya bisa berkunjung sebentar saja ke asrama untuk melihat keadaan Ricky bahwa baik-baik saja.*
"Okey, secara acak saya panggil nama kalian berpasangan dan maju ke garis start di sana, mengerti!" Seru pak John.
"Siaaap pak ..!" Serentak anak murid mengucapkannya.
"Bagus, saya senang mendengar semangat kalian ini," balas pak John sembari tersenyum.
Sepasang nama di panggil oleh pak Jhon untuk maju ke garis start dan bersiap melakukan lari cepat berjarak 100 meter. Hingga sampai ke sebuah nama yang sudah tak asing lagi bagi John yaitu Ricky, ia di panggil berpasangan dengan Viola yang akan menjadi lawan lari cepat kali ini.
"Ayoo saudara ku, kita tunjukan hasil latihan kita selama ini kepada semua orang."
"Ini bukan perlombaan, dan juga bukan untuk meraih kemenangan. Ini hanya sekedar latihan ...."
"Dasar bodoh!! Justru inilah kesempatan kita untuk memperlihatkan kepada pak tua itu. Aku merasa sedari tadi dia selalu memperhatikan gerak gerik mu, apalagi aku yang berada di dalam raga mu saja bisa ku rasakan aura yang berbeda dari si pak tua itu."
"Maksud mu aura bagaimana?!'
"Cukup! Jangan banyak tanya, sekarang juga kita bertukar tempat, okey!"
Percakapan 2 jiwa yang berbeda antara Ricky dan Rocky, mereka sudah mulai bisa melakukan pertukaran tempat jiwa dalam satu raga hanya dengan memejamkan matanya selama 10 detik.
"Ricky! Hmm ... Ricky, Prrrrrttt!!" Bunyi peluit pak John begitu nyaring.
"Siaaaap pak!" Ucap Ricky yang tersadar segera ia bersiap.
Beberapa teman sekelasnya menertawakan melihat Ricky yang berdiam diri saja tanpa melakukan siap siaga untuk memulai start lari. Kini Ricky memejamkan matanya sembari posisi tubuhnya sudah dalam keadaan bersiap untuk lari.
Viola yang sudah siap dalam posisinya, ia hanya terdiam ketika menoleh kearah Ricky yang terlihat memejamkan matanya sedari awal bersiap. Viola tidak menghiraukannya bahkan ia sekarang fokus untuk berlari secepat mungkin untuk sampai di garis finish.
"Heh, dasar laki-laki aneh. Dia meremehkan ku," gumam batin Viola. Dia selalu merasa kesal ketika harus bersamaan dengan Ricky, apalagi melihat tingkah aneh Ricky yang malah memejamkan matanya di saat seperti ini.
"Bersedia ...." Aba-aba dari pak John sekitar 3 detik lamanya.
"Siaaap ...!" Aba-aba kedua dari pak John. Viola dan Ricky sudah di posisi siap berlari, namun Ricky masih memejamkan kedua matanya. Viola tidak menghiraukan lagi laki-laki yang ada disampingnya itu.
"Prrrrrt ...." Bunyi peluit pak John pertanda start di mulai.
Awal start Viola terlihat sempurna dan berlari lebih dulu dari Ricky. Sekitar 2 detik Ricky baru mulai berlari setelah membuka kedua matanya sembari tersenyum menyeringai, sensasinya menjadi berbeda dari sebelumnya.
Kini pertukaran 2 jiwa terjadi dalam satu raga dan yang sekarang berlari bukanlah seorang Ricky melainkan Rocky dengan berlari kencang.
"Raut wajah itu sedikit berbeda." John mengerutkan dahinya memperhatikan Ricky yang terdiam sesaat ketika peluitnya berbunyi tadi.
Jhon teringat kembali ucapan Indra sebelum ia berpamitan ingin pulang ke kota tempatnya bertugas menjadi Kapten di sana.
"Anak itu memiliki kepribadian ganda atau lebih tepatnya dia memiliki 2 jiwa yang berbeda." Ucapan Indra yang sudah berlalu itu seakan membenarkan dugaan John kali ini. Melihat secara langsung perubahan yang nampak dari senyuman Ricky.
"Aku datang Viola ...." Seorang Rocky menyusul Viola dengan cepat. Hal yang tak terduga oleh Viola, dia merasa sudah cukup jauh dari jarak laki-laki itu.
"Kenapa sih laki-laki itu selalu saja mengikuti ku." Viola berusaha mempercepat langkah larinya, namun hasilnya percuma saja. Dalam sekejap Rocky sudah menyusul dengan cepat dan bahkan lebih dulu sampai di garis finish.
"Apa-apaan Ricky itu, kenapa dia tidak mau kalah dengan perempuan?!" gumam Rio.
Edo kuga mendengar ucapan Rio, ia hanya terdiam dan melihat ke arah sahabatnya itu yang terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya, namun tak di pedulikan oleh dirinya. Edo merasa Ricky tetaplah seorang Ricky yang di kenalnya sejak kecil dulu.
"Ini ..! Benar-benar rekor yang luar biasa 9,55 detik. Padahal anak itu sudah terlambat sekitar 2 detik saat start tadi." Pak John terkejut melihat angka detik di alat stopwatch miliknya.
