Chapter 4

1150 Kata
Aku membolak-balikan undangan yang berada di tanganku. Sudah beberapa kali aku menghela nafas gusar. Aku kembali membaca undangan yang sedang aku pegang ini Reuni Akbar SMA Kencana Angkatan 56, 57 dan 58 Tempat/tanggal :Resto Dello Galaksi/1 September 2019 Ya... Ini adalah undangan reuni SMA Kencana, SMA tempatku dulu menuntut ilmu. Walaupun aku tidak menamatkan pendidikan disana, namun aku masih diundang untuk sekedar melepas rindu kepada teman-teman yang sudah 7 tahun tidak bertemu. Namun yang menjadi permasalahanku kali ini adalah, apakah aku harus menghadirinya atau tidak?. Aku sedang bimbang dengan keputusan yang akan aku ambil. Disisi lain aku ingin menghadirinya, namun jika aku datang ke acara itu, pasti ada seseorang yang tidak menyukai kehadiranku. Tapi jika aku tidak datang, aku akan merasa tidak enak kepada kak Rey yang sudah menyempatkan datang ke rumah sakit di sela-sela kegiatannya yang sangat padat. Undangan reuni ini memang diberikan secara langsung untukku. Kak Rey memberikan undangan itu saat aku sedang berada di kantin rumah sakit. Dia memintaku untuk menghadiri acara itu. Aku menghela nafas. Ini adalah reuni angkatan 56, 57, dan 58. Otomatis pasti disana aku akan bertemu dengan 'seseorang' yang selama ini aku rindukan. Tapi apakah dia juga merindukanku? Entahlah, namun aku teramat sangat yakin, jika dia sama sekali tidak merindukanku. Boro-boro merindukan, pasti dia sudah melupakanku di pikiran maupun dihatinya. Pasti disana juga aku akan bertemu dengan sahabat-sahabatku. Aku bahkan belum mengabari mereka, jika aku sedang berada di Indonesia. Semoga saja, mereka bisa mengerti keadaanku. Memikirkan itu semua, membuatku menjadi pusing. Aku mengetuk-ngetuk bolpoin ke meja kerjaku. Pikiranku melayang kesana-kemari, memutar semua memori yang ada diseluruh otakku. Bahkan saat aku berada di titik terdalam kehancuran pun terekam jelas di memoriku Hufttt.... Mengapa hidupku menjadi serumit ini. Padahal jika dipikir-pikir, dulu hidupku dipenuhi dengan kebahagian, semua orang ingin berada di posisiku. Keluarga yang sangat menyayangiku, sahabat yang selalu ada disaat suka maupun duka, dikelilingi oleh orang-orang yang sayang dan perhatian, dan yang membuat semua orang iri adalah dicintai oleh seorang yang sangat berpengaruh. Dulu, selama aku hidup, tidak ada kata kekurangan baik secara materi maupun kasih sayang. Tapi semuanya berubah total. Tidak pernah ada bayangan jika hidupku akan berubah 180° seperti saat ini. Ada pepatah yang menggambarkan tentang keadaanku saat ini. 'Roda terus berputar, kadang dibawah kadang diatas'. Dulu aku pernah mengalami yang namanya masa-masa kejayaan. Dimana masa itu, aku tidak pernah sedikitpun menderita. Hari-hariku selalu dipenuhi dengan senyum dan tawa. Aku benar-benar merasa sangat beruntung karena dilahirkan dilingkungan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Namun, sekali lagi pepatah mengatakan, 'tidak selamanya roda di atas'. Begitu pula dengan kehidupanku. Tidak selamanya aku berada di titik tertinggi itu. Ada kalanya kita, sebagai manusia harus merasakan berada di titik terendah dari kehidupan yang sebenarnya. Tujuanya agar kita mengerti betapa sulitnya pada masa itu, dan agar kita selalu mengingat bahwa kita pernah berada di posisi yang begitu terpuruk. Jika suatu saat kita telah bangkit dari keterpurukan, dan kita kembali ke titik teratas, kita akan selalu mengingat dan menjadikan masa lalu itu sebagai pelajaran. Bahwa tidak selamanya, kita berada di atas. Tuhan memang adil kepada semua manusia. Tapi di balik itu semua. Aku sangat bersyukur, setidaknya aku masih bisa menghirup udara segar atau melihat senyum indah milik bunda dipagi hari. Tuhan memang sangat baik padaku, dia masih memberikanku kesempatan untuk hidup. Sudahlah... Intinya sebagai manusia, kita harus selalu bersyukur dan selalu berserah diri kepada Tuhan yang telah menciptakan kita. Karena pada hakikatnya, semua yang kita miliki adalah pemberian dari-Nya yang suatu saat akan diambil kembali dari kita. Aku melirik jam yang menempel di dinding berdominan putih itu. Jam menunjukkan pukul 17.30. Aku segera membereskan meja kerja yang berserakan kertas-kertas yang berisi data pasien. Setelah itu aku memasukkan peralatan dokterku ke tas kerja. Aku segera beranjak dari kursi lalu pergi meninggalkan ruangan praktik. Namun sebelum itu, aku pergi untuk menemui asisten pribadiku "Vin, semuanya sudah selesaikan?" tanyaku pada Vina, ketika aku sudah berada di hadapan dia. Kulihat Vina tengah mengecek sebuah buku besar, yang ku yakini itu adalah data-data semua pasien. Mata Vina bergerak kekanan-kekiri membaca setiap kata per kata. "Semua sudah selesai dok. Tapi seharusnya masih ada satu pasien anak kecil yang berusia 6 tahun namun karena walinya ada urusan mendadak, jadi jadwal ceknya diganti esok hari" ucap Vina. Lalu dia menutup buku itu. Aku mengangguk. "Kalau begitu saya pulang dulu ya, Vin. Tolong kamu keruangan saya lalu beresin semua peralatan yang berantakan, tadi sudah saya beresin sebagian" ucapku lalu memandang jam yang berada di pergelangan tanganku. "Sudah jam 17.45, saya pulung dulu. Kamu hati-hati, ya," aku tersenyum ke arah Vina. "Iya dok. Dokter juga hati-hati, jangan mengebut di jam segini" ucap Vina sambil membalas senyumku. Aku mengangguk. Aku segera pergi dari hadapan Vina. Melangkahkan kakiku menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang dipenuhi oleh ratusan orang, baik pasien maupun keluarga pasien "Selamat malam" ucapku saat ada seorang keluarga pasien yang menyapaku. Aku melanjutkan langkahku untuk segera pulang ke rumah. Setelah sampai di parkiran rumah sakit, aku segera manancapkan gasku meninggalkan pekarangan rumah sakit. ***** "Kamu sudah pulang sayang?" suara halus nan lembut masuk ke indra pendengaranku. Dengan senyum lebar, aku berjalan ke arah bunda lalu memeluknya, "sudah dong, Bun." Bunda melepas pelukannya lalu menuntunku untuk memasuki rumah, "kamu mau mandi dulu atau langsung makan?" bunda mengelus pelan punggungku. "Mandi dulu, bun. Badan Rara udah bau kecut" aku menutup hidungku sendiri. Walaupun nyatanya badanku sama sekali tidak bau. Bunda terkekeh pelan, "yaudah mandi dulu sana. Jangan lama-lama ya" aku mengangguk lalu mencium pipi bunda. Setelah sampai di kamar, Aku segera meletakkan tas kerja di atas nakas lalu melepas jas kedokteranku. Sebelum ke kamar mandi, aku melepas wig terlebih dahulu. Aku sangat bersyukur karena seharian ini, aku tidak merasa pusing dan tidak mimisan. Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, aku keluar kamar mandi dengan balutan baju tidur berwarna biru muda. Tak lupa beani hat berwarna coklat s**u sudah bertengger manis di kepalaku. Aku segera turun untuk mengisi perutku yang mulai keroncongan. Aku menapaki satu demi satu anak tangga. Senyumku mereka saat melihat bunda dan bi Ijah yang sedang tertawa. Aku mendekat ke arah mereka. "Selamat malam bunda, bi Ijah" sapaku. Aku duduk disamping kursi bunda. "Selamat malam sayang," jawab bunda lalu mengecup pelipisku. "Selamat malam juga non," Bi ijah tersenyum kearahku. "Lagi ngomongin apa sih? Kok kayaknya seru banget" ucapku, "terima kasih bun" aku menerima makanan yang sudah diambilkan oleh bunda. "Biasa. Udah sekarang kita makan, perut bunda udah bunyi dari tadi" ucapan bunda mengakhiri obrolan kita. Kita makan dalam keadaan hening. Dentingan sendok dan piring saling beradu memecah keheningan malam yang terasa sunyi. Aku mengelap mulutku setelah menyelesaikan acara makan malam. Ku lirik bunda dan bi Ijah. Mereka juga sudah menyelesaikan kegiatan makannya. "Giamana kerjaanya hari ini, Ra" tanya bunda. Sedangkan bi Ijah, dia membereskan peralatan makan. "Lancar bun. Rara ke kamar dulu ya, bun. Udah ngantuk" aku mencium pipi bunda, "good night bun" aku melangkahkan kakiku menuju kamar. "Good night too sayang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN