Sang Raja Alderts

1700 Kata
Waktu terus berputar hingga sudah memakan waktu 3 jam sejak Indra masuk dimensi lain. Yoga dan Kris hanya bisa menunggu di hutan itu bersama para prajurit baru, sampai batas waktu 48 jam selesai tidak ada yang berani melanggar perintah dari Kapten Indra. "Misi kali ini benar-benar di luar perkiraanku," ucap Kris, ia duduk dan berdiri lagi sembari mengisap puntung rokoknya. "Kalian tidak perlu khawatir, kalau Kapten sudah ikut menjalankan misi pasti bisa teratasi dengan baik," balas Yoga meyakinkan Kris dan juga para anggota yang lainnya. "Yaah kau benar, kita harus percayakan semuanya kepada Kapten Indra," tambah Kris. "Lalu apa gunanya kita berlatih selama ini, jika hanya bisa menunggu dan berdiam diri saja di sini!" keluh salah satu prajurit itu. "Ingat baik-baik prajurit! Mentaati perintah Kapten juga disebut menjalankan misi, sekalipun kau harus menunggu dan bertahan selama seminggu di sini, mengerti!" tegas Yoga. Prajurit itu hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya karena merasa malu atas perkataannya tadi. Begitu juga yang lainnya, tidak tau harus bagaimana karena bagi mereka ini adalah misi pertama setelah sekian lamanya berlatih namun ternyata misi kali ini di luar perkiraan. "Aku mengerti apa yang ingin kalian lakukan ... tidak bisa hanya berdiam diri saja, 'kan? Tapi masalahnya, kita tidak tau harus bagaimana menyusul Kapten ke dimensi itu." Semua hanya bisa menunggu waktu sampai 48 jam lamanya, sedangkan kini sudah lebih dari 10 jam berlalu. "Maaf, apakah tidak ada cara lain untuk masuk ke dimensi itu..? Aku mendengar desas-desus bahwa Prof. Sheo Lee sedang menciptakan sebuah alat untuk membuka portal." Yoga dan Kris terkejut ketika mendengar ucapan salah satu prajurit itu dan Kris menghampirinya. "Darimana kau mendapat informasi itu, katakan padaku?" tanya Kris dengan tatapan rasa penasarannya kepada prajurit yang bernama Brus. "Nenekku juga seorang ilmuwan seperti Prof. Lee dan tentu mereka adalah teman baik. Sekarang nenek ikut serta membantu dalam penciptaan sebuah alat portal tersebut," jelas Brus membuat Kris mencoba mengingat-ingat saat dia terakhir kali melihat ada seorang wanita yang juga ikut membantu Prof. Sheo Lee dalam proyeknya. "Setahu ku ... wanita yang membantu Prof. Lee masih muda dan cantik. Apa aku yang salah lihat atau anak ini yang berbohong padaku?" batin Yoga dan melirik kearah Brus. "Ada apa dengan anda, 'senior?" heran Brus merasa tidak enak diperhatikan oleh Yoga seperti itu. "Sekalipun alat itu ada ... belum tentu juga langsung berhasil di uji coba. Terlebih lagi tak semudah itu dalam pembuatan mesin portalnya," tutur Kris. "Maaf, senior Yoga dan juga senior Kris. Bukan saya ingin melanggar perintah Kapten. Tetapi ... kita harus melakukan sesuatu dari pada hanya menunggu sampai waktu habis. Lagi pula belum tentu juga kapten di sana bisa keluar dari dimensi itu tanpa adanya sebuah portal lagi." Apa yang di katakan oleh Brus memang ada benarnya. Bahkan anggota yang lain pun juga setuju dengan pendapat Brus kali ini. Tanpa ragu-ragu lagi Yoga langsung menghubungi Edwin yang masih bertugas mengawasi Ricky di asrama "Harapan Masa Depan" itu. Edwin yang mendengar semua cerita dari Yoga, dia hanya merespon datar tanpa ada komentar sama sekali karena Edwin tau betul ketika kapten Indra menjalankan misinya. "Situasi sekarang berbeda, Edwin!" seru Yoga, namun Edwin tetap pada pendiriannya. "Aku tidak yakin soal anak itu bisa di andalkan. Karena yang ku tau kekuatan Ricky itu memicu timbulnya dimensi iblis sesuatu hal yang sangat mengerikan. Kau sudah melihatnya sendiri, 'kan?" Yoga teringat insiden di kota mati dulu saat menjalankan misi penyelamatan waktu itu. "Tapi ... Hanya dia yang bisa membuka portal untuk membawa kapten