Rekor yang di hasilkan oleh Rocky membuat pak John terkejut hingga membuatnya semakin yakin dengan semua perkataan Indra beberapa hari yang lalu. Setelah usai pelajaran pak John, kini semua siswa dan siswi kelas 3-A beristirahat, kecuali Rocky yang beristirahat ia memilih naik ke lantai paling atas hanya seorang diri saja.
"Rupanya kau di sini, bro! Ku cari kemana-mana malah di sini seorang diri," ucap Edo sembari berjalan keluar dari pintu dan menghampiri sahabatnya itu. Namun hanya tatapan malas yang terlihat di raut wajah Rocky.
"Kau tau, saat lari maraton tadi banyak yang tidak percaya dengan hasil nilai rekor milik mu." Edo mencoba menarik perhatian Rocky.
"Sekalipun aku tau, apakah ada yang bisa aku lakukan setelah mendapat nilai terbaik? Aku rasa tidak!" seru Rocky, ia berbicara tanpa melihat ke arah Edo dan hanya merasakan desiran angin sejuk yang menyapanya, menyukai kesejukan dalam kesendiriannya sedari dulu ia sukai.
"Maksud mu ..? Kau merasa tidak puas dengan nilai terbaik mu selama ini?!" T
tanya Edo, dia tidak memahami ucapan sahabatnya itu.
"Mungkin iya ... dan mungkin juga tidak," balas Rocky.
Dia masih menikmati terpaan angin sejuk sembari menikmati pemandangan hijaunya gunung-gunung terpampang di depan sana hingga memanjakan matanya melihat keindahan alam sekitar.
Edo yang merasa dirinya tidak di perhatikan oleh sahabatnya itu, dia menjadi bingung sendiri dengan sifat sahabatnya itu. Dia merasa bahwa terkadang laki-laki remaja yang ada disebelahnya kali ini selalu tersenyum dan sekarang dirinya menyaksikan lagi raut wajah dingin dari sahabatnya yang di kenalnya sebagai Ricky.
Seseorang yang berdiri di samping Edo kali ini adalah Rocky, namun sahabatnya tidak mengetahui bahwa tubuh raganya adalah milik Ricky. Edo memang merasa ada yang aneh dengan perubahan sifat pada remaja disampingnya hingga ia memilih untuk ikut terdiam menikmati angin sejuk dan juga keindahan alam sekitar bersama dengan sahabatnya. Sampai waktu istirahat habis dan melanjutkan mata pelajaran berikutnya.
"Apaaa!! Ada tambahan jam pelajaran?!" Rio terkejut mendengar pengumuman dari seorang guru biofisika yang baru masuk kelas 3-A.
"Kenapa?! Ada yang tidak setuju? Hal ini juga menyangkut kelulusan kalian semua." Tidak ada yang berani menjawab penuturan Ibu guru matematika. Hingga ada yang mengangkat tangannya ke atas.
"Hmm ... ada apa?" tanya Bu guru ke arah Rocky.
"Saya bosan," ucap Rocky dengan raut wajah santainya, membuat semua teman sekelasnya terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh seorang murid terbaik di sekolahan itu.
"Bagus!! Kalau begitu kamu ..."
"Saya bosan menunggu, bu!! Segera mulai saja pelajarannya!" seru Rocky menyela ucapan bu guru yang hendak di lontarkan kepadanya.
Semua teman sekelasnya tertegun mendengar apa yang di ucapkan oleh seorang siswa terbaik di kelas itu. Apalagi sempat mengundang suasana hening di dalam kelas.
"Ehem ..! Baiklah, sekarang bagikan buku pelajaran ini." Ucapan bu guru membuyarkan suasana hening di dalam kelas dan masing-masing anak murid membuka lembaran buku pelajaran biofisikanya yang sudah di bagikan.
"Dasar kau ini, Rick. Hampir saja bikin masalah dengan bu guru," bisik Edo.
"Kalau tidak ada hal penting yang di bicarakan, sebaiknya fokus saja dengan pelajaran," balas Rocky datar, membuat raut wajah Edo terlihat seperti orang bodoh di hadapan sahabatnya sendiri.
"Selow bro ... waktu masih banyak."
"Terserah kau saja!" Lagi-lagi Rocky membalasnya dengan wajah datar dan dingin, tak seperti biasanya yang di rasakan oleh Edo.
"Hmm ... ada apa dengannya? Perasaan ku tadi pagi masih tersenyum tampan dan sekarang kenapa malah bersikap dingin kepada ku??" gumam batin Edo.
Tanpa sengaja Edo melihat ke arah Viola yang dimana gadis itu sedari tadi memperhatikan sahabatnya yang duduk tepat di depannya.
"Oh yaa tadi pagi kan mereka masuk sekolah bersamaan, bahkan saat pelajaran jasmani mereka berdua menjadi lawan lari maraton. Aaah ... Jangan-jangan Ricky tertular dinginnya dari Viola." Prasangka Edo, ia masih tetap melihat ke arah Viola.
Tiba-tiba Viola beralih menatap tajam ke arah Edo dan benar saja dia menjadi salah tingkah dan berpura-pura membaca buku yang ada di hadapannya.
"Heh! Dasar para lelaki aneh," gumam batin Viola.