Pelukan hangat dari Mary kembali dirasakan oleh Ricky bahkan degup jantung wanita pengasuh itu terasa kekhawatiran yang teramat dalam kepadanya.
"Banyak saudara-saudari mu yang khawatir, kamu tahu?!" Memang sempat terlihat begitu manis tapi bukan berarti Mary tidak geram dengan kelakuan anak asuh yang satu ini.
Mary menjewer telinga Ricky meski tidak terasa sakit sama sekali. Ricky pun mencoba memohon maaf dengan kedua tangan rapat di hadapannya kali ini. Adegan mereka berdua banyak di lihat oleh anak-anak panti dan ada beberapa yang ikut menghampiri ke depan gerbang menyambut ke pulangan Ricky.
"Baiklah, Ibu maafkan kamu! Tapi, ingat jangan pernah ulangi lagi kesalahan yang kedua kalinya. Kalau memang ada sesuatu hal apapun, kamu ... Tidak, kalian semua juga harus izin terlebih dulu kepada Ibu, mengerti!!" tegas Mary.
"Iyaa Buu.." ucap anak panti bersamaan. Namun lain dengan Ricky, ia hanya mengangguk dan tertunduk malu.
"Yaa sudah, cepat sana kamu bersihkan tubuh mu. Biar nampak lagi senyuman di wajah tampannya," goda Mary, ia mencoba menghibur Ricky.
"Siaap Buu..!"
Ricky tersenyum dan mencium punggung tangan Mary. Dengan semangat ia masuk ke dalam asrama di sambut Edo yang sedari tadi menunggu di depan pintu masuk.
"Heeh! Selamat datang anak manja," ucap Viola saat berselisahan jalan dengan Ricky.
"Iyaa.." balas Ricky tersenyum, ia merasa bahwa Viola juga melihat kedatangannya tadi.
Ricky sangat bersyukur bahwa semua orang yang ada di asrama ini begitu mengkhawatirkannya. Begitupun dengan Viola meski dengan sikap acuhnya.
Kembali seperti aktivitas biasa di pagi hari. Mary melanjutkan masakan yang sempat di tinggalnya ketika mendengar Ricky pulang. Dengan perasaan tenang dan leganya kali ini Mary pun menghubungi Indra di tengah kesibukan paginya.
"Benarkan, anak itu pasti pulang," ucap Indra di balik layar hologram.
"Heem, nakalnya sama seperti kamu!" balas Mary tersenyum simpul.
"Enak saja bilang aku nakal! Kayak tidak pernah nakal saja kamu," ucap Indra tidak mau kalah dari Mary.
"Kapan aku berbuat nakal, 'hmm?!" Tanya Mary dengan rasa penasaran.
"Nakal kamu itu ... Telah menghipnotis ku saat ini," goda Indra.
"Ooh ... jadi merasa terganggu yah! Yaa sudah sana ..." rajuk Mary sembari bibirnya maju.
Mary ingin menutup panggilannya, namun hatinya tidak bisa di pungkiri betapa ia merasakan rindu kepada Indra kali ini.
"Aku sayang padamu, 'Mary ..." ucap Indra dengan senyumannya. Akan tetapi dia tidak mendapat balasan dari Mary, justru panggilannya di tutup begitu saja olehnya.
"Dasar gombal! Aku juga sayang kamu ..." Mary tersipu malu, karena itulah dia menutup panggilannya dengan Indra.
"Hmm ... pipimu yang memerah itu tidak bisa di sembunyikan, 'sayang!" gumam batin Indra sembari tersenyum tipis, dia sempat melihat senyuman manis Mary ketika dirinya mengucapkan sayang tadi.
"Kapten ...!"
"Kapten!! Hmm ... dia kenapa?!"
"Entahlah.. mungkin Kapten sedang di landa asmara," canda Yoga dan Kris tidak memahami dengan sikap Indra kali ini.
"Apa yang kalian bicarakan..?" tanya Indra sembari memandangi kedua bawahannya itu.
Sontak Yoga dan Kris terdiam, refleks tangan mereka memberi hormat kepada Indra. Awal mula niat mereka berdua ingin melaporkan hasil latihan dan perkembangan para prajurit baru.
"Heeh... Apa yang ingin kalian sampaikan?" Tanya Indra lagi sembari menarik nafasnya.
"Lapor Kapten! Para prajurit baru sudah siap ke tahap selanjutnya," ucap Yoga.
"Hmm, begitu ... Seberapa lama anak-anak baru itu bertahan mengenakan armor G?" tanya Indra dengan tatapan keseriusannya kali ini.
"Hampir dari mereka semua bertahan 50 menit, Kapten!" jawab Kris.
"50 menit? Lalu bagaimana dalam penguasaan senjata?" tanya Indra sembari menatap ke arah Yoga dan Kris dengan intens.
Yoga dan Kris saling menatap satu sama lain, meski mereka ragu akan hasil dari latihan tersebut. Setidaknya bisa membuat Kapten Indra lebih semangat ketika Yoga dan Kris menyarankan untuk melihatnya secara langsung.
Ke sebuah lapangan terbuka khusus latihan para prajurit baru. Semuanya berbaris rapi dan berdiri tegak dengan tangan memberi hormat kepada Kapten Indra.
Indra berjalan dan memperhatikan setiap anggota barunya. Semua prajurit sudah lengkap mengenakan armor tempur begitu juga dengan senjatanya. Masih memperhatikan dari ujung kepala sampai ke ujung kaki bahkan Indra dengan sengaja berdiri di hadapan dan menatap tajam wajah salah satu anggota barunya.
"Hari ini akan ku nyatakan kalian bisa lulus dalam latihan ini! Tapi ... Kalian semua harus melewati satu tahapan lagi." Jelas Indra kepada semua prajurit baru.
Bahkan Yoga dan Kris tidak tau apa yang di rencanakan oleh Kapten Indra kali ini. Semua prajurit itu mengikuti kemana tujuan Kapten pergi, hingga tiba di sebuah kawasan hutan yang terkenal dengan kengerian di dalam sana.*
Dahulu kawasan hutan ini di beri nama "Blue Jungle". Begitu ramai di kunjungi masyarakat sekitar dan dijadikan sebagai tempat wisata karena keindahan alam yang masih asri juga terdapat air terjun. Namun semua keindahan itu berubah menjadi kengerian yang membekas di hati warga sekitar, ketika berawal seorang wanita menghilang tanpa jejak, hingga tim penyelamat pun tak ada yang kembali sampai saat ini.
Sudah setahun berlalu sejak berita itu di turun bahkan masih hangat di bicarakan hingga kini. Dan kabarnya seminggu yang lalu sekelompok anak remaja putra-putri berkemah di kawasan hutan "Blue Jungle" itu. Namun tidak ada kabar mereka kembali pulang ke rumah masing-masing, bahkan salah satu orangtua remaja menyatakan kehilangan kontak putranya bahkan GPS dengan kecanggihannya sekalipun tidak bisa mendeteksi keberadaan anaknya.
Pemerintahan pusat memberikan misi penyelidikan di hutan "Blue Jungle" ini kepada Kapten Indra dan pasukannya. Maka dari itulah hal yang tepat untuk menguji mental dan ketangkasan para prajurit baru.
"Kabar yang beredar sudah membuat resah warga kita bahkan sebagian putra-putri mereka belum juga ada kabar baik dari tim pencarian dulu. Entah apa yang ada di dalam hutan ini, sampai-sampai tim pencarian pun tidak ada kabar dari mereka sama sekali. Jadi, misi ini di serahkan kepada kita untuk menyelidiki hal ganjil yang terjadi di dalam hutan itu. Jumlah tak menentukan hasil akhir tapi kerja keras dan kegigihan kalianlah yang membuat misi ini berhasil di selesaikan. Sekarang kita bagi kelompok dari 10 orang anggota. Yoga dan Kris tetap berjaga di sini dan siapkan radar pelacak! Dan satu hal lagi.. 10 dari kalian akan di bagi menjadi 3 kelompok 4-4-3 sampai di sini apa ada yang kalian tanyakan?!" Jelas Indra.
Namun membuat mereka semua yang ada di hadapan Indra kebingungan.
"Permisi Pak! Bukankah dari kami hanya 10 orang saja?" Tanya salah satu prajurit baru.
"Kau pikir aku hanya berdiam diri saja di sini?! Sebagai prajurit, kau harus gunakan kepala, mata, telinga, hidung dan semua indra yang kau miliki, mengerti prajurit!!!" tegas Indra.
"Siaaaap!!" balas prajurit itu dengan berdiri tegak sembari tangan hormat kepada Indra.
"Dan satu hal lagi ... akan ku perjelas untuk kalian semua. Panggil aku Kapten!" jelas Indra.
"Siaaap Kapten!!" Semua prajurit serentak mengucapkannya.
Semua perlengkapan sudah siap dan kini Indra ikut melengkapi kekurangan dalam anggota yang tadinya hanya 2 orang saja. Meski hanya bertiga dalam kelompok itu sudah lebih dari cukup karena kehadiran Indra. Berbeda arah dengan kelompok lain untuk mempercepat penyelidikan, tentunya ada sesuatu hal yang bersembunyi di dalam hutan ini.
"Apapun yang kita hadapi di hutan ini, jangan lengah sedikit pun! Seperti apa yang sudah kalian pelajari, mengerti?!" jelas Indra di balas anggukan oleh 2 anggotanya yang mengikuti dari belakang.
Menelusuri perlahan semak-semak hutan dengan penuh rasa kewaspadaan. Semakin dalam memasuki hutan semakin hawanya terasa dingin, sampai sejauh ini belum mendapatkan hal apapun yang janggal. Namun Indra masih terus melangkahkan kakinya sembari memeriksa di wilayah sekitar dengan sensor penglihatan.
Sudah hampir 12 jam berlalu dari awal memasuki Blue Jungle namun belum juga mendapatkan jejak-jejak yang aneh di dalam sana. Malam pun sudah tiba dan Indra memutuskan ingin melanjutkan penyelidikan besok pagi. Namun, saat hendak beranjak dari Blue Jungle salah satu kelompok yang terdiri 4 orang mengalami hal aneh di bahkan keberadaan mereka satu persatu menghilang dari radar milik Yoga.
"Kapten!! Ada hal yang aneh terjadi di radar ini!" seru Yoga sembari ia memperhatikan radarnya.
"Katakan apa yang terjadi..?!" tanya Indra dan berhenti dari langkahnya, begitu pun dengan 2 anggota di sekitarnya.
"Di radar ini saya kehilangan ..."
"Katakan di mana posisi mereka, sekarang!!" Indra langsung merasakan hal aneh dan bersiap ingin menghampiri ke 4 anggotanya.
"Posisi mereka tepat arah jam 2 tidak jauh dari posisi anda." ucap Yoga menginformasikan letak ke 4 anggota itu.
"Aku segera ke sana ... Tetap awasi radar, Yoga!!" Tanpa keraguan lagi Indra segera berlari menuju lokasi yang di sampaikan oleh Yoga, begitu juga 2 anggota di belakang Indra mengikutinya.
Indra terus berlari cepat menuju tempat di mana ke 4 anggotanya menghilang bahkan radar pelacak saja tidak mampu mendeteksi keberadaan mereka, hanya menyisakan titik tempat hilangnya kontak dengan ke 4 prajurit baru itu.
Hampir sampai di tempat tersebut Indra melihat cahaya dinding dimensi yang tak asing lagi baginya.
"s**t!! Tidak salah lagi itu adalah dinding dimensi," batin Indra, ia berhenti dan memerintahkan kepada semua anggota untuk tetap siaga.
"Selama 48 jam aku juga tidak kembali ke sini, barulah kalian minta bantuan." Indra memastikan waktu 48 jam misi bisa diselesaikannya olehnya.
"Lalu bagaimana dengan kami, Kapten?" tanya salah satu anggota yang sedari tadi mengikuti kemana Indra melangkah.
"Terlalu berbahaya kalau kalian ikut bersamaku masuk ke dalam dimensi itu! Lagi pula aku pun belum pernah masuk ke dunia asing itu, tetaplah bersiaga di sini sampai batas waktuku habis, barulah laporkan apa yang terjadi di "Blue Jungle" ini, mengerti!!" jelas Kapten Indra.
"Siap Kapten!!" angguk kedua anggotanya.
Segera Indra memasuki dinding dimensi yang hendak memudar dan perlahan menghilang dari pandangan kedua anggotanya. Dari radar pelacak milik Yoga, keberadaan Kapten Indra juga menghilang seperti halnya ke 4 anggotanya.
"Sensasi ini ..." Tubuh Indra serasa melayang-layang di udara.
Semua sistem armor yang di kenakan oleh Indra menjadi aneh dan kacau, bahkan power Lifestone tiba-tiba meningkat dengan sendirinya. Di tengah perpindahan dimensi seperti dalam mimpi yang Indra rasakan. Hingga pada akhirnya terlihat sebuah kota dan itu membuat Indra tidak habis pikir adalah posisi dirinya berada di tengah-tengah gravitasi antara 2 kota yang berlawanan hukum alam.
"Ini benar-benar aneh tapi nyata! Di bawah kota.. di atas kota.." gumam Indra, dia melayang di udara.
Seketika armor milik Indra terasa panas dan berat, dengan terpaksa ia memilih untuk mendarat di salah satu kota terdekat dengan menggunakan jet pack dari perlengkapan sistem armornya.
Indra turun di salah satu perbukitan dan melihat di sekitarnya, ia merasa sangat asing memijakkan kaki untuk pertama kalinya di dunia yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Indra masih mencoba mencari keberadaan 4 anggotanya yang hilang entah kemana. Ia memeriksa dengan sistem deteksi miliknya namun hasilnya tetap nihil dan hanya bisa bersabar sambil terus berjalan menuju ke suatu tempat yang mungkin saja bisa menemukan petunjuk.
"Sungguh aneh kenapa sistem G tidak bisa berfungsi dengan baik, padahal energi Lifestone semakin kuat di sini?!" Indra dengan terpaksa mematikan sistem G agar energi Lifestone tetap stabil tidak mengalami hal aneh seperti memanas disekujur armornya.
Sesekali Indra melihat ke atas sana sembari berjalan melangkah, benar-benar membingungkan dunia apa yang ia masuki kali ini adalah Dunia Paralel. Namun kota-kotanya hanya terlihat biasa saja tak seperti Dunia Modern yang serba canggih.
Dari kejauhan terlihat ke 4 anggotanya di giring oleh beberapa orang yang terlihat aneh di sana, Indra mendekat dan mengikuti dari belakang, suatu hal tak terduga ada seseorang yang membuntuti Indra dari belakang dan menghentikan langkahnya tanpa bisa bergerak sama sekali.
"Baru saja 4 orang asing di temukan dan sekarang muncul lagi satu, ada apa ini?" Ucap orang yang menghentikan Indra.
"Sial!! Dia menggunakan alat apa, hingga aku tidak bisa bergerak sama sekali?!" Indra bergumam dalam hatinya.
"Jangan melawan..!" tegas orang asing itu.
Tangan Indra tiba-tiba bergerak sendiri bahkan menyilangkan kedua tangannya kebelakang terasa seperti ada sesuatu yang menjerat. Dengan terpaksa Indra menuruti semua kemauan orang itu dan berjalan menghampiri kelompok orang-orang asing yang juga membawa ke 4 anggota Indra.
"Saya menemukan satu orang lagi!" teriak orang itu yang membawa Indra kepada kelompoknya.
"Bukankah itu Kapten..?!" bisik salah satu anggota Indra.
"Benar, tidak salah lagi. Itu adalah Kapten Indra." Secercah harapan ke 4 anggotanya kini bisa merasa sedikit lebih lega dari sebelumnya.
Kini Indra dan ke 4 anggotanya menjadi tawanan para makhluk asing berjubah, mereka juga menggunakan penutup masker.
"Kapten ..." sapa ke 4 prajurit baru itu.
"Hmm ..." angguk Indra sebagai isyarat kepada semua anggotanya untuk mengikuti kemana mereka dibawa kali ini.
"Aku harus lebih bersabar dan memastikan bahwa para remaja yang hilang itu pasti juga dibawa ke sebuah tempat. Semoga saja dugaanku ini benar." Sambil berjalan Indra memperhatikan sekitar untuk merancang strategi yang akurat.