Trauma akan kehilangan itu kembali hadir, membelenggu setiap nafas hingga membuat rongga dadaku terasa sesak. Seharusnya aku tidak perlu secemas ini setelah mendapatkan sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Karena bisa jadi, orang itu hanya ingin mempermainkan sentimen maupun emosiku. Tapi, aku juga tidak bisa mengabaikan pesan itu begitu saja. Bagaimana jika orang yang mengirimku pesan benar-benar berada di pihakku? Tak peduli bagaimana tanggapan orang-orang yang memandangku aneh, aku terus berlari dari basement menuju lobi rumah sakit. Menghiraukan seruan Alvian yang terus mengikutiku dari belakang. Perasaan takut itu semakin menguasai pikiranku membuat kaki ini semakin cepat dalam mengambil langkah. Bahkan saking cepatnya, tak jarang aku hampir terjungkal karena tersand

