Rara mendadak membuka matanya ketika nada dering ponselnya merangsek masuk ke gendang telinganya secara tiba-tiba. Ia terpaku beberapa saat karena terkejut lalu menghela napas dengan kasar. Gadis berponi itu beranjak dari tidurnya dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Bangun tiba-tiba karena terkejut adalah hal yang paling dibenci Rara. “Ck, siapa, sih, yang nelpon pagi-pagi begini?!” ujarnya misuh-misuh lalu mengambil ponselnya. Ia mengerang kesal ketika melihat kontak Avin tertera di layar ponselnya. Ia menggeser ikon panggilan ke warna hijau dengan kasar. “Apa?!” “Astaga! Sadar, dong, Ra, ini masih pagi udah marah-marah aja. Fix, muka kamu nanti bakalan cepet keriput,” celoteh Avin tanpa tahu darah Rara yang sudah mendidih. “Nggak usah basa-basi. Cepet ngomong apa yang mau kamu

