bc

Dia yang Memilihku, Si Gadis Timur yang Pernah Diremehkan, Tapi Kini Berdiri di Samping Pria Kaya dari Korea"

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
BE
family
HE
single mother
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
campus
city
highschool
pack
small town
poor to rich
like
intro-logo
Uraian

BAB 1: Senyuman Gadis Timur

Namaku Melina. Lahir dan besar di Kota Kupang, kota kecil di Timur Indonesia yang penuh dengan cahaya matahari, angin pantai yang hangat, dan senyuman tulus dari orang-orangnya. Aku bukan siapa-siapa, hanya gadis biasa dari keluarga sederhana yang hidup di pinggiran kota. Ayahku nelayan, ibuku penjual sayur di pasar. Sejak kecil, aku tahu hidup takkan pernah mudah, tapi aku punya mimpi—dan aku berani mengejarnya.

Orang sering meremehkanku. Kulitku gelap, rambutku ikal tebal, logatku kuat, dan aku bukan bagian dari standar kecantikan yang sering dipuja di media sosial. Di sekolah, aku sering dicibir karena sepatu bututku atau karena tak bisa ikut ekskul mahal. Tapi aku tak pernah menyerah. Aku percaya bahwa kecantikan bukan hanya soal rupa—tetapi juga tentang hati yang tulus dan tekad yang kuat.

Aku punya satu impian besar: menjadi penari profesional dan memperkenalkan budaya daerahku ke dunia. Kupang punya banyak tarian tradisional yang indah, dan aku ingin orang mengenalnya. Aku melatih diriku sendiri lewat YouTube dan setiap ada festival atau acara budaya, aku menawarkan diri untuk tampil.

Hingga suatu hari, takdir mempertemukanku dengannya.

BAB 2: Datangnya Sang Tamu Asing

Hari itu, aku sedang menari di acara Festival Budaya Kota Kupang. Di tengah panas dan debu yang beterbangan, aku tetap tersenyum. Aku tidak peduli meski sandal jepitku sudah menipis, atau bajuku hasil jahitan sendiri. Yang penting, aku bisa menunjukkan kebanggaan pada budayaku.

Setelah pertunjukan usai, aku duduk di pinggir panggung, menghapus keringat. Tiba-tiba, seseorang menghampiri. Pria tinggi dengan kulit putih pucat, mengenakan kemeja linen putih dan celana khaki. Matanya sipit namun tajam, dan dia tersenyum.

"Your dance was… beautiful," katanya dengan aksen Korea yang kental.

Aku tertegun. "Thank you," jawabku malu-malu.

"Aku Jaemin," katanya sambil menjulurkan tangan. "Aku dari Seoul. Datang ke Kupang untuk proyek seni budaya."

Kupang bukan tempat yang sering dikunjungi orang Korea. Jadi wajar jika semua orang di sekitarku penasaran. Tapi aku lebih penasaran lagi—kenapa pria ini, yang terlihat kaya dan cerdas, tertarik padaku?

"Aku ingin membuat film dokumenter tentang tarian dan cerita dari Timur Indonesia," katanya. "Dan kamu, kamu menarik perhatianku."

Saat itu, jantungku berdebar. Mungkin ini awal dari mimpiku yang besar.

BAB 3: Perbedaan dan Persamaan

Sejak hari itu, Jaemin sering mencariku. Kami bertemu hampir setiap sore, berbicara tentang budaya, sejarah, dan kehidupan. Aku membantunya mengenal tarian lokal, memperkenalkannya pada orang-orang di desa, bahkan mengajarinya beberapa gerakan.

Kadang aku merasa kecil di sampingnya. Dia datang dari dunia yang jauh berbeda. Latar belakang keluarganya elit, dia lulusan universitas seni di Korea, dan memiliki akses ke dunia internasional. Sementara aku? Aku bahkan belum lulus kuliah karena harus membantu ibuku di pasar.

Namun Jaemin tak pernah meremehkanku. Justru sebaliknya, dia terus memotivasiku untuk percaya diri. Dia bilang bahwa kekuatan terbesarku adalah hati dan tekadku. Ia terpesona dengan bagaimana aku menari dengan penuh emosi, meski tanpa pelatihan formal.

Waktu berjalan cepat, dan perasaan itu mulai tumbuh di antara kami. Tapi aku takut.

"Jaemin," kataku suatu malam saat kami duduk di pinggir Pantai Lasiana. "Apa kamu serius dengan semua ini? Aku bukan siapa-siapa."

Dia menatapku lekat. "Melina, kau lebih dari siapa pun yang pernah kutemui. Kau adalah perempuan paling kuat yang kutahu."

BAB 4: Derasnya Ujian

Namun tak semua orang melihat kami dengan suka. Teman-teman Jaemin dari Korea mulai meragukannya. Mereka bilang aku hanya gadis kampung yang mencari kesempatan. Keluarganya juga mulai mencampuri, mempertanyakan kenapa dia memilih gadis dari ‘ujung dunia’.

Teman-temanku sendiri mulai menjauh. Beberapa bilang aku sombong karena dekat dengan orang asing. Beberapa bahkan menyebarkan gosip jahat, mengatakan aku menjual diri demi kekayaan.

Aku sempat ingin menyerah. Saat itu, aku bahkan sempat menangis di pelukan ibuku.

Tapi ibuku memegang tanganku dan berkata, "Nak, kamu tidak salah karena mencintai. Kalau dia benar mencintaimu, dia akan berjuang bersamamu."

Dan benar saja. Jaemin tak pergi. Justru dia datang ke rumah, membawa kameranya, merekam kehidupanku, dan menjadikannya bagian dari filmnya.

"Aku ingin dunia tahu tentangmu, Melina. Bukan hanya sebagai penari, tapi sebagai perempuan kuat dari Timur Indonesia."

BAB 5: Dia yang Memilihku

Film dokumenter Jaemin akhirnya tayang di Korea dan mendapat banyak pujian. Banyak orang mulai tertarik dengan budaya Kupang, bahkan beberapa universitas mengundangku untuk tampil di luar negeri. Aku diundang ke Jakarta, lalu ke Seoul, lalu ke London.

Saat berdiri di atas panggung internasional, mengenakan kain tenun kebanggaan daerahku, aku tahu—aku tidak lagi diremehkan.

Di salah satu sesi tanya jawab, Jaemin berdiri dan berkata lantang, "Dia bukan hanya subjek dalam fil

chap-preview
Pratinjau gratis
Dia yang Memilihku, Si Gadis Timur yang Pernah Diremehkan, Tapi Kini Berdiri di Samping Pria Kaya dari Korea"
Semua orang pernah diremehkan. Tapi tidak semua orang bisa membuktikan bahwa mereka pantas untuk dihormati. Namaku Melina. Lahir dan besar di sebuah desa kecil di ujung timur Indonesia. Di tempat di mana gadis sepertiku dianggap tidak akan pernah bisa berdiri di samping orang besar—apalagi pria Korea yang kaya, tampan, dan berasal dari dunia yang jauh berbeda. Tapi inilah kisahku. Kisah seorang gadis Timur yang pernah diremehkan, namun akhirnya dipilih oleh pria yang tidak pernah aku duga akan mencintaiku... dengan tulus. --- ### **Pertemuan yang Mengubah Segalanya** Aku masih ingat saat pertama kali bertemu Jaemin. Saat itu aku baru saja lulus kuliah dan pulang ke kampung untuk membantu ibu di kebun. Kehidupan kami sederhana. Aku tidak punya banyak, tapi aku punya mimpi. Sayangnya, mimpi itu sering kali hanya menjadi bahan tertawaan. *“Melina? Mau jadi apa kamu? Lulusan Kupang saja, kerja pun belum,”* begitu kata tetanggaku suatu hari. Aku hanya tersenyum. Bukan karena aku tidak sakit hati, tapi karena aku tahu, satu-satunya cara membalas adalah dengan membuktikan bahwa aku bisa. Pagi itu, aku membantu ibu memanen jagung. Matahari belum tinggi. Udara masih segar. Kami berjalan menuruni bukit menuju ladang, membawa keranjang besar di punggung. Aku menikmati momen seperti itu, meski lelah. Tapi hari itu berbeda. Saat aku kembali dari ladang, aku melihat sebuah mobil besar berhenti di depan sekolah dasar kampung kami. Dari dalamnya keluar beberapa orang asing. Mereka terlihat seperti turis, tapi bukan turis biasa. Kamera besar, pakaian mahal, dan cara mereka memandang sekeliling dengan rasa kagum—aku tahu mereka datang bukan hanya untuk jalan-jalan. Salah satu dari mereka menarik perhatianku. Seorang pria muda, tinggi, kulit putih, ramhit cokelat gelap, mengenakan kaus polos dan celana jins hitam. Ia tampak tenang, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa aku jelaskan. Cara ia memotret langit, bunga di pinggir jalan, dan anak-anak yang bermain... seolah semuanya adalah karya seni. Aku melihat dari jauh, tak berniat mendekat. Sampai sesuatu terjadi. Seorang anak kecil mengejar bola ke jalan. Sebuah motor melaju kencang. Aku berteriak, tapi sebelum aku bisa bergerak, pria itu sudah lebih dulu melompat, menarik si anak ke pinggir jalan. Jantungku berdegup. Aku berlari menghampiri mereka. *“Terima kasih...”* ucapku terbata. Nafasku belum stabil. Pria itu menoleh dan tersenyum. *“Tidak apa-apa. Anak ini cepat sekali larinya.”* Logatnya asing. Bahasa Indonesianya patah-patah. Tapi senyumnya hangat. *“Namamu siapa?”* tanyaku. *“Jaemin. Kamu?”* *“Melina.”* Sejak saat itu, semuanya berubah. --- ### **Hari-Hari Bersama Jaemin** Jaemin adalah fotografer dari Korea Selatan. Ia sedang melakukan proyek dokumentasi tentang budaya Indonesia bagian timur. Ia ingin merekam cerita-cerita lokal, kehidupan masyarakat, dan pemandangan yang tidak pernah dilihat dunia luar. Dan entah bagaimana, aku menjadi pemandunya. Kami pergi ke pasar bersama, mengunjungi rumah tenun, menyeberangi sungai kecil untuk melihat pohon tua yang dikeramatkan. Aku bercerita padanya tentang upacara adat, kisah roh penjaga gunung, dan tentang harapanku menjadi penulis suatu hari nanti. *“Aku ingin menulis buku,”* kataku saat kami duduk di bawah pohon mangga. Jaemin menoleh. *“Tentang apa?”* *“Cerita-cerita di sini. Tentang tempatku. Tentang mimpi-mimpi yang tumbuh dari tanah yang keras.”* Ia menatapku lama. *“Kalau kamu tulis itu... aku akan jadi pembaca pertamamu.”* Hatiku hangat. Belum pernah ada yang bilang begitu padaku. Hari-hari berlalu cepat. Kami semakin dekat. Tapi kabar tentang kami mulai menyebar. Banyak yang tidak suka. Mereka menganggapku terlalu percaya diri. *“Siapa dia? Gadis kampung mau bersanding dengan pria Korea? Mimpi!”* Tapi aku tidak peduli. Aku percaya... bahwa cinta tidak memilih berdasarkan asal, warna kulit, atau status sosial. Cinta hanya peduli pada hati. Jaemin juga merasakan tekanan. Ia mulai dijauhi oleh beberapa anggota timnya. Tapi ia tetap bersamaku. Ia mengatakan bahwa kebersamaan kami bukan karena proyek, tapi karena dia... mulai jatuh cinta. *“Kamu tahu, Melina... kamu berbeda,”* katanya suatu malam. *“Beda bagaimana?”* *“Kamu tidak berpura-pura. Kamu tidak mencoba menyenangkan orang. Kamu menjadi dirimu sendiri. Dan itu... membuatku ingin tinggal lebih lama di sini.”* Aku tak bisa berkata-kata. --- ### **Perpisahan yang Menyakitkan** Tapi hari itu akhirnya datang. Hari di mana ia harus kembali ke Korea. *“Kamu ikut denganku?”* tanyanya di bandara kecil. Aku terdiam. Bagaimana aku bisa meninggalkan ibu, keluargaku, kampungku? *“Jaemin... aku tidak bisa.”* Ia mengangguk. Tak marah. Tak memaksa. *“Tunggu aku. Aku akan kembali. Dan saat aku kembali... aku tidak akan pergi lagi.”* Aku menangis di pelukannya. Dan begitulah babak pertama kisah ini dimulai. Aku—si gadis yang pernah diremehkan. Dia—pria yang memilihku, bukan karena aku istimewa, tapi karena aku menjadi diriku sendiri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.9K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
5.2K
bc

Menyala Istri Sah!

read
3.0K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.0K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.6K
bc

After We Met

read
188.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook