Chapter 5

1105 Kata
Aku melangkahkan kakiku menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang tiada habisnya. Dalam hati, aku terus memanjatkan doa kepada Tuhan agar seseorang yang kini tengah berjuang di dalam ruang ICU dapat diberi kesembuhan dan keselamatan. Dengan masih mengenakan baju yang kupakai ketika kuliah, aku berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Tak menghiraukan tatapan penasaran dan heran dari pengunjung lain. Saat ini yang aku pikirkan hanya keselamatan Papa. Tak ayal, saat ini batinku terasa sangat bergejolak. Khawatir, cemas, gelisah, takut, tegang. Semua perasaan itu bercampur aduk menjadi satu di dalam hatiku. Aku mengahampiri seorang wanita yang sangat aku kenal. Bunda. Dia berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU. Tak lupa, air mata yang terus mengalir deras di kedua pipinya. "Bunda," ucapku dengan suara bergetar. Aku berlari menghampiri bunda lalu memeluknya erat. Aku benar-benar sangat takut sekarang. "Bunda gimana keadaan papa?" tanyaku. Aku merasakan jika pelukan bunda semakin mengerat. "Hikss.... Hiks...."bukannya menjawab, bunda malah semakin terisak. Aku menuntun beliau agar duduk dikursi tunggu. Setelah keadaan bunda mulai tenang, aku mencoba bertanya, "bunda, coba ceritain pelan-pelan. Mengapa papa bisa masuk rumah sakit" ucapku setenang mungkin, walaupun perasaan khawatir mulai meletup-letup dalam hatiku. "Papa kamu... Dia terkena serangan jantung," ucap bunda lirih, sangat lirih malah. Namun aku dapat mendengar ucapan bunda karena memang keadaan sekitar yang sangat hening dan senyap. Aku tertegun. Aku menghapus air mata yang mulai menetes dari mataku, "sejak kapan papa memiliki riwayat penyakit jantung? Kenapa papa sama bunda nggak pernah cerita padaku?" kurasakan suaraku semakin serak "Sejak lama. Namun kali ini adalah kondisi yang paling parah. Maafin kita, bunda cuma nggak mau menambah beban pikiranmu," bunda menghapus air matanya, "tadi setelah kamu berangkat kuliah, papa mendapat telepon dari sekretarisnya. Papa kamu syokk saat mendapat kabar kalau perusahaannya mengalami kebangkrutan. Dia memegang dadanya lalu pingsan di depan bunda. Papa kamu ditipu orang habis-habisan dan sekarang dia dililit banyak hutang," aku memeluk bunda yang kembali terisak Perusahaan papa bangkrut? Aku memejamkan mata. Tikaman di d**a kurasakan semakin menusuk tajam. Aku tersenyum ironi. Mungkin semua karenaku, aku telah membebankan kedua orang tuaku. Aku memang anak yang sangat menyusahkan. Papa harus merelakan semua uangnya untuk pengobatanku yang bahkan tidak ada hasilnya. Aku benar-benar anak yang tidak berguna kan? "Maaf." Aku menunduk. Aku merasa seperti parasit yang hanya bisa merugikan inangnya. Bunda memegang pundakku, "kenapa minta maaf?" tanyanya lembut. Nada bicaranya masih bergetar. "Maaf. Gara-gara aku, papa harus kehilangan perusahaanya. Pasti papa sudah mengeluarkan banyak uang untuk biaya pengobatanku" ucapku. Aku memejamkan mataku, menghalau air mata yang mendesak untuk keluar. Tapi sialnya air mata ini terus keluar tanpa bisa dicegah. Bunda memelukku dengan erat, "kamu enggak salah. Mungkin ini sudah jalan yang Tuhan berikan pada kita. Yang terpenting kita senantiasa selalu bersyukur dan berayukur" bunda melepaskan pelukannya, lalu manik mata coklat terangnya menatapku dengan sayu, "bunda rela kehilangan apa pun, yang terpenting kamu bisa sembuh." Ceklek Tepat setelah bunda berucap, Suara pintu ruang ICU terbuka, nampaklah seorang dokter dengan wajah yang sungkar diartikan. Aku dan bunda segera menghampi dokter itu untuk menanyakan kondisi Papa, "dok gimana keadaan suami saya?" tanya bunda dengan nada khawatir. Dokter itu melepas masker yang menutupi mulutnya lalu menghela nafas berat. Perasaanku mulai tidak enak. Dokter itu menggeleng pelan, "maaf" ucapnya lirih. "Maaf. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain," ucap dokter itu Deg.... Aku merasakan duniaku berhenti sejenak. Jantungku berdetak tak beraturan. Air mataku terus menerus menetes membentuk sebuah aliran sungai kecil di pipi. "Dokter bohong kan? Papa nggak mungkin meninggal. Tadi pagi, dia masih bercanda denganku!" seruku lantang. Aku menarik kerah jasnya lalu mengguncangnya. Aku tidak terima dengan ucapan dokter ini. Papa masih hidup. Ya dia pasti masih hidup. Papa sudah berjanji padaku untuk selalu setia menemaniku. Papa tidak mungkin mengingkari janjinya. Dokter itu diam, dia membiarkan dirinya menjadi pelampiasan kesedihanku. Aku menggeleng-nggelengkan kepalaku. "Hiksss.. Hikssss..." Kakiku terasa lemas. Bahkan untuk berdiri pun aku merasa tidak mampu. Aku jatuh meluruh di lantai. Menekuk kedua lutuku lalu menenggelamkan kepalaku di sana. Kenapa harus begini? Kenapa Tuhan mengambil orang yang aku sayangi, tidak cukupkah Dia memberikan penderitaan yang tiada habisnya? "Hikssss....." "Astaga, Bu!" seru salah satu suster itu yang mengembalikan kesadaranku kalau di disitu ternyata masih ada bunda yang lebih syok dariku. Aku melihat bunda yang sudah tak sadarkan diri, "Bunda" dengan menggunakan sisa-sisa kesadaran dan kekuatan yang kupunya. Aku menghampiri bunda yang sudah ditahan oleh dokter dan beberapa suster. "Bunda..." aku mengguncang pelan tubuh bunda yang tak sadarkan diri. "Suster tolong bawa ibu ini ke ruang rawat inap no 23 A" kata dokter itu Aku membiarkan suster-suster itu membawa bunda. Aku yakin pasti bunda sangat syok mengingat suaminya yang sangat dicintai pergi meninggalkannya. Selama ini aku dapat melihat betapa besar cinta yang dimiliki bunda dan papa. Dokter itu menepuk pelan bahuku lalu meninggalkanku dalam kesunyian. Aku melangkahkan kakiku. Membuka pintu yang berlapis kayu dengan pelan. Tubuhku bergetar hebat saat melihat seseorang yang sangat aku cintai sudah terbujur kaku dengan jantung yang sudah berhenti. Aku berjalan pelan, pandanganku kosong. Udara dingin yang menyeruak di dalam tubuhku tidak ku hiraukan. Aku memejamkan mataku, berharap ini semua adalah sebuah mimpi. Namun satu kali lagi, aku harus ditampar oleh kenyataan yang sangat menyakitkan. Semua ini bukanlah mimpi, namun benar-benar nyata. Aku memukul dadaku yang terasa sangat sakit. Bayangan kebersamaan kami seketika berputar. ketika aku kecil sampai beranjak dewasa. Semua terekam jelas di memori otakku. Aku menatap tubuh Papa yang telah terbujur kaku. Aku mendekati dan tangisku langsung pecah. Papa. "Papa!!" aku terbangun dari tidurku dengan keringat dan air mata yang sudah bercucuran. Aku menghela nafas panjang untuk mengatur nafasku yang memburu. Aku mengusap pelan wajahku. Ternyata hanya mimpi. Tak terasa satu tetes air mata sudah mengalir di pipiku saat mengingat peristiwa yang hampir membuatku gila. Seandainnya aku tidak memiliki bunda yang sangat menyayangiku, mungkin saat ini aku sudah tidak ada di muka bumi ini. Aku memejamkan mataku, meresapi betapa sakitnya hatiku saat mengingat kenangan itu. Yakinlah, masa itu adalah masa-masa terberat bagiku. Aku rapuh. Hancur. Setiap hari, aku selalu melihat bunda yang melamun dengan pandangan kosong. Melihat bunda dengan keadaan seperti itu, aku marah dan benci kepada Tuhan yang menurutku sangat tidak adil. Mengapa Tuhan selalu memberikan cobaan yang bertubi-tubi kepadaku? Saat itu, aku hanya berpikir pendek. Aku sudah tidak lagi meminum obat yang dokter berikan padaku, aku selalu menyiksa diriku, hingga suatu hari keadaanku bener-bener lemah. Aku sudah berada di ujung antara hidup dan mati. Dan saat itulah aku tersadar dari semua perbuatanku. Tuhan memberikan ujian padaku karena Tuhan sangat menyayangiku. Tuhan menginginkanku menjadi pribadi yang kuat dan tangguh untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Dan saat itulah aku yakin, jika Tuhan akan menjanjikan sebuah kebahagian yang tiada tara jika kita sebagai hambanya, mampu menerima cobaan itu dengan penuh kesabaran dan keikhlasan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN