Pasti Kembali

1531 Kata
Rocky memberikan ke 4 buah kelapa mudanya kepada John untuk dikupas dan kini mereka berdua menikmati air kelapa muda sembari duduk di pesisiran pantai menghadap laut di malam hari. "Anda sudah lama tinggal di daerah sini?" tanya Rocky tanpa menoleh ke arah John. "Iyaa! Sudah sangat lama ku habiskan waktu sendirian disini, sejak dia pergi meninggalkan ku," ucap Pak John. "Dia ..? Siapa dia, istri anda ..?" T tanya Rocky penasaran dengan ucapan Pak John. "Benar sekali, dia adalah istri tercinta ku yang sudah lama meninggal," jelas John. "Ma-maafkan saya, saya tidak bermaksud ...." "Tak apa-apa. Berbagi cerita itu adalah jembatan untuk bisa saling kenal satu sama lain," jelas Pak John sembari tersenyum kepada remaja yang duduk santai tak jauh darinya. "Kalau boleh tahu ... apakah anda mempunyai seorang anak?" tanya Rocky sedikit penasaran. "Emm ... sayangnya, kami tidak dikarunia seorang anak. Meski begitu cinta ku kepada istri ku tak pernah padam sampai akhir usia kami," jelas Pak John, dia tersenyum teringat betapa hangatnya antara dirinya dengan istrinya dahulu. "Bahkan sampai sekarang pun anda masih tetap setia pada cinta itu?" Rocky semakin menggali pertanyaan tentang hal cinta. "Haha ... kenapa tiba-tiba kau bertanya seolah ingin tahu artinya cinta itu?!" John menertawakan Rocky membuat ia tampak kesal dan berdiri dari duduknya. "Hey, mau kemana ..?" tanya Pak John. "Aku tak butuh ejekan mu ..!" balas Rocky dengan acuh. "Haha ... kau seperti ingin merasakan yang namanya cinta, benar kan?!" Goda Pak John lagi. "Heh! Sejak lahir ke dunia ini, yang namanya kasih sayang dan cinta sudah ku dapatkan dari kedua orangtuaku. Tapi ...." Rocky tak lagi melanjutkan ceritanya, namun kepalan erat di kedua tangannya nampak membuat John memahami apa yang dirasakan oleh anak muda yang berdiri menghadap laut dengan terjangan ombak kecil membasahi kakinya. "Sebaiknya kau bersihkan badan mu. Biar aku yang siapkan makan malam untuk kita," ucap Pak John berdiri dan pergi beranjak menuju rumahnya, di balas anggukan oleh Rocky.* Dalam sebuah kamar di asrama panti. Mary menghubungi Indra dengan video call untuk memberitahukan bahwa Ricky belum pulang ke asrama. Memang Mary begitu sangat khawatir apabila salah satu anak asuhnya belum kunjung pulang sampai larut malam ini. "Biar aku lihat dulu yaa," ucap Indra, ia memastikan dengan alat pelacak yang sudah tertanam dikedua gelang milik Ricky itu. Indra tersenyum tipis melihat di hologram pendeteksi keberadaan Ricky saat ini, bahwa keberadaannya masih berada di kawasan kota itu meski sedikit lebih jauh dari kediaman Mary saat ini. "Jangan khawatir sayang, dia hanya bermain ke rumah guru ku di pantai itu!" jelas Indra. "Hanya bermain kamu bilang!! Kenapa kamu tidak memberitahukan sejak awal atau mengabari ku tentang dia belum pulang sampai saat ini. Apa kalian benar-benar tidak peduli dengan perasaan ku, hah!!" Seru Mary dengan raut wajah kesal dan memajukan bibir merah ranumnya. "Maaf sayang, bukan aku tak ingin memberitahukan kepada mu. Tapi, aku lupa karena ..." tutur Indra. "Karena kamu sudah tua, yaa kan?!" Sela Mary langsung membalas tanpa mau mendengar kelanjutan yang hendak diucapkan oleh Indra. Namun Indra sudah mengerti rasa khawatirnya Mary kepada Ricky, ia berusaha membujuk dan merayu kekasih tersayangnya dengan segala cara agar perasaannya yang gelisah itu bisa kembali tenang. Indra beberapa tahun yang lalu, ia bertunangan dengan gadis idamannya Mary. Dihari itu adalah pernyataan cinta Indra kepada Mary dan mendapat balasan cintanya. Perasaan yang sudah lama bersemi didalam hati mereka masing-masing kini sudah menjadi jelas.* Kembali di mana Rocky sudah selesai membersihkan tubuhnya dan berbaring di sofa hingga rasa kantuk menyerangnya dan tertidur pulas tanpa pedulikan lagi perut laparnya itu. John yang melihat anak muridnya tertidur pulas di sofa, ia pun mengambil selimut di dalam kamar dan kembali ke ruangan tamu untuk mengenakan selimut kepada Rocky, bahkan sempat terdengar dia bergumam dalam tidurnya. "Hmm ... dasar anak muda, besok masa depanmu akan datang kembali. Jangan menyerah!!" "Siaaaap!!" Seketika John terkejut mendengar suara nyaring dari anak remaja yang bahkan matanya masih tertutup rapat dan kembali tertidur dengan tenang. "Untung saja aku tidak jantungan! Kalau tidak, bisa mati mendadak sekarang karena ini bocah," gumam John, sembari ia melangkah pelan menuju ruang dapur. Makanan yang sudah disiapkan oleh Pak John untuk makan bersama dengan Rocky, kini disimpannya dalam lemari pendingin. Dia menunggu sampai anak remaja itu terbangun dari tidurnya, meski dirinya sendiri juga merasakan kantuk berat dan pada akhirnya John kembali keruangan depan. John menatap wajah polos anak muridnya yang baru dikenalnya satu hari ini. Ia pun duduk di sofa berseberangan dengan remaja itu dan merebahkan tubuhnya. Perlahan John memejamkan matanya hingga terlelap dalam tidurnya. Suasana semakin dingin ketika menjelang waktu subuh. Ricky kembali ke raganya setelah lama tertidur pulas beberapa jam. Dia mengerjapkan kedua matanya dan melihat langit-langit, berusaha bangun dari tempat sofa yang menjadi tempat tidurnya malam tadi. "Ini di rumah siapa? Heeh, kenapa Rocky bisa nyasar sampai ke sini?!" Gumam Ricky berdiri dari duduknya dan seketika ia melihat seorang pria yang sedari tadi memperhatikannya bangun tidur. Pak John berdiri tak jauh dari tempat Ricky berada dan ia tersenyum sembari mengajak anak remaja itu pergi ke ruang dapur meja makan untuk sarapan di pagi buta. "Sebaiknya kau cuci muka dulu di sana," ucap John menunjuk ke arah kamar mandi, di balas anggukan oleh Ricky. John merasa anak remaja yang bersamanya kali ini berbeda dengan malam tadi. Namun dia sudah memahami 2 karakter yang berbeda dalam diri remaja itu, memang sedikit sulit membedakannya yang mana sifat pemalu dan sifat pemberani. Meski begitu John hanya tersenyum tipis ia menganggap bahwa ini adalah fenomena langka pada diri seseorang. Setelah selesai mencuci muka, kini Ricky keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri meja makan. Di meja makan sudah tersedia beberapa sarapan yang disiapkan oleh John. "Mari kita sarapan dulu. Setelah itu kau bisa berangkat sekolah," ajak Pak John di balas anggukan oleh Ricky. "Bukankah ini masih terlalu pagi untuk berangkat sekolah, bahkan matahari pun belum menampakan cahayanya." Ricky bergumam sembari melihat jam digital di gelang merah tangan kirinya. "Tak perlu khawatir! Kamu tidak akan terlambat datang sekolah," ucap Pak John. "Maaf, pak! Kalau boleh tahu, saya berada di mana? Kenapa dari tadi saya mendengar gemuruh ombak di luar sana. Apakah kita dekat pantai?!" tanya Ricky memberanikan dirinya. "Hmm, yaa ... kita memang berada di pantai, ko!" balas John sembari menyuap makanan dan menikmatinya. "Hah!! Kenapa bisa sampai ke sini!" Tanpa Ricky sadari nada ucapannya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya, karena ia terkejut tidak menyangka bahwa saudaranya Rocky telah membawanya sampai ke pantai kali ini. "Kau tenang saja ... sekarang habiskan sarapan mu dulu," ucap John dengan wajah tenangnya. Ricky hanya bisa membalas dengan anggukan, ia tidak mengerti kenapa bisa sampai sejauh ini bahkan ini adalah hal pertama kali di lakukannya tidur di rumah orang yang baru dikenalnya. "Pasti Ibu Mary akan marah besar sama aku ..." gumam batin Ricky sembari menyuap makanannya ke dalam mulut. John yang melihat exspresi wajah anak itu, ia hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitas makannya sampai selesai. Setelah selesai sarapan, kini Ricky ingin bersiap berangkat namun wajahnya terlihat pucat ketika melihat seragamnya sobek di bagian lengan atas karena terkena goresan kecil saat Rocky memanjat pohon kelapa malam tadi. "Aduuuh!!! Kenapa dia tidak melepas seragamnya! Sudah sobek, bau di tambah kotor lagi." Ricky menggerutu dengan terpaksa ia hanya mengenakan kaos biasa yang dipinjamnya dari Pak John. "Ingat tehnik pernapasan yang kau baca itu!" ucap Pak John di balas anggukan oleh Ricky. Namun tiba-tiba Ricky baru tersadar bahwa apa yang di ucapkan oleh Pak John, membuatnya teringat akan sebuah buku seni dan tehnik pernapasan di perpustakaan sekolah. "Kenapa dia bisa tahu aku ..? Atau jangan-jangan bapak itu ...?" Ricky melihat ke arah Pak tua tadi namun sayangnya sudah tak terlihat lagi sosoknya. Kini Ricky berfokus mengatur nafasnya perlahan dan bersiap ingin berangkat. Terlihat jalan di depan matanya sudah terbayang begitu sulit untuk melewatinya namun berkat sharing dari Rocky, ia menjadi yakin bisa melewatinya meski tak semudah harapannya kali ini. Jalan yang di tempuh Ricky adalah jalan pintas yang di buat oleh Pak John meski harus melewati hutan dan semak-semak. Separuh waktu lebih cepat di banding menempuh jalan raya, maka dari itulah Ricky tanpa bertanya kepada John ia langsung menelusuri jalan penuh rintangan ini sebagai latihan mendasar baginya. "Saat mempraktekan tehnik pernapasan lumayan susah. Tapi, hasilnya menakjubkan! Sudah terlihat asrama pantinya di sana!!" gumam Ricky, ia tersenyum lega ketika melihat asrama panti yang dulunya bernama Putra Masa Depan. Namun, sekarang sudah berganti menjadi "Harapan Masa Depan" karena bukan hanya anak-anak putra yang tinggal di sana melainkan putri juga perlu kasih sayang ketika tidak ada lagi tempat untuk berteduh. Cahaya mentari sudah menampakan semangat paginya dan kini Ricky yang bercucuran keringat sembari menegak saliva dengan nafas tersengal-sengal sudah sampai di depan gerbang panti asuhan Harapan Masa Depan. "Hmm ... Itu ... waaaa!! Ricky sudah pulaaaaang!!" Saat Edo membuka korden jendelanya dan melihat sosok Ricky di depan gerbang, ia berteriak mengabarkan sampai terdengar oleh semua orang yang ada di asrama itu termasuk Mary juga ikut bergegas keluar untuk memastikan Ricky benar-benar pulang. Mary berlari kecil setelah keluar dari rumah dan menghampiri Ricky yang masih berdiri di luar pagar. Dengan segera Mary membuka kunci dan pintu gerbang. "Buu ... maafkan saya tidak pulang semalam," ucap Ricky tertunduk malu, namun ia tidak menyangka Mary langsung memeluk erat tubuh Ricky. "Dasar anak nakal!!" balas Mary menatap Ricky.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN