Rara memutuskan kembali ke taman setelah membasuh wajahnya di toilet. Sebelum mendekati ibunya, dia mengusap matanya memastikan sudah tak ada lagi sisa-sisa air mata di sana, mengatur napasnya dan bernapas dalam-dalam hingga berkali-kali. Setelah dirasa normal, dia berbalik ke belakang. Memastikan Avin tak mengikutinya lalu berjalan mendekati ibunya. “Ma ...,” panggil Rara. “Hm, ya, Sayang?” Rara menggigit bibirnya, terdiam sejenak. Menimbang-nimbang apakah dia harus menceritakan masalahnya pada sang ibu. Gadis itu menatap ibunya beberapa saat lalu membuka mulutnya. “Sebenarnya—“ “Ibu Lizasya, waktunya untuk terapi,” potong seorang suster berpakaian biru muda yang muncul dari arah datangnya Rara. Rara berbalik melihat suster yang tersenyum ramah padanya itu lalu menatap ibunya dengan