dan yang lainnya kembali ke alam ini," pinta Yoga. Edwin menutup panggilannya dengan Yoga. Meski sebenarnya Edwin ingin sekali membantunya. Tapi, karena dia tidak yakin apakah Ricky bisa mengendalikan kekuatannya tanpa harus mengundang makhluk mengerikan keluar dari dimensi iblis. Waktu terus bergulir sampai rembulan bersinar terang di atas langit malam. Edwin terus-terusan memikirkan bagaimana kalau benar kapten Indra tidak bisa kembali ke dunia ini. Dirinya sangatlah mengagumi sosok Indra, hingga dia mulai berpikir untuk menyusul Ricky dan meminta izin terlebih dulu kepada Mary selaku pengasuh sekaligus ibu angkatnya. Meski Edwin tau bahwa ini sudah larut malam, dengan terpaksa dia ke asrama itu apapun resikonya nanti yang di terimanya. Di luar gerbang panti asuhan Edwin menekan bel tak henti-hentinya sampai Mary pun keluar dari asrama dan menghampiri pria yang masih berdiri tegak di luar pagar itu. "Anda ... Ada perlu apa anda datang kemari malam-malam seperti ini? Ini sudah tengah malam dan Ricky tidak ada di sini," jelas Mary. "Iyaa, saya hanya meminta izin kepada Ibu untuk membawa Ricky," pinta Edwin tanpa berbasa-basi lagi. "Apakah ini bersangkutan dengan Indra?" tanya Mary dengan rasa penasarannya. "Maaf, saya tidak ada waktu untuk menjelaskannya." Edwin langsung berpamitan dengan Mary tanpa ada penjelasan sama sekali dari pertanyaan Mary tadi. Dengan menaiki motor Edwin mengendarai dengan kecepatan tinggi menyusul Ricky yang berlatih di tempat pak John. Cukup 35 menit Edwin sudah tiba di pantai dan terlihat rumah pak John di sana. Saat Edwin turun dari motornya dan berjalan ingin menghampiri rumah itu, secara mengejutkan dentuman dan hempasan air laut mengenai Edwin hingga semua pakaiannya basah. "Eeeh ... Baru pertama kali datang ke tempat ini, aku langsung di sambut meriah olehnya," pasrah Edwin melihat baju dan celananya bahkan atribut di tubuhnya basah semua. Terlihat sosok Ricky berjalan keluar dari air dengan setengah telanjang d**a di sana. Begitu nampak dari kejauhan matanya bersinar biru di kegelapan malam membuat Edwin tertegun bukan karena melihat wajah tampan anak itu melainkan aura yang terpancar di sekitar tubuhnya bersinar bagaikan kobaran api biru. "Waaah ... Tumben sekali anda datang kemari," sapa Ricky. "Ini pertama kalinya anda datang kemari?" tambah Pak John yang tiba-tiba ada di samping Edwin membuatnya tidak percaya dengan apa yang dia rasakan saat ini. "Saya langsung saja ke poin utama!" ucap Edwin, dia ingin mempersingkat waktu. "Tenang dulu anak muda, kau baru saja datang. Lagi pula, apakah badanmu tidak kedinginan basah seperti itu?" tegur John memperhatikan sekujur tubuh Edwin yang basah. Seketika Edwin merasakan tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya merinding karena angin di pantai sangat sejuk di tambah basahnya semua pakaian yang dikenakannya. Edwin tidak bisa berbicara apa-apa lagi dan hanya menuruti ajakan Pak John untuk masuk ke dalam rumahnya juga di susul oleh Ricky dari belakang. Setelah beberapa menit kemudian Edwin sudah mengganti pakaian yang di pinjamnya dari Pak John. Edwin berjalan dan melihat Ricky tertidur pulas di sofa, namun saat itu juga ia mencium aroma kopi dari depan rumah dan menghampiri Pak John yang lagi bersantai di teras rumah duduk di kursi sembari menikmati hangatnya minuman kopi kesukaannya. "Kenapa anda belum juga tidur?" tanya Edwin sembari berjalan dan duduk di kursi sebelah Pak John. "Hmm, ini sudah memasuki dini hari dan aku tidak terbiasa tidur kalau sudah sepertiga malam akhir," jawab Pak John. Edwin hanya bisa menggelengkan kepalanya mendapati jawaban dari orangtua seperti Pak John dan dia pun berpamitan untuk masuk ke dalam rumah. Hingga Edwin pun duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya yang kelelahan, sebelum memejamkan matanya ia melihat wajah polos Ricky yang tertidur pulas dan perlahan rasa kantuk Edwin semakin berat dan akhirnya terlelap.*** Indra dan ke 4 anggotanya di bawa ke sebuah bangunan megah dan elegan. Hingga langkah mereka berhenti di hadapan sang Raja, semua orang yang berjubah itu menundukkan kepalanya dan memberi hormat kepada Sang Raja, begitu juga Indra dan anggotanya di paksa bertekuk lutut di hadapan Raja. Untuk pertama kalinya Indra berserta para anggotanya melihat manusia dengan telinga panjang dan runcing ke atas, bahkan paras Sang Raja itu tampan menawan. "Siapa lagi mereka ini?!" tanya Sang Raja. "Maafkan kami Paduka Raja ... entah datang dari mana asalnya mereka ini. Namun saya melihat jelas bahwa ada sebuah portal terbuka hingga beberapa orang asing ini keluar dari sana secara bergantian," jelas singkat salah satu orang berjubah itu. "Yaa ... portal itulah yang membawa kami ke sini!" tambah Indra. "Hmm ... sama seperti waktu itu." Raja berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Indra dan anggotanya. "Biar ku tebak ... Kalian ini pasti mencari beberapa orang yang lebih muda itu, 'kan?" tanya Sang Raja tanpa basa basi lagi. "Anda benar sekali! sekarang ada di mana anak-anak muda itu," pinta Indra memperhatikan Raja itu dengan tatapan intensnya. "Sayang sekali, kedatangan kalian terlambat untuk menjemput para pemuda itu," ucap Sang Raja, ia berjalan kembali ke kursi tahtanya. Membuat Indra menjadi penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Raja itu. "Apa yang terjadi kepada mereka?" desak Indra, dia berdiri ingin menghampiri Sang Raja. Langkah Indra langsung di cegat oleh seorang berjubah di sana dengan kekuatan sihirnya hingga tubuh Indra tidak bisa bergerak sama sekali. "Jangan coba-coba bersikap kurang ajar kepada Raja kami, manusia!" seru seorang berjubah itu. Sempat terjadi perseteruan di hadapan Raja. Ke 4 anggotanya ingin melawan dan berontak, namun hasilnya percuma mereka langsung kena jerat sihir seperti Indra yang tidak bisa bergerak. Namun alangkah terkejutnya semua yang ada di sana, Sang Raja justru menghentikan tindakan bawahannya untuk melepaskan sihir itu. "Paduka Raja ... Kenapa anda?" heran seorang berjubah itu dengan sikap Rajanya. "Jangan kau luapkan amarah mu kepada mereka! Dan kita adalah ras Elf, tak pantas melakukan hal seperti ini," ucap Sang Raja meninggikan suaranya, hingga semuanya yang berpakaian jubah itu melepas tutup kepalanya dan bertekuk lutut di hadapan Rajanya. Tubuh Indra yang tadinya tidak bisa bergerak sama sekali, kini sudah terlepas dari jeratan sihir para Elf berjubah tadi. Salah satu di antara Elf ada seorang wanita berwajah cantik. "Maafkan kami Paduka Raja," ucap wanita cantik itu dengan wajah tertunduk. "Berdirilah ... aku hanya tidak ingin ada sebuah keributan di sini!" seru Sang Raja. "Bisakah anda jelaskan ... apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Indra. "Kau melihat bukan ada sebuah kota di atas sana?" tanya balik Raja. "Yaa, lalu ..." "Orang-orang yang kau cari berada di sana. Tapi ..." "Tapi ... tapi kenapa Raja! katakan saja, jangan membuat ku menunggu," desak Indra menjadi sedikit emosi. "Jaga bicaramu, manusia!" tegas wanita cantik itu, namun Sang Raja mengisyaratkan dengan tangannya agar tetap tenang. "Mereka semua di penjarakan oleh Raja Gautham. Kecuali ... hanya seorang gadis saja yang bisa lolos dan dia berhasil menyebrang sampai ke kerajaan kami," jelas Sang Raja yang bernama Alderts. "Seorang gadis?" heran Indra dengan cerita Raja itu. "Yaa, dia tepat berdiri di belakangmu," balas Raja Alderts. Indra menoleh kebelakang dan dia mengerutkan dahinya tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Sang Raja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN