Chapter 10

1091 Kata
Seperti janji Hilya dan Adrian, hari ini mereka akan pergi ke salah satu panti asuhan yang ada di Jakarta. Sebenarnya mereka tidak hanya berdua, ada tiga orang lagi yang akan berangkat sendiri-sendiri ke panti asuhan nantinya.             Adrian mengulurkan tangannya yang memegang helm ke arah Hilya yang langsung disambut gadis itu. "Makasih," ucapnya dengan senyuman.             Cowok itu mengangguk dua kali, memperhatikan Hilya yang memasang helmnya, lalu menatap ke arah kaki gadis itu. "Kaki lo udah nggak papa, Lya?"             Hilya yang sudah selesai memasang helmnya menatap Adrian, kembali tersenyum sambil mengangguk. "Udah kok, cuman lukanya aja belum kering."             "Masih sakit?"             "Sedikit, nggak kayak pertama kali luka."             Adrian mendengus pelan. "Artinya belum sembuh. Lo yakin mau ke panti?"             Pertanyaan Adrian tersebut disambut decakan oleh Hilya. "Please, udah cukup Lila, Feni, sama Adlan yang ngelarang-larang gue banyak jalan."             Selesai mengucapkan pernyataan dengan nada frustasi itu, Hilya tersenyum manis. "I'm fine, always."             Mau tidak mau, Adrian ikut tersenyum. "Berarti sekarang lo punya empat pasukan."             Kerutan kecil tercetak di kening Peri sekolah itu, menambah kesan imutnya karena terlihat seperti sedang berpikir keras. "Pasukan?"             "Yang akan ngelindungin lo, peri cantik."             Adrian tertawa nyaring saat gadis di hadapannya itu mendengus kesal mendengar pernyataannya. Namun, Adrian tidak bercanda dengan ucapannya. Hilya mengingatkan Adrian pada Adik perempuannya. Saat melihat gadis itu tersenyum, hati Adrian menghangat.             Adrian berubah menjadi sosok pendiam dan menutup dirinya dengan dunia luar sejak kematian Adiknya, ia merasa gagal menjalankan wasiat orang tuanya untuk menjaga Adiknya tersebut. Adik Adrian jugalah yang menjadi alasan Adrian ikut organisasi sosial seperti ini, sampai akhirnya ia bertemu dengan Hilya, sosok yang sebenarnya ada di sekitar Adrian selama ini.             "Udah ah, berangkat sekarang, yuk!" Hilya tanpa permisi terlebih dahulu, memegang pundak Adrian sebagai pegangan saat ia menaiki motor sport cowok itu.             Gadis itu menolehkan kepalanya saat sudah duduk sempurna. "Lo nggak punya motor matic, Yan?"             Adrian mengerutkan keningnya, di rumahnya ada satu motor matic milik Alm. Adiknya. "Kenapa?" "Enakan motor matic, 'kan naiknya nggak perlu pegangan. Susah." Adrian terdiam beberapa detik, bukankah cewek-cewek biasanya lebih menyukai motor sport seperti yang sekarang ia pakai di banding motor matic?             Adrian menatap Hilya dari kaca spion motornya. "Next, gue pake matic."             Senyuman Hilya mengembang sempurna. "Baik deh," puji gadis itu.             Adrian terkekeh pelan merespon ucapan gadis itu, menghidupkan motornya, dan mulai melajukannya menuju panti asuhan.             "Yan-Yan, depan berhenti ya. Mau ke supermarket," ucap Hilya sedikit berteriak dan mencondongkan kepalanya ke depan agar dapat didengar oleh Adrian.             Sesuai permintaan Hilya, Adrian berhenti tepat di depan sebuah supermarket.             Tanpa berkata, Hilya turun dari motor Adrian, membuka helmnya, dan mengulurkannya ke arah cowok itu. "Lo ikut masuk atau tunggu di sini?"             "Ikut lah. Emang gue Kang Ojek," ucap Adrian berpura-pura tersinggung.             Hilya terkekeh. "Jangan ngegas atuh,  Mas."             Layaknya sejoli, mereka berdua masuk ke dalam supermarket itu. Hilya mengambil keranjang belanja dan mulai melangkah ke rak demi rak.             "Biar gue yang bawain," ucap Adrian sambil meraih keranjang yang sudah terisi setengah itu dengan berbagai bahan masakan. Mulai dari telur, mie, sosis, minyak goreng, dan saus tomat serta kecap.             Hilya menatap Adrian. "Ganti sama trolley aja deh, Yan."             Adrian mengangguk, membawa keranjang merah itu dan memasukkannya ke dalam troli. Hilya hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah cowok di hadapannya ini.             "Nggak mau naik di sini, Lya? Gue yang dorong." Adrian terkekeh saat Hilya melemparkan tatapan kesal ke arahnya, lalu sedetik kemudian gadis itu tersenyum.             "Boleh?"             Adrian mengangguk, mengeluarkan keranjang yang ada di dalam troli itu, lalu meletakkannya asal di lantai. "Ayok!"             Melirik ke kiri dan kanan, setelah dilihatnya tidak ada orang, dengan berpegangan pada Adrian. Hilya kini sudah duduk di atas troli itu.             "Siap?"             "Siap!"             Adrian mendorong trolinya membuat Hilya menahan teriakannya, perlahan Hilya mencoba berdiri. Di luar dugaan, Adrian mengerem mendadak trolinya karena hampir saja menabrak seseorang dan hal itu membuat tubuh Hilya terlempar ke depan, ke arah seseorang yang hampir mereka tabrak.             "Aaaaaa!" Hilya berteriak karena berpikir tubuhnya akan menghantam keramik dengan keras.             Hidungnya akan bertambah pesek atau mungkin giginya akan patah.             Sedetik.             Dua detik.             Tiga detik.             Hilya membuka matanya perlahan, menatap lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya. "Davren?"             Tatapan tajam cowok itu seakan menikam Hilya hidup-hidup. "Berapa kali gue harus bilang, jangan ngelakuin hal-hal yang berbahaya, Hilya." Nadanya pelan, namun, syarat akan intimidasi.             Hilya mengerjapkan matanya beberapa kali, bukannya takut, gadis itu justru tersenyum lebar. "Jangan bosan ya bilangin Hilya supaya jangan ngelakuin hal-hal berbahaya."             Seakan tersihir dengan senyuman dan sorot mata teduh itu, air muka Davren melunak. Ucapan lembut yang dilontarkan gadis itu membuat darah Davren berdesir, tubuhnya menjadi kaku.             Lagi, Davren kembali gagal mengendalikan perasaannya. Semakin ia menampik, semakin rasa itu tumbuh.             Rasa itu amat sangat lancang.             Hilya menarik tubuhnya menjauh, mundur selangkah sebagai jarak, dan berpegangan pada troli. Mencoba menetralkan detak jantungnya.             "Lo nggak papa?" Hilya menoleh menatap Adrian, menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.             Hilya kembali menatap Davren. "Kamu belanja juga?" Pertanyaan bodoh itu terlontar dari bibir Hilya, tentu saja Davren ingin berbelanja.             "Lo free, Dav? Mending ikut gua sama Hilya ke panti," sahut Adrian saat pertanyaan Hilya tidak mendapatkan respon dari Davren.             Hilya mengangguk setuju. "Kamu suka anak-anak, 'kan? Ikut aja, seru kok."             Davren mengerutkan keningnya, ia pikir  Hilya dan Adrian akan pergi ngedate, tapi kenapa mereka berdua mengajak Davren ikut. Dan panti, untuk apa mereka pergi ke panti.             "Gua sama Hilya ikut organisasi sosial, setiap hari minggu ada acara rutin mengunjungi panti-panti sosial," jelas Adrian menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Davren.             Sial. Davren salah.             "Yaudah, aku pilih belanjaan dulu, ya." Hilya mengambil alih troli yang ada di tangan Adrian dan mendorongnya menjauh, meninggalkan Davren dan Adrian.             Adrian terkekeh pelan. "Gua liat mobil lo ngikutin."             Davren diam.             Adrian mengalihkan tatapannya ke arah Hilya yang terlihat berada di rak khusus camilan, Davren mengikuti arah pandangan Adrian. Dua cowok terpaku dengan titik yang sama, Hilya.             Merasa diperhatikan, Hilya menoleh ke kiri dan kanan. Matanya bertemu dengan Davren dan Adrian, gadis itu tersenyum ke arah dua cowok itu, lalu kembali memilih belanjaannya.             Selesai memilih belanjaannya, Hilya mendorong trolinya ke arah Davren dan Adrian. "Yuk," ajak gadis itu sebelum menuju kasir.             "Totalnya Rp 538000,00." Hilya mengeluarkan dompetnya, berniat membayar. Namun, Davren dan Adrian lebih dahulu mengeluarkan credit card, membuat Mbak kasir yang melayani mereka menjadi bingung.             Hilya menatap Davren dan Adrian. "Aku yang belanja, jadi aku yang bayar," ucap gadis itu sambil mengulurkan uang ratusan lima lembar dan lima puluhan selembar.   ***               "Lo bareng Davren aja, Lya."             Hilya menatap Adrian, lalu Davren. "Dav—"             "Naik!" Davren membuka pintu mobilnya, memberi kode pada Hilya agar segera masuk ke dalam mobilnya.             Gadis itu menatap Adrian, tersenyum berterima kasih atas pengertian cowok itu yang dibalas Adrian dengan anggukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN