Mengikuti Pak Tua

1514 Kata
Edo yang berpura-pura membaca buku pelajaran dan sesekali dia melirik kearah Viola, ingin memastikan apakah masih memperhatikan sahabatnya itu. "Apakah mereka berdua ada sesuatu hal yang di sembunyikan?" gumam batin Edo. Dia selalu berpikir terlalu jauh yang bahkan belum tentu itu terjadi. Jam dinding sekolah sudah menunjukkan pukul sore dan aktivitas belajar di hari pertama sekolah kini sudah berakhir. Sebagian siswa ada yang pulang dengan bersepeda, ada yang berbarengan jalan kaki dan ada juga beberapa siswa pulang jalan kaki seorang diri, salah satunya adalah Rocky. "Emmm ... udara ini, aku sangat menyukainya." Rocky duduk bersantai di bawah pohon beralaskan padang rumput yang hijau, sambil menikmati keindahan matahari terbenam. Pak John yang baru keluar dari gerbang sekolah, dia pulang dengan jalan kaki saja. Saat berjalan kaki sekitar 1 km, tanpa sengaja dia melihat Ricky dari kejauhan yang sedang bersantai di bukit sana. Pak John berniat untuk menghampiri anak muridnya yang bersantai seorang diri di bukit itu. "Hmmm ... ternyata di balik wajah mu yang dingin, punya selera romantis juga yah." Pak John berdiri di samping pohon tak jauh dari posisi Rocky saat ini. "Heeh, pak tua rupanya. Mengganggu saja," ucap batin Rocky. Dia menoleh ke arah Pak John yang juga duduk di hamparan padang rumput menemani Rocky menikmati terbenamnya matahari di sore petang kali ini. John melihat pergelangan tangan muridnya itu, ia merasa bahwa benda yang melingkar di kedua tangan itu bukanlah sebuah aksesoris biasa melainkan berfungsi sebagai alat canggih yang akan melindungi dirinya. "Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Rocky. "Apa yang ku lakukan ..? Hmm ... menemani seorang murid yang sedang bersantai duduk dan menikmati pemandangan sang surya terbenam." Jawab pria tua dengan senyuman tipisnya. Membuat Rocky menjadi malas melihat senyuman di wajah pak John dan dia kembali terdiam tanpa berkata apa-apa lagi. Setelah matahari terbenam, kini Rocky berdiri dari duduknya dan ingin beranjak pergi tanpa memperdulikan lagi guru yang ada di sebelahnya itu. Namun sebelum pergi dari sana ia menoleh ke arah pak John dan ternyata sudah tidak ada di tempat duduknya tadi. "Hah!! Kemana si pak tua itu? Rasanya tadi masih ada di sini." Rocky melihat-lihat di sekitaran pohon tempat berteduh santainya tadi. Rocky membulatkan kedua matanya, betapa terkejutnya dia tidak menyangka bahwa pak John sudah berjalan kaki di jalan raya sana. "Aku tak mendengar sama sekali langkah kakinya, bahkan hawa keberadaanya tadi pun sedikit membuatku terkejut. Menarik juga pak tua itu." Rocky tersenyum tipis dan mengejar pak John yang sudah terlihat jauh berjalan disana. "Hmm ... akhirnya dia mulai tertarik dengan gaya ku. Semangatnya tinggi sekali kalau menyangkut hal yang mendebarkan seperti ini. Baiklah anak muda ikuti aku sampai batas mana kemampuan yang kau miliki." Pak John tersenyum lebar setelah mengetahui bahwa seorang anak murid yang ditemaninya tadi mengikuti kemana ia pergi. "Gila!! Dia berlari. Heh! Kau pikir siapa pak tua, dengan lari seperti itu dapat ku kejar dengan mudah." Rocky meremehkan pak John yang terlihat lari biasa baginya. Pak John terlihat berlari santai, namun telapak kakinya seperti melayang di udara tanpa terdengar sama sekali langkah kaki yang berlari itu. Rocky sedikit berkeringat mengikuti pak John dari arah belakang. "Aneh?! Padahal dia cuma berlari biasa tapi kenapa malah tidak bisa terkejar oleh ku," gerutu Rocky. Baju seragam yang dikenakan oleh Rocky kini sudah di penuhi basah keringatnya sendiri. Tanpa tau kemana arah tujuan pak John kali ini, Rocky hanya ingin mengejarnya membuktikan larinya lebih cepat dari siapapun. Namun hal yang tak terduga oleh Rocky bahwa sama sekali tidak bisa mendekati pak John yang ada di depan sana. Berlari dengan langkah seperti orang melayang tanpa ada rasa beban tubuhnya yang sudah tua itu.* Suasana sore petang sudah hampir gelap, namun kehadiran Ricky masih belum tiba di asrama membuat Mary sedikit khawatir dan terus menunggu di depan pintu sembari duduk di kursi teras depan. "Apa yang membuat remaja itu belum pulang?" gumam batin Mary. "Biar saya yang akan mencarinya, bu!" seru Edo. "Kamu mau kemana? Ini sudah hampir gelap! Tadi kamu pulang bersama dengan Ricky, 'kan?" tanya Mary nampak kekhawatiran di wajahnya. "Sebenarnya tadi Edo di suruh pulang terlebih dulu oleh Ricky, Buu," jawab Edo tertunduk. "Kenapa kamu baru bilang, hah?! Dasar kamu ini. Lalu kemana dia perginya?" tanya Mary sembari menatap ke arah Edo. "Tadi sih, dia pergi ke bukit yang tidak jauh dari sekolahan Buu," ucap Edo. "Yaa sudah, ibu mau kesana menjemputnya." Bergegas Mary ingin menuju parkiran sepeda di halaman. "Mary!!" panggil pak Rizal dengan suara seraknya. "Iyaa Pak." Langkah Mary langsung berhenti ketika Pak Rizal memanggil namanya. "Biarkan dia sayang, nanti anak remaja itu akan pulang sendiri. Dia sudah besar, mungkin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya," jelas pak Rizal. "Tapi ...." "Percayalah sayang ...." Niat Mary yang ingin menjemput Ricky kini diurungkannya, selama ini dia selalu percaya akan ucapan ayahnya maka dari itu ia berusaha menahan perasaan khawatirnya kepada Ricky. Beberapa anak panti yang mendengar Ricky belum pulang menjadi bahan pembicaraan mereka, bahkan sampai terdengar oleh Viola. "Hmm ... begitulah kalau jadi anak kesayangan, bisanya menyusahkan saja," gumam Viola. Ia kembali menaiki tangga dan ingin ke kamarnya setelah mendengar sepintas pembicaraan pak Rizal, Mary dan Edo di luar sana. Ucapan Viola tadi terdengar oleh Riani ketika ia ingin menuruni tangga. Refleks Riani menarik tangan Viola sampai membuat tertahan langkahnya. Riani ingin bertanya kepada Viola apa yang terjadi di lantai bawah, namun belum sempat melontarkan pertanyaan tangan yang tadinya menahan dirinya kini di lepas paksa. "Kamu ingin tau ..? Tanyakan langsung kepada ibu Mary di sana," ucap Viola. "Aku hanya ingin mencoba akrab dengan kamu, Viola! Kita adalah saudari, kan?" tanya Riani. "Tapi kau bukan saudari kandung ku," jawab Viola datar. "Setidaknya kita bisa akrab, Laa!" balas Riani. Viola menghela nafas pelan, ia mencoba untuk menjelaskan mengenai ucapannya tadi dan berusaha mengukir senyuman manis di wajahnya kepada Riani meski dengan terpaksa. "Riani ... aku tidak peduli dengan namanya akrab dan juga aku tidak mau tau urusan orang lain sekalipun itu saudara kita di sini! Dunia ku dengan dunia kalian berbeda, aku lebih suka sendirian," jelas Viola tersenyum paksa di hadapan saudarinya Riani. "Tapi, kan kita adalah ...." "Sudahlah, aku mau ke kamar dulu! Masih banyak tugas yang harus ku selesaikan," sela Viola, ia tak menghiraukan lagi Riani yang terdiam dan ia berjalan menghampiri kamarnya. "Dasar Lala! Tak pernah berubah sedari dulu selalu saja bersikap malu-malu dan kamu itu semakin cantik sekarang. Sebenarnya aku iri sama kamu, bisa mendapat perhatian dari Ricky tadi pagi. Tapi, aku menyukai kalian semua yang ada di sini," gumam batin Riani, kini ia menuruni tangga.* Matahari yang sudah terbenam kini berganti kegelapan malam, namun di langit yang jauh di sana terpampang seribu bintang menghiasi suasana malam kali ini. Pak John dan Rocky mereka berdua kini tiba di sebuah pantai yang menjadi tempat wisata kota kecil itu. "Hah! Hanya dengan mengejar pak tua itu, tak ku sangka bisa sampai sejauh ini berlari." Rocky terengah-engah mengatur nafasnya sehabis berlari cukup jauh mengikuti pak John. Rocky membulatkan kedua matanya, ia tidak menduga bahwa pak John terlihat masih biasa-biasa saja tanpa terlihat kehabisan nafas setelah berlari stabil sepanjang perjalanan tadi. Melainkan dirinya yang kesusahan untuk mengejar pak John bahkan sempat dirinya tergelincir saat melewati jalan hutan mengikuti jejak gurunya. "Bagaimana mungkin di usianya yang sudah terlihat tua itu masih mampu berlari jauh bahkan sampai tiba di pantai ini." Rocky menggerutu sembari berjalan mendekati pak John yang juga berjalan menuju sebuah rumah sederhana yang tak jauh di depan mereka. "Nah!! Di sinilah tempat tinggal ku," ucap Pak John, namun Rocky berjalan tanpa memperhatikan gurunya yang ada di depannya hingga tak sengaja menabrak tubuh John. "Kenapa anda tetap berdiri disitu?! Aku sudah lapar dan haus sekali." Ucap Rocky sembari menghela nafas kasar. "Hahaha ... di dalam rumah ku tidak ada persediaan makanan ataupun air untuk di nikmati," balas John. "Lalu mau makan minum dengan apa?" Tanya Rocky semakin kesal. Apalagi telunjuk Pak John mengarah ke laut sana membuat Rocky sempat heran apa yang dimaksud oleh gurunya itu. Tanpa banyak bicara lagi Rocky melihat-lihat keadaan sekitar dan ia menghampiri pohon kelapa yang tak jauh dari tempatnya berdiri kali ini. "Dia pikir aku anak manja, apa!! Lihat ini baik-baik pak tua." Rocky memanjat pohon kelapa yang cukup tinggi sekitar 3 meter. "Hehe... aku suka semangat membaranya! Tapi, dasar bodoh! Naik ke atas sana tanpa membawa peralatan. Kelakuannya tak jauh beda dengan Indra dulu, meski dalam hal lari jarak jauh anak itu cukup kuat di banding Indra." John tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan oleh Rocky di atas pohon kelapa. "Helloo ..!!" "Saya ...?" "Iyaa, siapa lagi kalau bukan anda Pak tua!!" "Haha ... rupanya sopan santun mu sudah kekeringan, yaah? Sampai-sampai cara meminta bantuan mu seperti orang yang kelaparan saja," ejek Pak John, semakin membuat Rocky tambah kesal. "Bukannya bantuin anak muridnya yang lagi butuh bantuan, malah menertawakan ku! Awas saja kalau sampai aku berhasil membawanya ke bawah sana." Rocky menggerutu sejadi-jadinya sambil memanjat pohon kelapa dengan raut wajah kesalnya. Sekitar 30 menit Rocky berhasil membawa 4 buah kelapa muda turun ke bawah meski dengan melemparnya begitu saja. "Sini biar ku bantu mengupas kelapanya," ucap Pak John sembari tersenyum kepada Rocky meski masih terlihat kesal dia tetap memberikan kelapanya kepada Pak John.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN