Cintah di Langit Flores
Bab 1 – Gadis yang Menyimpan Senja
Langit Flores sore itu bagai kanvas Tuhan yang dilukis dengan semburat oranye, merah jambu, dan ungu yang menyatu dalam harmoni. Di sebuah bukit kecil di pinggiran desa Watublapi, Anjani duduk sendirian. Angin meniup pelan rambut panjangnya yang dikepang rapi. Ia memeluk lutut sambil menatap ke arah matahari yang perlahan turun di balik pegunungan.
Tempat itu adalah pelariannya. Setiap hari, selepas membantu ibunya menenun atau mengurus ladang kecil milik keluarga, ia akan naik ke bukit itu. Bukit Senja—begitu ia menyebutnya. Tempat di mana ia bisa bicara dengan langit, berbisik pada awan, dan mendengarkan cerita angin.
Tak banyak yang tahu tentang bukit itu, bahkan orang-orang desa pun jarang mendaki ke sana. Tapi bagi Anjani, bukit itu adalah bagian dari dirinya. Tempat ia menangis, tertawa, dan berkhayal tentang dunia di luar Flores yang belum pernah ia lihat.
Hari itu terasa berbeda. Ada kegelisahan di hatinya. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi.
Suara ranting patah membuatnya menoleh. Seorang lelaki muncul dari balik semak. Tinggi, kulit terang, rambut cokelat keemasan yang berantakan karena angin, dan mata biru secerah laut di musim panas. Lelaki itu tampak lelah, tapi tatapannya hangat.
“Permisi,” katanya dalam bahasa Indonesia yang patah-patah tapi manis di telinga. “Ini... tempat lihat sunset, ya?”
Anjani terdiam sejenak. Ia belum pernah melihat orang asing naik ke bukit itu. Apalagi bule.
“Iya,” jawabnya pendek.
Lelaki itu tersenyum, lalu duduk di tanah beberapa meter darinya. Cukup jauh agar tidak terasa mengganggu, tapi cukup dekat untuk membuat jantung Anjani berdetak tak karuan.
“Aku Cristian,” katanya, menawarkan tangan.
Anjani ragu, lalu menyambutnya. “Anjani.”
Nama itu terasa asing di lidah Cristian, tapi ia mengulangnya pelan. “Anjani... Nama yang cantik.”
Mereka kembali diam. Hanya suara burung dan angin yang terdengar.
“Aku mimpi tentang tempat ini,” kata Cristian tiba-tiba. “Bukit, langit senja, dan... seorang gadis duduk sendiri. Persis seperti ini.”
Anjani menoleh, matanya membulat. “Mimpi?”
Cristian mengangguk. “Aku pelukis. Keliling dunia. Tapi setiap malam, mimpi ini datang. Aku tidak tahu di mana tempat ini sampai aku lihat foto tentang Flores di internet. Aku merasa... harus ke sini.”
Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan buku sketsa. Di dalamnya ada gambar-gambar yang membuat Anjani tercengang—lukisan bukit dengan sudut yang sama, warna langit, bahkan sosok gadis yang duduk memeluk lutut.
“Itu aku,” bisik Anjani, hampir tak percaya.
Cristian menatapnya, lembut. “Mungkin ini takdir.”
Anjani tertawa kecil, menutupi rasa gugupnya. Tapi di hatinya, ada desir hangat yang sulit dijelaskan.
Senja semakin pekat. Langit berubah menjadi jingga keemasan, lalu perlahan gelap. Mereka duduk dalam diam, menikmati kebersamaan yang anehnya tidak canggung.
Cristian berbicara lagi. “Kamu percaya... dunia punya rahasia?”
Anjani menoleh. “Maksudmu?”
“Seperti... pertemuan ini. Terlalu aneh untuk kebetulan.”
Anjani tidak menjawab. Tapi dalam hatinya, ia tahu—ini bukan pertemuan biasa. Ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Anjani terbangun pagi itu dengan perasaan yang aneh. Seperti ada sesuatu yang berbeda, meski ia hanya duduk di tempat yang sama, di bukit yang sama, menikmati senja yang sama. Namun, kali ini, kehadiran Cristian dalam hidupnya seperti sebuah sinar yang menembus kabut, memberi petunjuk pada jalan yang belum pernah ia duga.
Setelah pertemuan mereka kemarin sore, Anjani merasa pikirannya semakin terbuka. Mungkin ini kebetulan, atau mungkin ini adalah takdir yang mempertemukan mereka. Cristian, seorang pelukis dari Italia, dengan matanya yang penuh rasa ingin tahu tentang Flores, tentang desa kecil ini yang bagi Anjani terasa biasa saja. Namun, bagi Cristian, setiap sudutnya adalah karya seni.
Setiap hari, mereka bertemu di bukit itu, berbicara tentang kehidupan, seni, dan segala hal yang tak pernah terlintas dalam pikiran Anjani. Cristian menceritakan pengalamannya berkeliling dunia, menciptakan lukisan dari tempat-tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sedangkan Anjani, hanya bisa mendengarkan dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. Ia tidak tahu bahwa kehidupan yang ia anggap sederhana di Flores ini, bisa menjadi begitu luar biasa di mata orang lain.
Hari demi hari, perasaan mereka mulai berkembang. Anjani merasa ada sesuatu yang tumbuh di dalam hatinya—sesuatu yang sudah lama terkubur, yang hanya bisa muncul ketika seseorang mampu melihat dirinya lebih dalam dari sekadar kulitnya. Cristian tidak hanya melihatnya sebagai seorang gadis lokal dari Flores, tetapi sebagai sosok yang istimewa, yang bisa berbicara melalui lukisan yang ia buat.
Namun, meskipun mereka semakin dekat, ada hal yang mengganjal di hati Anjani. Cristian sering kali berbicara tentang pulang. Tentang Italia, tentang keluarganya, dan tentang kota-kota besar yang ia tinggalkan. Anjani tahu bahwa suatu saat, dia pasti akan kembali ke negaranya, meninggalkan Flores dan mungkin, meninggalkan dirinya.
Tapi Anjani juga tahu bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang kekhawatiran seperti itu. Ia ingin menikmati setiap detik yang ada, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia ingin menikmati senja-senja di bukit itu, berbicara tentang hal-hal kecil dan besar bersama Cristian, meski hanya untuk sementara.
Pada suatu malam yang penuh bintang, ketika langit Flores begitu cerah, mereka berdua duduk di bawah pohon besar di bukit. Cristian mengeluarkan kanvas dan cat minyaknya. Anjani menatapnya dengan heran.
"Apa yang akan kamu gambar malam ini?" tanya Anjani, suara lembutnya menyatu dengan angin malam.
Cristian tersenyum, matanya berkilau. "Kamu," jawabnya singkat, namun tegas.
Anjani tersentak. "Aku?"
"Iya," jawab Cristian, membuka palet cat. "Aku ingin menangkapmu dalam lukisan ini. Tapi bukan hanya wajahmu. Aku ingin menangkap seluruhmu. Seluruh senja yang ada di dalam dirimu."
Anjani merasa hatinya berdegup kencang. Kata-kata itu, meskipun sederhana, terasa begitu dalam. Ia merasa seperti sedang berada di tengah-tengah sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Cristian mulai melukis dengan penuh perhatian. Tangannya bergerak lincah di atas kanvas, menggambarkan pemandangan di sekeliling mereka. Anjani melihatnya dengan seksama, berusaha memahami betapa detailnya dunia yang dapat dilihat oleh seorang pelukis.
Namun, ada sesuatu dalam lukisan itu yang membuat Anjani terdiam. Di tengah kanvas, ada sosok dirinya, namun dengan warna yang berbeda—lebih terang, seolah ia bukan hanya seorang gadis lokal yang sederhana. Melalui lukisan itu, Anjani merasa seperti ia sedang melihat dirinya dalam versi yang lebih besar, lebih luas dari kehidupan yang biasa ia jalani.
Lukisan itu bukan hanya tentang wajahnya, tapi tentang siapa dia sebenarnya—tentang impian dan harapan yang belum pernah ia ungkapkan. Itu adalah versi dirinya yang ia sembunyikan selama ini, bahkan dari dirinya sendiri.
Ketika Cristian selesai melukis, ia menatap hasil karyanya dengan bangga. "Ini kamu," katanya pelan, "Ini dirimu yang sebenarnya."
Anjani terdiam, mata terasa panas. Ia tidak bisa berkata-kata. Sebuah perasaan yang rumit mengalir dalam dirinya. Perasaan senang, terharu, dan sekaligus takut.
"Kenapa takut?" tanya Cristian, membaca ekspresi wajah Anjani. "Kamu terlihat seperti melihat sesuatu yang jauh di dalam dirimu."
Anjani menggelengkan kepala, berusaha menahan air mata yang hampir keluar. "Aku... aku tidak tahu," jawabnya pelan. "Tapi aku merasa ada sesuatu yang akan berubah."
Cristian menatapnya lama, seolah mencoba mencari tahu apa yang ada di dalam hati Anjani. "Mungkin kita tidak bisa menghindari perubahan," katanya pelan. "Tapi kita bisa memilih bagaimana kita menghadapinya."
Anjani menunduk, meresapi kata-kata itu. Ia tahu, sesuatu yang besar akan terjadi dalam hidupnya. Sesuatu yang melibatkan Cristian. Dan entah bagaimana, ia merasa bahwa pertemuan mereka ini bukan kebetulan. Mereka sudah terikat oleh takdir, meskipun ia tidak tahu ke mana arah takdir itu akan membawa mereka.
Di bawah langit Flores yang penuh bintang, mereka duduk dalam keheningan, berbagi waktu yang tak tergantikan. Hari-hari akan berlalu, tetapi kenangan tentang senja, tentang lukisan, dan tentang perasaan yang tumbuh di antara mereka, akan selalu ada.
Hari-hari berlalu seperti aliran sungai yang tenang di desa itu. Sejak pertemuan mereka yang pertama, Anjani dan Cristian menjadi tak terpisahkan. Setiap senja adalah milik mereka. Setiap pagi adalah harapan baru untuk melihat satu sama lain. Cristian mulai menetap lebih lama di Flores, bahkan menyewa rumah kecil dekat laut hanya agar bisa lebih dekat dengan Anjani dan suasana desa yang begitu menginspirasinya.
Namun, dalam diam, Anjani menyadari sesuatu: hatinya mulai rapuh. Bukan karena ia tak bahagia, tetapi karena ia mulai merasakan ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan. Ia tahu waktu mereka bersama mungkin terbatas. Cristian adalah angin dari negeri jauh, dan angin selalu bergerak, tak pernah benar-benar tinggal.
Suatu pagi yang mendung, Anjani duduk di bawah pohon lontar, memandangi laut yang sedikit bergelombang. Biasanya, Cristian akan datang membawa kopi hangat dan cerita-cerita lucunya. Tapi pagi itu, Cristian terlambat. Dan anehnya, ia datang dengan wajah yang berbeda—serius, mata sedikit sembab, dan senyum yang tak sampai ke mata.
"Ada yang ingin aku bicarakan, Anjani," ucapnya lirih sambil duduk di sampingnya.
Anjani menoleh cepat, jantungnya langsung berdebar tak karuan. "Kau terlihat aneh. Kenapa?"
Cristian menarik napas panjang. "Aku dapat kabar dari Italia. Ibuku sakit keras. Aku harus pulang."
Sejenak dunia seperti berhenti. Anjani terdiam, tak mampu merespons. Kata “pulang” terdengar seperti denting lonceng di kepalanya—nyaring dan menyakitkan.
"Berapa lama?" tanyanya pelan.
Cristian menunduk. "Aku belum tahu. Bisa lama... bisa selamanya."
Anjani merasa seperti ditarik ke dalam laut yang dalam. Ia ingin menjerit, tapi ia tahu ini bukan kesalahan siapa-siapa. Hidup memang seperti ini. Ia hanya bisa menggenggam ujung bajunya sendiri, menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya.
"Kalau begitu... pergi dan temuilah ibumu. Itu yang benar," ucapnya, meski hatinya berteriak lain.
Cristian menoleh padanya. "Aku ingin kamu ikut. Ke Italia."
Anjani terperangah. "Apa?"
"Aku ingin kamu ikut denganku, Anjani. Aku tahu ini cepat. Tapi selama aku di sini, kamu membuatku merasa hidup. Kamu adalah inspirasiku. Aku tidak bisa membayangkan meninggalkanmu di sini."
Anjani bingung. Tawaran itu seperti mimpi dan mimpi itu datang dari orang yang ia cintai. Tapi ia tak bisa menjawab dengan mudah. Flores adalah rumahnya. Ibunya yang menjanda, adik-adiknya yang masih sekolah, ladang kecil yang harus ia bantu urus... semua itu adalah hidupnya.
"Aku... butuh waktu," katanya lirih.
Cristian mengangguk. "Ambil waktu yang kamu butuhkan. Tapi ingat, aku akan menunggumu. Bahkan jika kamu tak ikut, hatiku akan selalu tertinggal di sini, bersamamu."
Hari-hari berikutnya terasa berat. Anjani mulai mempertanyakan segalanya. Tentang mimpinya yang selama ini ia kubur. Tentang dunia luar yang selama ini hanya ia lihat dari televisi atau cerita turis. Cristian memberinya pilihan, tapi juga menghadirkan dilema.
Sore itu, Anjani pergi ke makam ayahnya. Duduk diam sambil menatap batu nisan yang sederhana.
“Ayah… kalau ayah di sini, apa yang harus Anjani lakukan? Pergi bersama lelaki asing ke negeri yang jauh? Atau tetap tinggal dan jalani hidup seperti biasa?”
Angin sore menyapu rambutnya. Burung camar terbang rendah. Dan untuk pertama kalinya, Anjani merasa benar-benar dewasa. Ia tak bisa terus bergantung pada orang lain untuk menentukan jalan hidupnya. Ia harus memilih.
Malam itu, ia menulis surat untuk Cristian.
---
Cristian,
Terima kasih telah hadir dalam hidupku. Dalam waktu yang singkat, kamu mengajarkanku bahwa aku bisa bermimpi lebih besar, bahwa aku bisa dilihat lebih dari sekadar gadis kampung.
Aku tidak tahu bagaimana rasanya hidup di negeri yang jauh. Tapi aku tahu rasanya kehilangan. Dan aku tidak ingin kehilanganmu.
Jika kamu benar-benar menginginkanku di sisimu, maka aku akan mencoba. Bukan untuk meninggalkan hidupku di sini, tapi untuk membawa kisah kita ke tempat yang lebih jauh.
Aku akan ikut denganmu, Cristian.
-Anjani
---
Keesokan harinya, mereka berdiri di pelabuhan Labuan Bajo. Matahari terbit di ufuk timur, mewarnai langit dengan semburat jingga keemasan. Cristian memegang tangan Anjani erat. Mereka tahu, perjalanan mereka baru saja dimulai.
Mereka tidak tahu apa yang menanti di Italia, tapi satu hal yang pasti: cinta mereka telah melintasi batas, waktu, dan bahasa.