“Anjir! Baru ditinggal sehari sama Papa Bunda, Abang udah lecet parah?” suara Vika terdengar kaget namun wajahnya jelas-jelas tengah mengejek Avin yang kesusahan mengambil air minum di meja. Sebelumnya, ia sudah tahu dari Rara kalau kakaknya jadi korban kecelakaan kecil. Ia disuruh mencari orang yang bisa membawa mobil Avin pulang, namun gadis itu malah menyetir sendiri sampai di rumah. Sangat beresiko mengingat dia masih di bawah umur. “Mulutmu itu,” cibir Avin lalu meneguk airnya. “Oh, udah pulang, Vika?” Rara muncul dari dapur membawa air dan obat. “Iya, Kak. Kak Rara kok masih di sini?” tanya Vika sembari melepas sepatunya dan menaruhnya di rak. Ia lalu menghempaskan tubuhnya di sofa. “Mau ngurus calon suaminya,” jawab Avin cengar-cengir. Mendengar itu, Rara mendelik. “Sekali lagi

