Chapter 9

1090 Kata
Tong Tong Tong!             "Baik anak-anak, sampai di sini dulu pertemuan kita hari ini. Jangan lupa kerjakan tugasnya dan juga pelajari bab selanjutnya di rumah untuk materi pertemuan yang akan datang." Bu Niken, guru Biologi yang terkenal ramah itu mengakhiri ucapannya dengan sebuah senyum tipis.             "Terima kasih, Bu." Seisi kelas serempak berdiri, mengucapkan terima kasih, diikuti salam.             Bu Niken bangkit, melangkah mendekat ke arah Hilya yang masih terlihat sibuk menulis materi yang ada di papan tulis.             "Hilya," panggil Bu Niken.             Hilya mendongakkan kepalanya, sempat mengerutkan kening sesaat, sebelum akhirnya tersenyum membalas senyum guru Biologinya itu.             "Iya, Bu?"             "Setelah istirahat Ibu ada kelas di kelas MIPA 1, kamu bisa bantu Ibu?" Hilya melepaskan pulpen yang ada di tangannya, menatap Bu Niken lebih seksama.             "Kamu kasih tugas ini ke kelas MIPA 1 setelah istirahat, bisa?"             Hilya tersenyum, menganggukan kepalanya dua kali. "Bisa, Bu," ucapnya membuat senyuman serupa terbit di wajah Bu Niken.             Guru berparas teduh itu mengulurkan selembar kertas yang berisi lima soal essay. "Berikan kertas ini sama ketua kelasnya, ya? Kasih tau, suruh sekretarisnya buat nulis di papan tulis. Tugasnya dikumpul di meja Ibu setelah jam pembelajaran selesai."             Hilya kembali mengangguk. "Iya, Bu."             Bu Niken menyentuh pundak Hilya dan mengelusnya lembut. "Terima kasih, Hilya."             "Sama-sama, Bu."             "Ya sudah, Ibu pergi dulu, ya." Bu Niken menyempatkan menatap Lila dan Feni sebagai bentuk kesopanan sosial.             Hilya kembali melanjutkan menulis di buku catatannya, hanya tinggal beberapa kata. "Selesai," ucap gadis itu membuat senyuman Lila dan Feni melengkung.             "Auto foto," seru Feni sambil mengeluarkan benda pipih berlogo apel digigit, lalu mengarahkannya ke arah buku Hilya.             "Bu Niken sih baik, cantik. Tapi, tulisannya Ya Tuhan ... cocok jadi dokter." Hilya hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Feni.             Begitulah seorang guru di mata muridnya, selalu saja ada cela.             "Kirim ye, Fen." Feni mengangguk, mengiyakan permintaan Lila.             Setelah selesai acara pemotretan buku Hilya yang dilakukan oleh fotografer profesional yaitu Feni, selesai. Tiga gadis itu beranjak dari duduknya menuju kantin, pusatnya sekolah saat jam istirahat seperti ini.             "Nggak bawa bekal, Lya?"             Bukannya menjawab, Hilya justru terkekeh. Tentu saja ia menyadari nada sindiran dari ucapan Lila tersebut.             "Gue bangun kesiangan, terus si Bibi kan lagi sakit," jelas Hilya, kemarin supirnya dan sekarang pengasuhnya yang sakit. Hilya yang tidak tega, meminta agar wanita yang mengurusnya sejak kecil itu agar beristirahat saja.             "Eh minggu jalan yuk!" ajak Feni tiba-tiba.             "Ada diskon barang-barang branded. Kapan lagi coba!" seru Feni sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan promo dari sebuah mall ternama.             Lila mengangguk setuju. "Boleh lah, gue free juga nih minggu."             Feni tersenyum lebar, merangkul pundak Hilya. "Lo bisa kan, Lya? Masa tiap minggu lo sibuk mulu, jangan bilang lo punya selingkuhan?!"             Hilya menatap Feni dengan kening berkerut. "Selingkuhan?"             "Ya abisnya kalo Davren kan nggak mungkin ngajak lo jalan tiap minggu ... atau Adlan? Lo jalan sama Adlan ya tiap minggu?!"             Dengan cepat Hilya menggeleng. "Feni!" Hilya menggeram pelan saat beberapa orang yang berpapasan dengan mereka menatap Hilya intens akibat pertanyaan yang dilontarkan oleh Feni itu. Ayolah, Feni bukan hanya sekedar bertanya, tapi berteriak.             Gosip baru lagi.             "Ya abisnya, lo nggak pernah punya waktu setiap hari minggu buat gue sama Lila," cerocos Feni memberikan pembelaan pada dirinya sendiri saat Hilya memberikan tatapan menyalahkan.             Hilya menghela napasnya. "Yaudah, tapi sore aja ya? Pagi gue ada urusan."             Feni menatap Hilya dengan mata menyipit. "Urusan apa coba yang lebih penting daripada girls time kita."             Lila ikut menatap Hilya, menunggu jawaban gadis itu atas pertanyaan yang sudah cukup lama berada dalam benak mereka. Tiga bulan terakhir, waktu Hilya saat minggu sama sekali tidak bisa diganggu, tentu saja hal itu membuat mereka bertanya-tanya.             "Ada lah pokoknya. Udah ah, tuh kantinya udah rame banget," ucap Hilya sambil menarik dua sahabatnya itu lebih cepat memasuki kantin.             "Peri cantik!" Aaric berseru memanggil Hilya, membuat langkah gadis itu terhenti, dan menoleh ke arahnya. Lebih tepatnya melotot ke arah Aaric yang hanya menampilkan cengirannya, tidak merasa bersalah sedikit pun.             Hilya hendak meneruskan langkahnya, namun, ia teringat dengan tugas yang diberikan Bu Niken. Gadis itu mendekat ke arah Aaric cs sambil menarik kedua sahabatnya ikut.             "Wah peri cantik bawa dayang-dayang nih."             "Judes amat muka dayangnya," timpal Adlen sambil melirik Lila yang menatapnya sinis. Tentu saja Adlen mengetahui bagaimana bar-barnya sahabat Hilya yang satu itu. Pertama kalian melihatnya, kalian tidak akan menyadari kalau gadis itu ahli dalam bertarung bela diri.             "Perlu dikasih privat senyum sama peri cantik kayanya," timpal Aaric sambil tertawa, diikuti Adlen yang tersenyum mengejek ke arah Lila.             "Wah kurang ajar kutang Spongebob!" semprot Lila.             "Enak aja kutil ubur-ubur," balas Adlen tidak terima.             "Dasar kutu Hello kitty!"             "Ye kaus kaki Nobita!"             Hilya menghela napasnya, Lila dan Adlen  kalau bertemu memang tidak pernah damai. Lihat saja nanti, benci dan cinta itu beda tipis. Lila terlalu membenci Adlen, tidak menutup kemungkinan nanti gadis itu akan mencintai kembaran Adlan itu.             "Adlen-Lila," ucap Hilya sambil menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.             Lila mendengus, memanyunkan bibirnya yang terlihat begitu menggemaskan di mata Adlen. "Giliran sama Hilya takut!"             "Adlen," tegur Hilya saat kembar identik Adlan itu kembali memulai.             "Berasa dimarahin emak, njir."             "Udah cocok deh peri cantik jadi Ibu dari anak-anak Davren," celetuk Aaric membuat Davren yang fokus pada handphonenya menjadi menatap Hilya yang terlihat salah tingkah akibat ucapan Aaric itu.             Adlan yang sedang minum tersedak, Hilya yang berada di samping refleks menepuk-nepuk pelan punggung cowok itu.             Aaric mengalihkan perhatiannya ke arah Feni. "Kalau kamu cocoknya jadi Ibu dari putra-putri Aaric."             Feni memutar matanya malas. "Tai."             "Ih tuh peri cantik, dayangnya ngomong t*i-tai."             "Dayang-dayang pala lo peang! Udah ah, cabut aja yuk!" ajak Feni pada Hilya dan Lila.             Hilya mengeluarkan kertas dari sakunya. "Ketua kelas MIPA 1 siapa?" tanya Hilya.             "Kenapa?" Adlan yang dari tadi bungkam, angkat bicara.             Hilya tersenyum ke arah cowok itu. "Bu Niken nggak bisa masuk, kalian abis ini pelajaran Bu Niken, 'kan?" Hilya memastikan.             Tiga cowok itu mengangguk bersamaan, lalu melirik Davren membuat Hilya mengerutkan keningnya.             "Davren?" tanya Hilya, bermaksud bertanya pada tiga cowok itu apakah Davren ketua kelas MIPA 1.             Davren menatap Hilya.             Hilya tersenyum lebih lebar pada Davren. "Bu Niken titip ini, katanya tulis di  tulis suruh sekretaris kamu. Tugasnya dikumpul pas jam pembelajaran selesai."             "Cailah, sama Davren aja ngomong nya penuh cinta." Goda Aaric, tidak menyadari sebenarnya suasana di sana menjadi kaku akibat ucapannya itu.             Davren-Hilya-Adlan.             Adlan berdeham, membuat Hilya buru-buru mengalihkan tatapannya dari Davren.             Davren mengangguk. "Thanks."             Aaric bersorak. "Woaaa! Aa Davren udah  punya pita suara, Bung!"             Hilya tersenyum. "Sama-sama. Yaudah, aku duluan ya."             Buru-buru Hilya melangkah pergi karena pipinya yang memanas, entah sudah semerah apa saat ini. Padahal Davren hanya mengucapkan 'Thanks' tapi berdampak begitu besar bagi Hilya.             "Eh peri cantik nggak ngasih bekal?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN