Chapter 9

1033 Kata
Devatra Farlos Samantha. Satu nama yang mampu membuat hidupku yang dulunya berwarna semakin berwarna. Satu nama yang memberikan aku banyak hal yang dulu tidak kumiliki. Dan Satu nama yang mampu membuat jantungku berdetak tak karuan walau hanya dengan menyebut namanya. Deva. Dialah laki-laki yang mengajarkan aku arti cinta dan kasih sayang, laki-laki yang mengajarkan aku cara menghargai sebuah ketulusan yang terpancar dalam hati, tapi dia jugalah laki-laki yang mengajarkan aku pengorbanan, keikhlasan dan loyalita demi seseorang yang aku cintai. Pengorbanan yang sangat menyakitkan, tapi juga memberikan rasa bahagia tersendiri untukku. Cinta... Cinta bukanlah tentang kesempurnaan, keelokan wajah atau kekayaan, tapi cinta adalah ketulusan dari sebuah hati yang membawa kita untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagian bersama. Cinta bukanlah tentang bagaimana cara memiliki apa yang kita cintai, tapi bagaimana cara mengikhlaskan seseorang yang kita cintai demi kebahagiaanya. Itulah yang dulu dan saat ini aku rasakan. Pengorbanan. Satu kata yang mudah diucapkan namun sukar untuk di terapkan. Mengorbankan perasaanku demi kebaikan dia, terdengar menyakitkan bagi kita berdua, tapi itulah jalan satu-satunya yang harus aku jalani dan saat ini aku harus menerima konsekuensinya. Dia membenciku? Aku harus dengan lapang hati menerimanya karena itu adalah sebuah pilihan yang dulunya aku ambil. Tapi entah mengapa aku merasa sakit luar biasa. Masih ingat jelas, ketika dia berbicara dingin kepadaku. Mata yang dulunya selalu menatapku dengan penuh kelembutan dan cinta, sekarang berubah menjadi tatapan penuh kebencian dan kekecewaan. Apakah sakit? Sangat sakit. Jelas tidak usah ditanya. Namun sekali lagi aku tidak bisa menyalahkan dia. Dia adalah korban sama sepertiku. Kami sama-sama korban. Mungkin awalnya kita memang selalu bersama. Kemana-kemana selalu bersama, tapi apakah kita bisa menebak takdir? Tidak!!. Sedikit pun, tidak ada di pikiranku jika hubunganku dengan Deva akan berakhir seperti sekarang. Semua ini di luar perkiraanku. Dulu aku selalu berangan-angan jika hubunganku dengan dia, akan berjalan mulus. Hingga ke tahap yang lebih serius. Aku sudah menyiapkan planning yang nantinya akan kita jalankan. Pastinya rencana masa depan yang aku nanti-nantikan dan mimpikan setiap saat. Tapi harapan tinggal harapan. Semua planning yang aku susun gagal total. Dia sudah menemukan kebahagiannya walaupun tidak denganku. Dia sudah menemukan wanita yang mampu menemaninya di saat dia terpuruk. Dia sudah menemukan penggantiku yang pastinya tidak akan pernah meninggalkannya sama seperti diriku yang berpenyakitan. Dia sudah menemukan wanita yang jauh lebih sempurna dibandingkan aku. Dan apakah kalian tahu, siapa dia? Dia sahabatku. Yang membuatku sesak luar biasa, mengapa harus dengan sahabatku? Aku bisa sedikit menerima jika dia dengan orang lain. Tapi jika dengan sahabatku, hatiku tidak bisa menerima. Terlalu sakit jika harus membayangkan dia dan sahabatku bersama. Terdengar egois, tapi apalah daya. Aku hanya manusia biasa yang pastinya akan merasa sakit dan cemburu jika melihat seseorang yang sangat aku cintai hidup bersama orang lain dan lebih parahnya lagi dengan sahabatku sendiri. Aku menghela nafas lelah. Menatap hamparan rerumputan dengan kosong. Pikiranku melayang ke kejadian tadi siang. Kejadian yang mampu mematahkan hatiku sekaligus. Aku terpaku pada seseorang yang berada di hadapanku. Lebih tepatnya pada suara dingin dan datarnya.. Aku diam dengan detak jantung yang sama seperti tujuh tahun lalu dan disebabkan oleh orang yang sama pula. Hatiku mencelos saat mataku bersirobok denganya. Tatapan benci itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tidak bisa menghilangkan tatapan yang dia berikan padaku. Hatiku bergemuruh hebat menahan rasa perih yang bersarang di hatiku. "Ayo kita pulang, Cla" ucap Deva menarik tangan Dania tanpa menoleh sedikit pun padaku. Sekali lagi aku terpaku dengan tindakan yang dilakukan Deva. Mataku berkaca-kaca, menahan rasa perih dan sesak yang menyerang relung hatiku. Sebuah pemikiran muncul di otakku membuat rasa sakit itu kian menganga dan terbuka lebar. Apa telah terjadi sesuatu dengan mereka? "Dev'" panggilku lirih. Demi Tuhan, aku rindu dengannya. Inginku memeluk dirinya namun sikap yang dia tunjukkan seolah-olah membatasiku dengan dinding kokoh sehingga sulit untuk aku tembus. "Dev?" Aku berusaha sekali lagi memanggil namanya yang akan pergi dari acara reuni ini. Berharap Deva mau menetap meski hanya sebentar. "Stop Ra. Jangan pernah ganggu mereka lagi. Jangan jadi perempuan yang memalukan. Kak Deva dan Dania udah pacaran dan sebentar lagi mereka akan bertunangan. Jangan jadikan kedatangan lo sebagai penghancur hubungan mereka. Ingat posisi Lo. Lo bukan lagi orang penting di hidup Kak Deva. Sekarang lo cuma masa lalu yang perlu disingkirkan jauh-jauh." Jantungku berpacu hebat saat mendengar ucapan Rachel. Aku menoleh ke arah mereka untuk memastikan kebenarannya sendiri. Aku lihat wajah mereka menampilkan ekspresi yang sulit diartikan. Wajah mereka juga sangat tegang. Ku lihat juga Deva menghantikan langkahnya. "Rachel!!" Sentak kak Rey menatap penuh amarah. Wajah lelaki terlihat mengeras. "Apa? Gue bener kan? Dulu gue emang dukung banget hubungan Rara dan kak Deva. Tapi sekarang, gue lebih setuju jika Dania yang jadi kekasih bahkan istrinya kak Deva. Lo gak perlu menyalahkan Dania, Ra karena ini murni kesalahan lo. Lo yang udah ninggalin kak Deva dan lo juga yang udah mencampakkan dia seperti sampah. Lo nggak lupa sama kelakukan jahat lo kan?" Ucapan Rachel mampu menamparku dengan begitu keras. Sedih, marah, kecewa. Semua rasa itu bercampur menjadi satu di dalam dadaku. Aku menatap nanar pada Dania dan Deva yang hanya diam mematung tanpa membalikkan badanya. Sakit. Sakit sekali. Aku masih mencintainya. Bahkan amat sangat mencintainya. Meninggalkan dirinya 7 tahun yang lalu, tidak mampu membuatku melupakann Deva. Rasa itu masih sama besarnya seperti dulu. "Aku sangat membencimu!!! Kita sudah berakhir setelah kamu meninggalkanku. Lupakan semuanya" ucapnya tanpa menoleh ke arahku. Setelah berucap sedemikian rupa, dia meninggalkan kami semua. Bagai bom yang dilemparkan tepat mengenai jantungku, hatiku meledak berkeping-keping. Ucapanya mampu meruntuhkan pertahananku yang sedari tadi sudah aku tahan. Air mataku meluruh tanpa bisa kucegah. Dia membenciku? Aku menatap kosong ke arah depan. Bagaimana bisa? Seseorang yang berarti dalam hidupku sangat membenciku? Apakah setelah kehilangan papa, aku akan kehilangan dia juga untuk selamanya? "Ra" kak Rey menarikku dalam dekapannya namun aku tidak membalasnya. Pikiranku benar-benar kosong, seolah kehidupanku telah diserap oleh ucapan Deva barusan. Ucapan Deva diibaratkan sebuah pisau yang menusuk dan mengoyak dadaku. Sakit dan perih. Apakah ini takdir yang telah Tuhan berikan padaku? Tapi mengapa harus demikian? Mengapa sangat menyakitkan. Harusnya aku tahu, jika Deva akan membenciku, seharusnya aku sadar semuanya sudah berbeda. Tapi mengapa menyaksikan langsung, membuat hatiku berdenyut sesak? Ternyata aku memang tidak terlampau siap dengan semua ini. Nyatanya aku masih lemah bahkan lebih lemah dari sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN