"Jadi kesimpulan apa yang lo ambil dari percakapan gue dengan bokap lo?" tanya Dania setelah memilih tempat yang jauh diri dari keramaian, yaitu sebuah kursi bagian pojok yang terhalang oleh pepohonan rindang dan lebat. Aku menatap perempuan itu lekat. Menelusuri gurat wajahnya yang sayu, mencoba mencari sesuatu yang aku cari dan aku menemukannya. Mata coklat itu, terlihat sangat terang, indah dan berkilau sama persis seperti mataku dan Papa. Mengapa aku baru menyadari kesamaan ini? Kemana saja aku selaman ini? Apa selama ini aku terlalu acuh dengan lingkungan sekitar? Padahal kami sudah bersahabat hampir selama 18 tahun lamanya. Aku memejamkan mata, memikirkan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Jangankan bayangkan, memikirkan kalau aku dan Dania adalah dua saudara saja

