Chapter 8

1014 Kata
Adlan tersentak saat pintu kamarnya tiba-tiba saja dibuka, dengan gelagapan cowok itu menyembunyikan handphonenya di bawah bantal. Mencoba bersikap biasa saja.             "Ngapain lo ke kamar gue, njir! Sopan-sopan kek, ketuk dulu!" Adlan mendelik ke arah Adlen yang sudah melempar tubuhnya ke atas ranjang Adlan.             Adlen tersenyum miring. "Lo suka sama peri cantik?"             "Ralat. Masih suka?" Adlen menatap kembarannya itu dengan alis terangkat, menunggu jawaban.             Adlan membuang mukanya, enggan beradu tatap dengan pemilik wajah sebelas dua belas dengannya itu. Adlen memang mengetahui kalau Adlan memiliki perasaan lebih pada Hilya, entah bagaimana curut itu tiba-tiba saja mengetahuinya.             Adlen tertawa. "t*i emang, gue nanya malah dikacangin!" Cowok itu mendengus keras-keras.             "Jangan ngancurin persahabatan kita cuman karena satu cewek, Lan. Dia milik Davren." Entah bagaimana Adlen tiba-tiba menjadi Adlen teguh dengan berbagai sabdanya.             Kata 'Milik Davren' itu mampu membuat Adlan menatap Adlen. "Milik bisa direbut."             Adlen bangun, menjitak Adlan. "Ye kang tikung ngegas. Pilih-pilih dong mangsanya, punya temen juga diembat."             Adlan balas menjitak Adlen, lebih keras daripada yang dilakukan Adlen. "Nikung mana ada pilih-pilih."             "Tai."             "Najis."             "Njing."             "Koeching oren."             "Kudanil."             "Buaya."             You know what happens next, satu per satu nama-nama kebun binatang diabsen oleh kembar identik itu. ♡♡♡               Hilya terlihat tengah sibuk mengerjakan tugas yang tadi siang diberikan oleh guru pengajar, sebenarnya tugas itu baru dikumpul minggu depan. Namun, Hilya bukan tipe yang suka menunda pekerjaan, lebih cepat selesai, lebih baik.             Gadis itu meraih handphonenya, melirik jam dinding yang menunjukan pukul 21.45, membuka room chatnya bersama Davren. Atau lebih tepatnya room chat yang hanya diciptakan olehnya karena tidak ada satu pun pesannya yang dibalas oleh Davren.             Dav, udah di rumah?             Send.             Kalo udah, jangan lupa makan malem sama belajar.             Send.             Kalo belum, jangan pulang malam-malam, ya.             Send.             Jangan ke club, ngerokok, apalagi mabuk-mabukn. Maaf ya banyak ngatur hehe.             Send.             Selamat malam, see you.             Send.             Hal itu sudah menjadi rutinitas bagi Hilya, mengirim pesan saat malam hari, mengeceknya di pagi hari. Bosan? Tidak, ini adalah hal yang menyenangkan di saat sepinya malam.             Mata Hilya membulat saat ada panggilan video yang masuk. Senyuman yang samar, merekah seketika saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.             Hilya menggeser layar berwarna hijau, menjawab panggilan video dari seseorang yang sangat ia rindukan. Gadis itu sempat melirik kalender kecil di meja belajarnya yang menampilkan tanggal 10, pantas.             "Assalamualaikum, Sayang." Terdengar sapaan hangat dari seberang sana.             Hilya tersenyum. "Waalaikumsalam, Ma. Hilya kangen."             Sorot mata gadis itu memancarkan keinginan memeluk Mamanya yang sudah sangat lama tidak dijumpainya itu. Hilya bahkan sudah lupa bagaimana hangatnya pelukan seorang Ibu.             Wanita cantik berhijab yang dipanggil Hilya 'Ma' itu menatap Hilya serupa, penuh rindu. "Mama juga, maaf Mama—"             Hilya menggeleng, mengubur dalam-dalam keegoisan dalam dirinya. "Nggak papa, Ma. Mama sehat?" Hilya memilih mengalihkan pembicaraan.             Wanita itu terlihat berkaca-kaca, betapa egoisnya dirinya. "Mama sehat. Kamu gimana?"             Hilya mengangguk dua kali. "Mama bahagia terus, ya. Nggak usah mikirin Hilya, Hilya baik-baik aja kok." Seakan mengerti, Hilya mencoba menenangkan Mamanya.             "Kamu anak Mama." Hilya tersenyum mendengar tiga kata dari sang Ibu, beberapa detik gadis itu sempat terdiam.             "Oh iya Ma, keluarga Mama sehat-sehat aja, 'kan?" Hilya bertanya tulus, wajah cantik gadis itu terlihat berseri ceria, ekspresi yang membuat orang-orang iri karena berpikir dalam kehidupannya, Hilya tidak memiliki masalah.             Namun, tidak ada yang tahu, bagaimana perasaan gadis itu sebenarnya, bahkan gadis itu sendiri mengubur perasaannya begitu dalam. Hanya agar orang-orang di sekitarnya yakin kalau ia bahagia.             Wanita berhijab itu mengangguk. "Maafin Mama."             Hilya terkekeh pelan. "Mama minta maaf mulu, Hilya baik-baik aja selama Mama bahagia. Jadi, tetap bahagia ya, Ma."             "Kamu juga tetap bahagia ya, Sayang."             "Pasti, Ma."             "I love you."             "I love you more than what I can say, Mom."             Setelah itu sambungan terputus. Hilya memejamkan matanya sesaat, menghembuskan napasnya perlahan dengan sorot mata redup.             Tiga menit saja itu sudah cukup bagi Hilya, sekarang ia hanya harus menunggu sebulan lagi agar mendapatkan waktu tiga menit bersama Mamanya lagi.             Setelah beberapa menit hanya diam tanpa melakukan apa pun, Hilya menutup buku pelajarannya, dan melangkah ke arah ranjangnya.             Tatanan kamar gadis itu tidak berubah dari sejak ia berumur tujuh tahun, kamar ini ditata oleh Mamanya, ada kenangan tersendiri yang selalu membuat hati Hilya menghangat.             Siapa pun yang melihat sorot mata redup. Namun, dihiasi senyuman itu akan setuju dengan ucapan Davren. Hilya itu munafik.   ♡♡♡               Seperti pagi-pagi sebelumnya, jam 07.05 pagi, Hilya sudah melangkah memasuki area sekolah. Keadaan kakinya sudah lebih baik, setidaknya tidak sepincang kemarin.             Sesekali gadis itu membalas sapaan siswa-siswi Almo yang berpapasan dengannya. Ada yang hanya sekedar berbasa-basi mengucapkan selamat pagi, sampai ada yang modus ingin membantu mengantarkan Hilya ke kelas.             "Lya," panggil seseorang membuat Hilya menghentikan langkahnya.             Hilya tersenyum ke arah cowok yang kini sudah berdiri di hadapannya. "Kenapa, Yan?"             "Minggu anak-anak mau ke panti lagi, lo ikut?" Adrian dan Hilya adalah dua manusia pemilik hati yang tulus di antara banyaknya manusia, mereka mengikuti suatu organisasi di luar sekolah. Organisasi itu bernama Kasih yang bertujuan memberikan kasih tanpa pilih. Setiap minggunya organisasi itu menyebar anggotanya untuk melakukan kunjungan ke panti-panti sosial, memberikan sedikit dari banyaknya yang mereka miliki pada orang-orang yang membutuhkan.             Hilya mengangguk dengan semangat. "Ikut lah."             "Mau gue jemput?"             "Ngerepotin nggak?"             "Oke gue jemput."             Adrian dan Hilya terkekeh bersamaan, tidak menyadari seseorang yang melihat interaksi mereka dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.             "Ya udah, gue cabut dulu ya." Adrian melemparkan senyuman, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Hilya yang detik berikutnya juga melangkah menuju kelasnya.             Tidak ada yang tau Hilya mengikuti organisasi sosial seperti itu, bahkan Lila dan Feni. Awalnya Hilya tidak tau kalau Adrian adalah salah satu siswa Almo, sampai akhirnya cowok itu memperkenalkan dirinya. Sejak itu Hilya dan Adrian berteman.             Sempat mengundang tanya bagi siswa-siswi Almo, bagaimana bisa Hilya mengenal Adrian yang notabenenya tidak terkenal. Hilya berdalil kalau mereka memang sudah saling kenal lama, hanya saja baru lebih dekat sekarang.             Menghabiskan waktu bersama 'mereka' membuat Hilya merasa dirinya sedikit berguna, meski terkadang Hilya tidak bisa membantu secara materi. Namun, sesungguhnya lebih dari materi mereka membutuhkan dukungan yang tidak bisa mereka dapatkan dari orang-orang terdekatnya.             Mereka para anak panti dan kaum lansia, hanya membutuhkan sedikit perhatian dan kasih sayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN