Ternyata aku tidak bisa untuk tidak minum obat. Aku gagal. Aku sudah terlalu bergantung pada obat. Aku tersenyum miris, ternyatak aku adalah manusia yang sangat bergantung pada obat-obatan. Asal kalian tahu, saat pertama kali aku mengetahui bahwa ada penyakit yang bersemayam dalam diriku. Saat itu juga, aku merasa duniaku hancur sehancur hancurnya. Aku merasa Tuhan tidak adil padaku. Kanapa bukan orang lain? Dari banyaknya manusia yang ada mengapa harus aku yang mengalaminya? Saat itu aku benar-benar merasa sangat kacau.
"Pa, mengapa bunda nangis?" tanyaku pada papa yang hanya diam memandangku dengan tatapan prihatin. Kulihat bunda menangis sambil memelukku dengan erat. Aku bingung. Mengapa aku ada di rumah sakit? Yang ku ingat setelah aku pulang sekolah, aku berniat menemui bunda yang berada di dapur. Tapi sebelum sampai dihadapan bunda, aku merasa cairan kental keluar dari hidungku. Setelah itu pandanganku buram, sebelum kesadaranku menghilang, samar-samar bunda berteriak memanggil namaku. Dan setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.
"Bun, kenapa bunda nangis?" tanyaku pada bunda, namun bunda tidak menjawab pertanyaanku, beliau malah menangis sambil bergumam, "yang sabar ya, sayang. Kamu harus ikhlas. Bunda yakin kamu anak yang kuat."
"Bunda ngomong apaan sih?" perasaanku mulai tidak enak, ditambah lagi akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan keadaanku. Rambutku sering rontok, namun selama ini aku sama sekali tidak memperdulikannya, karena
aku kira ini akibat sampo yang kugunakan tidak cocok dengan rambutku. Aku memang baru membeli shampo yang berbeda dengan yang biasanya aku gunakan.
"Bunda jawab!! Sebenarnya apa yang terjadi denganku" jantungku mulai berdetak tak beraturan. Aku melirik papa yang memandangku dengan pandangan kosong.
"Hikss... Kamu yang kuat, nak. Ini ujian untukmu. Bunda dan papa akan selalu mensuport kamu" bunda memegang bahuku, "kamu sakit, Ra. Kamu-- hiks.. hiks.." bunda semakin terisak.
Melihat keadaan bunda dan papa aku dapat menyimpulkan sesuatu. Keyakinanku tentang sesuatu yang melintas diotakku bertambah ketika mengingat keadaanku akhir-akhir ini. Rambut sering rontok, mudah terlelah dan puncaknya tadi siang, yaitu mimisan. Aku menggeleng kepalaku, "bun.." ucapku lirik, air mataku terus mendesak untuk keluar.
Papa memelukku dengan erat, "kamu anak yang kuat, Ra. Kamu pasti bisa melawannya" papa menghapus air mata yang sempat menetes di pipinya lalu menghembuskan nafasnya secara perlahan, "kamu terkena penyakit Leukimia"
Leukimia?
Kanker?
Aku menderita kanker?
"Bunda, papa ini bukan april mop loh, dan pastinya juga bukan hari ulang tahunku. Bercanda kalian sama sekali tidak lucu" aku tertawa hambar. Aku menyakinkan diriku sendiri kalau ini hanyalah prank yang dilakukan bunda dan papa
"Enggak, Ra. Kami tidak bohong"
Setelah mendengar ucapan papa, aku tertegun. aku diam. Pikiranku melayang entah kemana, bahkan untuk membalas pelukan papa pun aku tidak mampu. Aku merasa duniaku berhenti untuk beberapa menit. Hatiku seperti ditusuk oleh beberapa bilah pisau. Tubuhku terasa kaku, mati rasa. Pandanganku kosong.
"Ra.." bunda menyentuh pundaku dengan lembut. Dia kembali memeluku dengan erat. Aku menangis dipelukannya.
"Hiks... hiks.. kenapa seperti ini, bunda. Kenapa harus, Rara. Apa salah Rara? Dari ribuan orang disana, kenapa harus rara yang mengalaminya? Kenapa bun?" aku memukul dadaku yang terasa sesak. Rasanya seperti diimpit oleh ribuan beton. Sangat sakit.
Bunda menangkap tanganku yang terus memukuli dadaku sendiri, "sabar Ra. Kamu harus berjuang untuk kami, kami semua sayang sama kamu. Bunda dan papah yakin kalau kamu mampu melewati ini semua. Ingat sayang, Tuhan selalu bersama dengan orang yang kuat dan sabar," ucap bunda terisak.
Di ruanganku hanya ada suara isakan tangis yang menyayat hati siapapun. Aku tersenyum miris, aku menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Air mataku tidak berhenti untuk keluar. Aku yakin setelah ini semuanya akan berubah. Semuanya tidak akan sama seperti sedia kala. Dan pastinya ini adalah awal dari akhir yang sebenarnya.
"Mbak!" aku tersadar dari lamunanku saat seorang pelayan menepuk bahuku.
"Hah?" aku memandang pelayan itu dengan bingung, aku masih terkejut dengan kedatangan pelayan itu yang tiba-tiba menepuk pelan bahuku.
"Maaf mbak. Cafenya sudah mau ditutup" ucap pelayan itu dengan sopan.
Aku memandang jam yang berada di pergelangan tanganku. Pukul 22.30. Benar saja jika cafenya sudah mau tutup. Karena asyik melamun aku sampai tidak menyadari jika aku sudah berada di cafe selama hampir 3 jam.
"Eh iya. Kalau begitu saya permisi ya, mbak dan maaf sudah merepotkan" aku segera menenteng tasku lalu segera pergi dari cafe itu tapi sebelumnya aku pergi ke kasir terlebih dahulu untuk membayar pesananku.
Mengingat jam yang semakin larut, aku mengendarai mobilku dengan kecepatan diatas rata-rata. Jalanan Jakarta pada tengah malam sangat lenggang, yang kulihat hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Mungkin mereka baru pulang karena lembur di kantor. 15 menit kemudian aku sudah berada di depan rumah yang selama ini menjadi tempatku berlindung. Aku turun dari mobil lalu membuka gerbang yang tertutup, setelah itu aku kembali ke mobil dan mengendarainnya memasuki pekarangan rumah
Ketika aku membuka pintu rumah, kegelapanlah yang menyambutku. Tanpa menyalakan saklar lampu aku berjalan di tengah kegelapan rumah.
"Non Rara?" tiba-tiba bi Ijah sudah berada didepanku.
"Astaga bi ngagetin aja," ucapku sambil mengelus dadaku pelan, "untung aku enggak memiliki riwayat jantung"
"Hehehe maap non. Ngomong-ngomong tumben banget jam segini baru pulang?" tanya bi Ijah. Dia adalah pembantu yang sudah sangat lama bekerja dirumahku
"Tadi mampir ke cafe dulu, tapi gara-gara keasyikan ngelamun aku gak sadar kalau udah larut malam. Kalau bibi ngapain jam segini belum tidur?"
"Ngambil minum" bi Ijah mengangkat gelas yang berisi air putih, "non tau nggak? Tadi ibu khawatir banget soalnya non nggak pulang-pulang padahal udah waktunya pulang terus nona juga gak bisa dihubungi," jelas bi Ijah yang membuatku merasa bersalah pada bunda. Pasti tadi bunda sangat mencemasku.
"Tadi batrai aku lowbat jadi nggak bisa mengabari bunda. Yaudah ya bi, Rara mau kekamar" aku segera menaiki tangga. Namun tujuanku bukan kekamarku melainkan ke kamar bunda
'Ceklek'
Aku membuka pintu kamar bunda dengan perlahan, takut jika mengganggu istirahat bunda. Setelah pintu terbuka sepenuhnya, aku melihat bunda yang sedang tertidur pulas. Aku berjalan ke arah bunda. Setalah sampai di hadapannya, aku mendudukan diriku di samping ranjang. Aku tersenyum memandangi wajah yang tampak damai itu. Wajah wanita yang rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membuat diriku bisa melihat dunia yang fana ini. Aku mengelus lembut wajah wanita yang paling aku cintai didunia. Mataku tampak berkaca-kaca
"Maafin Rara, bun. Karena udah bikin bunda khawatir" aku bergumam sambil terus mengusap pipi bunda yang semakin tirus. Aku tahu bunda adalah orang yang paling terpukul atas kematian papah. Bunda memang terlihat kuat jika berada dihadapanku, tapi bunda akan merasa rapuh jika dia sendiri. Bunda memang wanita paling kuat yang pernah aku temui. Hanya dialah satu-satunya alasan aku untuk hidup.
"Maaf karena selama ini udah banyak merepotkan bunda. Maaf karena selalu bikin bunda khawatir" aku berusaha menghalau air mataku agar tidak keluar, namun nyatanya sia-sia. Air mataku terus mengalir membasahi pipiku.
"Bun... Mengapa bunda mau merawat anak yang berpenyakitan macam aku? Mengapa bunda masih sayang denganku disaat semua orang menjauhiku? Asal bunda tahu, hanya bundalah satu-satunya orang yang menjadi penyemangat Rara agar bertahan dengan penyakit ini. Rara janji bun, kalau Rara akan berjuang sedemikian rupa untuk sembuh" aku menghirup udara dalam-dalam
"Maafin Rara bun, jika selama ini Rara belum bisa menjadi anak yang bunda inginkan. Rara sayang sama bunda" ucapku yang diakhiri dengan kecupan di kening bunda. Aku mengecup kening bunda cukup lama, "good night and sweet dream"
Setelah itu aku pergi dari kamar bunda tak lupa sebelumnya aku menyelimuti agar beliau tidak kedinginan.