Chapter 10

1102 Kata
"Kenapa kamu bisa kolaps kayak gini, Sayang?" tanya bunda. Dia menatap lekat ke arahku. Aku melihat ada jejak air mata yang telah kering di pipinya. Seketika rasa bersalah menyerang diriku. Aku telah membuat orang yang aku sayangi kembali menangis. Aku mengusap wajah bunda dengan lembut. Wajah lelah yang selama ini menemaniku, yang memberikan aku support sehingga aku mampu bertahan sampai detik ini. "Aku nggak papa, bunda" suara lemah yang keluar dari mulutku mencoba menenangkan bunda yang masih terlihat sangat khawatir "Nggap papa gimana? Kalau kamu nggak papa, mana mungkin kamu berada di rumah sakit ini," elusan lembut yang kudapat dari tangan bunda di kepalaku tak ayal membuatku merasa nyaman. Aku tersenyum kecil. "kamu udah janji sama bunda, kalau kamu nggak bakal kolaps lagi, tapi ini apa?" "Maafin Rara udah bikin khawatir. Rara janji--" "Nggak akan kolaps lagi. Nggak akan opname lagi. Itukan yang akan kamu katakan?" sebelum aku menyelesaikan ucapanku, bunda sudah memotongnya terlebih dahulu. Aku tersenyum geli ke arah bunda. "Bunda sampai hafal dengan ucapan kamu. Kemarin-kemarin juga selalu bilang kayak gitu, tapi kamunya bandel. Nggak pernah menepati janjimu itu." Bunda menggenggam tanganku yang telah dipasang infus. Rasa hangat yang bunda salurkan lewat genggaman tangan mampu menjalar hingga hatiku, "kamu tahu nggak, Ra?" tiba-tiba tatapan bunda menyendu. Aku tidak menjawab iya ataupun tidak. Aku diam, menunggu bunda melanjutkan ucapannya. "Saat kamu dinyatakan telah bersih dari sel kanker, saat itu beban yang bunda rasakan selama itu hilang begitu saja. Bunda merasa sangat lega. Bunda tidak bisa mendeskripsikan betapa bahagianya bunda saat mendengar kamu telah sembuh dari penyekit itu. Kamu tahu apa yang menyebabkan bunda begitu bahagia?" kurasakan genggaman tangan bunda semakin mengerat, "akhirnya setelah 5 tahun lihat kamu kesakitan, melihat kamu berbaring tak berdaya, akhirnya kamu bisa beraktifitas normal kembali. Akhirnya bunda tidak perlu lagi melihat kamu kesakitan karna ditusuk-tusuk jarum lagi." Aku melihat mata bunda yang kembali berkaca-kaca Aku tahu bagaimana perasaan bunda saat itu. Sebagai orang yang selalu mendampingiku dari tahap awal hingga tahap akhir, pasti beliau mengetahui semua yang aku rasakan. Pasti beliau melihat dengan jelas bagaimana aku mencoba bertahan melawan penyakitku agar dapat sembuh dan terbebas dari penyakit ini dan akhirnya semua usahaku berhasil. Mendengar ucapan bunda, seketika otakku memutar ke kejadian dua tahun lalu. Kejadian yang aku sebut dengan sebuah keajaiban yang telah Tuhan berikan padaku. Kejadian yang membuatku percaya, jika keajaiban memanglah ada. Apakah kalian tahu apa itu? Akhirnya..... Perjuanganku melawan penyakit ganas ini membuahkan hasil. Dokter mengatakan jika aku telah terbebas dari penyakit yang dideritaku selama ini. Apakah bahagia? Tidak perlu ditanya lagi. Aku sangat bahagia, apalagi melihat raut kebahagian yang jelas terpancar dari wajah bunda dan papa. Aku sangat bahagia. Aku mengucapkan beribu-ribu rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan hidup untukku. Asal kalian tahu, waktu 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak hal yang aku alami. Kehidupanku juga berubah 180° dari kehidupan awal. Selama itu, kehidupanku 75% dihabiskan di rumah sakit. Masa itu adalah masa tersulit bagiku. Pernah terbesit dikepaku untuk menyerah akan takdir ini. Aku benar-benar sudah lelah dengan semua hal yang telah aku alami. Tapi karena support yang telah bunda dan papa berikan akhirnya aku bisa bangkit dan melawan tumor ganas ini. Tapi kebahagianku tidak bertahan lama, ketika tanda-tanda awal kehancuranku mulai terjadi lagi. Aku sering pusing, mudah lelah walaupun tidak banyak melakukan aktifitas, bahkan mimisan yang 5 tahun terjadi, kini terjadi lagi. Saat itu aku sudah pasrah. Aku selalu berfikir positif, jika penyakit itu tidak mungkin datang kembali. Aku berusaha mengenyah pikiran burukku. Aku selalu mendoktrin diriku, jika semuanya akan baik-baik saja. Tapi sekali lagi aku telah dikecewakan oleh harapan. Kenyataan tidak sesuai dengan prospek yang aku inginkan. Ternyata, ditubuhku masih ada sel kanker yang siap menggerogoti tubuhku, sel-sel itu belum totalitas menghilang. Mereka bersembunyi, memberikan aku harapan besar untuk kembali normal. Hanya 5 bulan 23 hari, aku merasakan layaknya kehidupanku seperti orang normal kebanyakan. Tidak ada hal-hal yang berbau rumah sakit, tidak ada kemoterapi dan hal-hal lainnya yang menjadi rutinitas 5 tahun belakangan itu. Hanya 5 bulan 23 hari, aku merasakan kebahagian yang tiada tara. Hanya 5 bulan 23 hari. Tapi setelah itu kehidupanku kembali lagi seperti 5 tahun yang lalu. Benar-benar menyedihkan. "Heii, kamu kok ngelamun?" Aku tersentak kaget dengan tepukan bunda yang berada di pundakku. Ku lihat juga rautnya yang menunjukkan kekhawatiran yang sangat besar, "kamu kenapa? Ada yang sakit? Mau bunda panggilin dokter?". "Nggak usah, bun. Rara nggak papa." "Kamu yakin?" aku mengangguk, "bunda nggak ingin kamu kesakitan lagi dan nggak ingin kamu terbaring lemah di ranjang ini." Lihat, bagaimana aku bisa meninggalkan bunda dengan tenang. Disaat seperti ini saja, aku bisa melihat wajahnya yang terlihat tidak hidup. Jika seandainya waktuku telah habis di dunia ini. Hal terakhir yang akan aku minta adalah kebahagian beliau. Aku ingin membahagiakan beliau walaupun tidak seberapa. Seumur hidupku, aku belum pernah membahagiakan bunda. Aku cuma bisa menyusahkan dan menambah beban pikirannya. Aku ingin melihat senyumannya seperti 7 tahun lalu. Senyum kebahagian yang sangat aku rindukan saat ini. "Bunda," panggilku dengan mata yang berkaca-kaca. "Iya sayang?" "Sini peluk Rara" tanpa sepatah kata pun, Bunda langsung memelukku tanpa menyakitiku sedikit pun. Aku membalas pelukan hangat bunda dengan merentangkan kedua tanganku walaupun agak kesusahan karena terhalang oleh infus yang menancap ditanganku. "Rara, sayang bunda. Maafin Rara untuk semua yang sudah terjadi dan terima kasih untuk semua yang sudah bunda berikan" aku semakin mengeratkan pelukanku pada bunda, "you're the best mother i've ever known. I love yo so much, Bunda" Aku merasakan pundakku basah. Apa bunda menangis? Bunda melepas pelukannya, lalu memandangku dengan mata yang sedikit sembab, "bunda tidak akan pernah bosan mengucapkan kata ini. Bunda juga sangat mencintaimu. Bagaimana pun keadaanmu, bunda akan selalu sayang padamu" Bunda mencium keningku. Aku menutup mata untuk meresapi rasa hangat dan sayang yang bunda salurkan lewat ciuman kening. "Bunda selalu berdoa untuk kesembuhanmu dan yakinlah, bunda lebih sakit saat melihatmu seperti ini." Bunda menjauhkan dirinya dariku. Setelah itu, beliau pamit untuk ke kamar mandi Aku hanya menatap kepergian bunda dengan air mata yang mulai merembes keluar dengan derasnya. Sungguh! Semua yang menyangkut tentang bunda, aku pasti akan berubah cengeng. Bunda adalah kelemahan terbesarku. Dia adalah segalanya untukku. Terima kasih Tuhan karena kau telah menempatkanku di rahim wanita kuat seperti beliau. Terima kasih kau telah memberikanku seorang malaikat yang kusebut bunda. Walaupun di luar sana banyak wanita hebat, tapi bagiku dialah wanita yang terhebat dari yang paling hebat sekalipun. Jika kau memberikanku umur yang panjang, aku ingin menjadi sosok kuat seperti beliau. Tuhan... Aku hanya bisa berdoa kepadamu agar kau memberikan umur yang panjang untuk bundaku. Limpahkanlah berkatmu untuk beliau Lindungunilah beliau dari segala macam mara bahaya Aku sangat mencintainya Sekali lagi aku sangat menyayanginya Tuhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN