Hampir satu jam aku menunggu kedatangan Dania di kedai Cacao yang telah kau katakan dan selama itu, aku sama sekali tak menemukan tanda-tanda akan keberadaan dirinya. Setiap kali lonceng pintu berbunyi, menandakan ada pengunjung yang masuk, secara otomatis atensiku langsung tertuju ke sana, berharap perempuan itulah yang datang. Namun, harapanku harus pupus ketika melihat sosok asing yang berjalan ke meja lain. Benar-benar mengecewakan, karena aku sudah sangat berharap akan kedatangan perempuan itu. Aku benar-benar tidak bisa menahan semua perasaanku lebih lama. Aku taku, kalau aku menahannya, aku bisa gila di detik ini juga. Mataku melirik pada arloji di tanga kiriku yang sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh lima menit. Apa dia tidak menyetujui permintaanku yang ingin bertem

