Cerita Oleh Frans Selan
author-avatar

Frans Selan

bc
Dia yang Memilihku, Si Gadis Timur yang Pernah Diremehkan, Tapi Kini Berdiri di Samping Pria Kaya dari Korea"
Diperbarui pada Aug 13, 2025, 23:52
BAB 1: Senyuman Gadis Timur Namaku Melina. Lahir dan besar di Kota Kupang, kota kecil di Timur Indonesia yang penuh dengan cahaya matahari, angin pantai yang hangat, dan senyuman tulus dari orang-orangnya. Aku bukan siapa-siapa, hanya gadis biasa dari keluarga sederhana yang hidup di pinggiran kota. Ayahku nelayan, ibuku penjual sayur di pasar. Sejak kecil, aku tahu hidup takkan pernah mudah, tapi aku punya mimpi—dan aku berani mengejarnya. Orang sering meremehkanku. Kulitku gelap, rambutku ikal tebal, logatku kuat, dan aku bukan bagian dari standar kecantikan yang sering dipuja di media sosial. Di sekolah, aku sering dicibir karena sepatu bututku atau karena tak bisa ikut ekskul mahal. Tapi aku tak pernah menyerah. Aku percaya bahwa kecantikan bukan hanya soal rupa—tetapi juga tentang hati yang tulus dan tekad yang kuat. Aku punya satu impian besar: menjadi penari profesional dan memperkenalkan budaya daerahku ke dunia. Kupang punya banyak tarian tradisional yang indah, dan aku ingin orang mengenalnya. Aku melatih diriku sendiri lewat YouTube dan setiap ada festival atau acara budaya, aku menawarkan diri untuk tampil. Hingga suatu hari, takdir mempertemukanku dengannya. BAB 2: Datangnya Sang Tamu Asing Hari itu, aku sedang menari di acara Festival Budaya Kota Kupang. Di tengah panas dan debu yang beterbangan, aku tetap tersenyum. Aku tidak peduli meski sandal jepitku sudah menipis, atau bajuku hasil jahitan sendiri. Yang penting, aku bisa menunjukkan kebanggaan pada budayaku. Setelah pertunjukan usai, aku duduk di pinggir panggung, menghapus keringat. Tiba-tiba, seseorang menghampiri. Pria tinggi dengan kulit putih pucat, mengenakan kemeja linen putih dan celana khaki. Matanya sipit namun tajam, dan dia tersenyum. "Your dance was… beautiful," katanya dengan aksen Korea yang kental. Aku tertegun. "Thank you," jawabku malu-malu. "Aku Jaemin," katanya sambil menjulurkan tangan. "Aku dari Seoul. Datang ke Kupang untuk proyek seni budaya." Kupang bukan tempat yang sering dikunjungi orang Korea. Jadi wajar jika semua orang di sekitarku penasaran. Tapi aku lebih penasaran lagi—kenapa pria ini, yang terlihat kaya dan cerdas, tertarik padaku? "Aku ingin membuat film dokumenter tentang tarian dan cerita dari Timur Indonesia," katanya. "Dan kamu, kamu menarik perhatianku." Saat itu, jantungku berdebar. Mungkin ini awal dari mimpiku yang besar. BAB 3: Perbedaan dan Persamaan Sejak hari itu, Jaemin sering mencariku. Kami bertemu hampir setiap sore, berbicara tentang budaya, sejarah, dan kehidupan. Aku membantunya mengenal tarian lokal, memperkenalkannya pada orang-orang di desa, bahkan mengajarinya beberapa gerakan. Kadang aku merasa kecil di sampingnya. Dia datang dari dunia yang jauh berbeda. Latar belakang keluarganya elit, dia lulusan universitas seni di Korea, dan memiliki akses ke dunia internasional. Sementara aku? Aku bahkan belum lulus kuliah karena harus membantu ibuku di pasar. Namun Jaemin tak pernah meremehkanku. Justru sebaliknya, dia terus memotivasiku untuk percaya diri. Dia bilang bahwa kekuatan terbesarku adalah hati dan tekadku. Ia terpesona dengan bagaimana aku menari dengan penuh emosi, meski tanpa pelatihan formal. Waktu berjalan cepat, dan perasaan itu mulai tumbuh di antara kami. Tapi aku takut. "Jaemin," kataku suatu malam saat kami duduk di pinggir Pantai Lasiana. "Apa kamu serius dengan semua ini? Aku bukan siapa-siapa." Dia menatapku lekat. "Melina, kau lebih dari siapa pun yang pernah kutemui. Kau adalah perempuan paling kuat yang kutahu." BAB 4: Derasnya Ujian Namun tak semua orang melihat kami dengan suka. Teman-teman Jaemin dari Korea mulai meragukannya. Mereka bilang aku hanya gadis kampung yang mencari kesempatan. Keluarganya juga mulai mencampuri, mempertanyakan kenapa dia memilih gadis dari ‘ujung dunia’. Teman-temanku sendiri mulai menjauh. Beberapa bilang aku sombong karena dekat dengan orang asing. Beberapa bahkan menyebarkan gosip jahat, mengatakan aku menjual diri demi kekayaan. Aku sempat ingin menyerah. Saat itu, aku bahkan sempat menangis di pelukan ibuku. Tapi ibuku memegang tanganku dan berkata, "Nak, kamu tidak salah karena mencintai. Kalau dia benar mencintaimu, dia akan berjuang bersamamu." Dan benar saja. Jaemin tak pergi. Justru dia datang ke rumah, membawa kameranya, merekam kehidupanku, dan menjadikannya bagian dari filmnya. "Aku ingin dunia tahu tentangmu, Melina. Bukan hanya sebagai penari, tapi sebagai perempuan kuat dari Timur Indonesia." BAB 5: Dia yang Memilihku Film dokumenter Jaemin akhirnya tayang di Korea dan mendapat banyak pujian. Banyak orang mulai tertarik dengan budaya Kupang, bahkan beberapa universitas mengundangku untuk tampil di luar negeri. Aku diundang ke Jakarta, lalu ke Seoul, lalu ke London. Saat berdiri di atas panggung internasional, mengenakan kain tenun kebanggaan daerahku, aku tahu—aku tidak lagi diremehkan. Di salah satu sesi tanya jawab, Jaemin berdiri dan berkata lantang, "Dia bukan hanya subjek dalam fil
like
bc
Cintah di Langit Flores
Diperbarui pada Apr 18, 2025, 04:02
Di bawah langit yang membentang luas di Flores, dua jiwa bertemu dalam sebuah kisah cinta yang penuh tantangan dan impian. Anjani, seorang wanita muda asal NTT, harus berjuang dengan dilema antara menjaga warisan budaya keluarganya dan mengejar kebahagiaan pribadi. Sementara itu, Cristian, seorang pria bule yang datang dari jauh, memulai perjalanan hidup yang tak terduga setelah bertemu Anjani di tanah Flores.Cerita ini tidak hanya tentang cinta, tetapi juga tentang keberanian untuk menghadapi perbedaan, menyatukan dua dunia yang berbeda, dan menemukan jalan menuju kebahagiaan meskipun banyak halangan. Dalam latar yang penuh pesona alam Flores, kisah ini mengajak pembaca untuk merasakan emosi yang dalam dan perjalanan hidup yang penuh dengan keindahan, kesedihan, dan kebahagiaan.Cinth di Langit Flores adalah kisah cinta yang tidak hanya menguji ketulusan hati, tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya keberanian untuk mencintai, melawan ketakutan, dan mengikuti hati. Bagaimana kisah mereka berlanjut di tengah segala rintangan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik? Temukan jawabannya dalam kisah ini, yang tak hanya akan membuatmu terharu, tetapi juga memberi inspirasi.
like
bc
Cinta di Antara Ombak dan Harapan : Kisah Gadis Dapur Miskin yang Jatuh Hati Pada Pelaut Tampan dari Kapal pesiar Mewah
Diperbarui pada Apr 15, 2025, 16:50
Gadis Miskin yang Mencintai Pelaut Penuh Pesona---BAB 1 – Pertemuan yang Tak DisangkaAngin laut membelai pelan wajah Zhara saat ia keluar dari pintu belakang restoran kecil tempatnya bekerja. Ia menyeka peluh di dahi dengan celemek yang masih terikat di pinggang, lalu menghela napas panjang. Di depan matanya, matahari sore mulai tenggelam di balik lautan biru yang luas. Kapal-kapal besar tampak bersandar di dermaga, salah satunya adalah kapal pesiar megah yang baru tiba pagi tadi.“Ah, kapan ya aku bisa naik kapal seperti itu...” gumamnya pelan, senyum tipis menggantung di bibir. Mimpi itu terasa sangat jauh. Ia hanyalah seorang gadis sederhana, tinggal di kamar sewaan sempit, bekerja seharian di dapur, mencuci piring, mengupas bawang, dan kadang-kadang membantu membuat sup.Hari ini pelanggan lebih ramai dari biasa, karena kapal pesiar itu membawa ratusan turis dan kru. Restoran tempat Zhara bekerja penuh sejak siang, dan ia nyaris tak sempat duduk.Zhara memejamkan mata sejenak, menikmati hembusan angin asin laut dan suara camar yang beterbangan di atas. Tapi ketenangan itu mendadak buyar saat seseorang memanggil dari belakang.“Halo... kamu kerja di sini ya?”Zhara menoleh cepat, dan detik itu juga jantungnya serasa berhenti. Di depannya berdiri seorang pria tinggi, kulit sawo matang, dengan seragam pelaut berwarna biru laut yang elegan. Rambutnya hitam pekat, tertata rapi, dan sorot matanya hangat.Zhara menelan ludah gugup. Ia mengenali wajah itu. Ali — nama yang sudah ramai dibicarakan oleh beberapa karyawan sejak pagi. Katanya dia salah satu perwira muda di kapal pesiar itu. Tampan, cerdas, ramah, dan... terkenal.“A-a... iya, saya Zhara. Kerja di dapur,” jawabnya cepat, menunduk sedikit karena malu.Ali tersenyum. “Masakannya enak sekali. Aku makan pasta seafood dan sup bawang. Aku cuma mau bilang, kalian hebat.”Zhara tersentak pelan. Dia memuji masakan? Dia bicara padaku? Rasanya tak nyata. Ia hanya seorang gadis biasa, dan pria seperti dia—tampan, sukses, punya dunia luas—terlalu jauh dari jangkauannya.“T-terima kasih...” bisiknya, masih menunduk.Ali tampak memperhatikan wajah Zhara yang memerah.“Kamu asli sini?” tanyanya lagi, nada suaranya ramah.Zhara mengangguk pelan. “Saya dari desa kecil, tapi sudah lama kerja di sini.”Ali mengangguk. “Bagus. Dunia butuh lebih banyak orang yang kerja keras dan tetap tersenyum.”Zhara nyaris tak percaya, pria sekelas dia mengatakan hal seperti itu. Jantungnya berdetak tak karuan.“Kalau suatu saat kamu sempat... datanglah ke dermaga. Aku bisa tunjukkan sedikit bagian kapal. Tapi hanya kalau kamu tidak sibuk, ya,” katanya sambil tersenyum kecil.Zhara nyaris tak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk cepat, matanya berbinar.Ali kemudian pamit dengan sopan, melambaikan tangan sambil berjalan menjauh. Zhara berdiri membeku, wajahnya merah seperti tomat. Setelah pria itu hilang dari pandangan, ia akhirnya duduk pelan di bangku kayu dekat tembok.Ini nyata? Aku bicara dengan pelaut tampan itu? Dia bahkan ngajak aku lihat kapal?Zhara menatap langit yang mulai berubah jingga. Angin laut masih sama, tapi dadanya kini terasa lebih hangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa... mungkin saja seorang gadis dapur sepertinya punya tempat di hati seorang pelaut penuh pesona.---BAB 2 – Di Atas Kapal PesiarKeesokan harinya, Zhara datang ke dermaga lebih awal dari biasanya. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda dan mengikat rambut panjangnya ke belakang. Jantungnya berdebar hebat sejak pagi. Ia bahkan sampai lupa sarapan.Saat mendekat ke arah kapal pesiar megah yang bersandar, ia melihat sosok Ali sedang berdiri di dek, mengenakan seragam putih yang membuatnya tampak semakin bersinar.“Zhara!” sapa Ali dari kejauhan, melambaikan tangan.Zhara melangkah hati-hati menaiki tangga kecil yang disediakan untuk tamu dan kru. Ia merasa kakinya nyaris tak menyentuh lantai.“Selamat datang di rumah terapungku,” kata Ali sambil tersenyum. “Ayo, aku tunjukkan ruang kontrol dan dek observasi.”Zhara hanya mengangguk pelan, terlalu gugup untuk bicara banyak.Ali mengajaknya berkeliling. Mereka melewati lorong-lorong elegan, dinding yang dipenuhi peta dunia, ruang kemudi dengan jendela lebar menghadap laut, serta dek belakang tempat turis biasa berjemur atau menikmati matahari senja.Zhara tak henti-hentinya kagum.“Ini... luar biasa,” bisiknya.“Kamu suka laut?” tanya Ali tiba-tiba.Zhara menoleh. “Aku suka... tapi aku belum pernah pergi jauh.”Ali tersenyum, menatap laut yang membentang. “Kalau suatu saat kamu punya kesempatan, kamu harus mencoba. Laut itu... menenangkan dan mengajarkan banyak hal.”Zhara ikut menatap lautan. Dalam diam, ia berharap waktu berhenti sejenak. Bersama Ali di tempat indah seperti ini membuatnya merasa seperti hidup dalam mimpi.Mereka duduk di bangku dek selama beberapa saat, berbicara tentang asal-usul mereka, makanan favorit, dan sedikit kisah masa kecil. Ali ternyata suka sup bawang, dan Zhara ter
like