Aku menatap kosong pada bangunan megah nan luas dihadapanku. Berdiam diri di dalam mobil tanpa berniat keluar atau berjalan memasuki pelataran rumah yang sudah lama tak ku kunjungi ini. Semuanya tampak sama seperti tujuh tahun yang lalu, yang membedakan hanya tatanan dekorasi mewah yang sengaja dihias sedemikian rupa untuk acara pertunangan yang akan aku datangi. Perang batin yang sedang aku alami membuatku hanya diam tak berkutik. Mengabaikan keadaan sekitar, termasuk Alvian. Fokusku hanya pada orang yang berlalu lalang di depan sana. Aku menghela nafas sembari memejamkan mata sejenak untuk menyakinkan diri jika keputusan yang saat ini kuambil adalah keputusan terbaik. Tapi, rasa sakit yang aku rasakan semakin nyata. Terasa menikam ulu hati hingga menimbulkan rasa sesak yang luar bias

