Chapter 8

1345 Kata
"RARA!!!!!" Ku tolehkan kepalaku saat mendengar suara seseorang yang memanggil namaku. Disana di bangku paling pojok, Kak Rey dan teman-temannya juga sahabat-sahabatku tengah berkumpul. Ya.. Yang memanggilku adalah kak Rey. Saat ini, semua orang tengah menatapku tak terkecuali mereka. Pandanganku terpaku pada mereka yang saat ini tengah menatapku dengan pandangan yang berbeda-beda terutama sahabat-sahabatku. Kak Rey berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arahku. Aku hanya diam mematung melihat semua orang yang ada di bangku pojok itu. Aku mencoba mengamati mereka samua tapi tidak menemukan salah satu di antara mereka. Dimana dia? "Ayo ra, kita duduk di sana" ucap kak Rey yang membuyarkan lamunanku. Kak Rey menunjuk bangku tempat dimana sahabat-sahabatku berkumpul. Aku ingin mengangguk, tapi ketika melihat pandang mereka yang sulit di artikan membuat nyaliku sedikit menciut. Aku rindu mereka, tapi aku tahu mereka sangat kecewa padaku. "Tapi kak--" ucapanku terpotong ketika kak Rey langsung menarikku ke tempat duduknya. Setelah sampai di meja, aku mencoba tersenyum kepada mereka semua tapi sahabat-sahabatku hanya menampilkan wajah datar dan sinisnya. Sedangkan teman-teman kak Rey menampilkan wajah kaget tak percaya. "Jadi Rara orang yang lo maksud, Rey?" tanya Kak Dino kaget dan tak percaya. Aldino Mahesa Raws. Salah satu teman kak Rey yang lumayan dekat dengaku. "Iya" ucap kak Rey sekenanya, "duduk Ra, ngapain masih berdiri?" ucap kak Rey yang melihatku masih berdiri Aku bingung. Aku hanya menatap dua tempat duduk kosong. Satu berada di sebelah kak Rey dan satu lagi berada di sebelah sahabatku yang bernama Dania. Clarrisa Daniar Ningrum. Aku memilih duduk di samping kak Rey, karena ketika melihat mata Dania, dia tengah menatapku sinis. Jadi aku duduk di antara kursi kosong dan Kak Rey. "Kapan lo ketemu dengan Rara? Kenapa nggak bilang sama kita-kita?" kali ini Kak Kevin lah yang berucap. Kevin Ravindra Zidan. Aku hanya diam, mendengarkan mereka semua berbicara. Aku juga menundukkan kepalaku saat semua sahabat-sahabatku tengah menatapku seperti saat mereka melihatku untuk pertama kalinya. "Kamarin waktu gue ngantar Lio ke dokter gigi. Eh.. ternyata dokter giginya Rara. Soal kenapa gue nggak ngomong sama kalian semua, gue mau buat kejutan buat kalian di sini," ucap Kak Rey. Dia melihat satu per satu wajah mereka, lalu berceletuk tak kala melihat sahabat-sahabatku yang hanya diam, "kok kalian hanya diam? Kalian nggak seneng lihat sahabat kalian balik lagi setelah 7 tajun menghilang?" "Sahabat? Hahaha dia bukan lagi sahabat kami," ucap ketus Rachel-Rachel Audi Arabell- disertai kekehan sinis yang membuat jantungku seperti dihimpit oleh dinding beton. Sakit. Aku menatap mata mereka satu persatu. Aku menemukan kekecawaan yang sangat dalam dari mata mereka yang tengah menatapku sinis dan datar. "Kok lo ngomong gitu?" ucap kak Rey, dia tidak setuju dengan ucapan mereka yang dilontarkan padaku. "Emang salah? Kita ngomong nyata. Dia memang bukan sahabat kita lagi, mana ada sahabat yang ngilang selama 7 tahun tanpa kabar dan sekarang, tanpa ada rasa bersalah. Dia datang ketika kita sudah terbiasa tanpa kehadirannya," ucap Vana. Ivana Putri Amoura. Aku menggigit bibir bawahku, aku sakit mendengar ucapan Vana. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan mereka semua. Mereka berhak mencaci, memaki bahkan berkata ketus padaku. Tapi tetap saja aku merasa sedih saat semua sahabat-sahabatku berkata seperti itu. "Vana, jaga bicaramu!" tegur Kak Dino, lalu secepat kilat dia langsung tersenyum ke arahku, "gimana kabarnya, Ra? Kamana aja lo selama ini? Kenapa 7 tahun ngilang gitu aja. Lo gak tahu? Kita saat itu khawatir banget sama lo" ucap kak Dino persis seperti ucapan Kak Rey waktu itu. Aku berusaha tersenyum, "baik kak karena masih diberi kesempatan Tuhan buat bernafas dipagi hari. Dan maaf buat tujuh tahun yang lalu---" "Ngapain lo belain dia sih kak? Dan buat lo," ucap Dania, dia menunjukkan jari telunjuknya ke arahku, "kita bener-bener kecewa sama lo" ucap Dania lagi. Bicaranya memang datar tapi ada secercah kekecewaan yang ku lihat di matanya dan juga aku menemukan ada rasa........ Bersalah? Aku menghembuskan nafasku, menatap satu persatu mereka. Memandang mereka dengan tatapan sendu dan bersalah. "Maaf. Maaf atas kejadian tujuh tahun yang lalu, aku akui memang akulah yang bersalah---" "Memang!!!" celetuk Rachel yang memotong ucapanku. "Lo emangudah salah besar." "Rachel!!!" peringat kak Kevin, "lanjutkan Ra." Aku memejamkan mataku sejenak lalu kembali membukanya, "aku memang bersalah, tapi tujuh tahun yang lalu, aku terpaksa melakukan itu. Aku terpaksa meninggalkan Indonesia. Keadaanlah yang memaksaku untuk meninggalkan kalian. Jika aku dapat memilih, aku akan tetap bersama kalian. Apakah kalian tahu? Kehidupanku saat itu benar-benar rumit" aku menghapus air mata yang tak terasa sudah mengalir dipipiku. "Cih, drama!" Rachel berucap dengan pelan, namun aku dapat mendengarnya dengan jelas. "Tapi tetap saja, lo hilang gitu aja tanpa pamit. Pergi gitu aja, nggak mikirin perasaan kami semua. Sebenarnya lo anggap kita apa?!!!!" Vana berteriak padaku. Dia memukul meja keras sehingga seluruh pasang mata tertuju pada tempat kami. "Dan sekarang lo balik? Buat apa lo balik hah? Mau minta maaf? Telat!!! Semuanya udah terlambat. Semuanya sudah berubah, semuanya sudah nggak akan sama seperti dulu lagi" Aku kembali diam mendengar penuturan Rachel. Aku memang sudah menduga semuanya, pasti semua tidak akan pernah sama seperti dulu, "kami benar-benar kecewa banget sama lo, Ra." Aku menundukkan kepalaku. Meremas sisi dress yang saat ini aku kenakan, mencoba menguati diri agar air mata ini tidak menetes. Katakanlah jika aku lebay atau cengeng. Tapi jika kalian di posisiku apakah kalian akan diam biasa saja ataukah bersikap bodo amat ketika sahabat kalian membenci kalian. Sahabat yang selalu menemani kalian bahkan mensuport dikala kalian sedang terpuruk justru berbanding terbalik, mengeluarkan kata-kata pedas pada kalian karena salah paham? Mereka bukan hanya sahabatku tapi juga keluargaku. Kami bersahabat bukanlah satu atau dua tahun, tapi sudah hampir sepuluh tahun lebih. Kami selalu melakukan hal bersama-sama. Susah-senang, suka-duka kami lewati bersama-sama. Saling bergandeng tangan, menguati satu sama lain. Jadi, salahkah aku bersikap berlebihan seperti sekarang? Ku rasakan ada tangan yang menepuk bahuku pelan, aku mendongak dan menatap kak Rey yang tengah tersenyum tulus, "kakak percaya sama kamu. Pasti ada sesuatu hal besar yang membuat kamu harus pergi meninggalkan kami. Dan untuk kalian, apakah kalian nggak percaya sama sahabat kalian sendiri? Rara pasti punya alasan melakukan itu semua, dan sebagai sahabat seharusnya kalian mendukung dan mensuport bukan malah menghakimi seperti ini" aku terharu mendengar ucapan kak Rey. Dia memang playboy dan humoris tapi dia juga akan menjadi orang yang paling dewasa di antara kami. Aku sangat menyayangi dia, karna dia adalah salah satu orang yang paling penting di hidupku. Kak Rey memang kakak terbaik yang telah selalu ada untukku. Walaupun dia bukanlah kakak kandungku, tapi rasa sayang yang dia berikan, membuatku merasa jika aku memiliki kakak yang sangat peduli dan perhatian. "Dania, ayo kita pulang." Deg Suara itu... Aku kenal betul dengan suara ini. Suara yang selama ini aku rindukan. Suara dari orang yang sama, yang selama ini selalu menghantui pikiranku maupun hatiku. Suara yang selama ini menjadi alunan kerinduan yang terus bersarang dalam diriku. Suara dari seorang yang saat ini masih memiliki posisi yang sangat penting dalam hati setelah keluargaku. Badanku terlalu kaku hanya untuk sekedar menengok ke belakang, memastikan bahwa ini bukanlah mimpi semata. "Kenapa kalian pada diam?" tanya dia sekali lagi Aku masih diam bergeming, entah mengapa atmosfer di ruangan ini berubah menjadi sunyi. Semua termasuk sahabatku dan sahabat kak Rey diam membisu. Semua bayangan kebersamaan kami terus berputar bagai kaset rusak. Dari aku pertama bertemu dengannya hingga aku yang dengan teganya meninggalkan dia. Meninggalkan laki-laki yang aku cintai dengan kekecawaan yang mendalam untukku. Air mataku menetes. Aku begitu merindukan dia. Sangat merindukannya. Dengan mengumpulkan sisa tenaga dan keberanian yang kupunya. Aku membalikkan badan menghadapnya. "Dev?" ucapku lirih, bahkan sangat lirih. Mungkin dia tidak akan mendengar ucapanku. Dia menengok ke arahku. Bisa ku lihat jika dia sangat terkejut dengan kehadiranku. Air mataku tidak bisa untuk tidak berhenti. Aku juga bisa melihat, ada sebuah perasaan campur aduk dimatanya, kecewa, benci, marah semua bisa aku lihat dimata yang selama ini juga sangat aku rindukan. Mata tajam yang berwarna hitam pekat yang dulunya menatapku dengan penuh kelembutan dan cinta tapi sekarang yang kulihat hanyalah sebuah kebencian yang ada di dalamnya. "Ngapain kamu disini?" ucapan dingin yang terlontar dari mulutnya setelah diam beberapa menit. Ucapanya mampu membuatku merasa seperti sakitnya terjatuh dari atas tebing. 'Sakit. Sakit sekali'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN