Rara kira, hari-hari penderitaannya akan segera berakhir mulai hari ini. Namun, nyatanya tidak. Gadis itu rasanya ingin kembali ke dalam rumah ketika mendapati Avin sudah berdiri di depan kap mobilnya dari luar gerbang rumah dengan tangan kiri melambai ke arahnya. Kalau bukan karena harus ke kampus tepat waktu, mungkin ia akan mengulur-ulur waktu sampai makhluk yang menunggunya di sana bosan dan pergi. “Mau apa lagi?” Senyum Avin pudar dan digantikan raut cemberut. “Gitu amat nanyanya. Kukira kamu sudah mulai berubah akhir-akhir ini.” Rara menatapnya pemuda itu dan berdehem pelan. Matany berpaling pada lengan kanan Avin. Memar di lengan cowok itu sudah mulai pudar dan luka lecetnya tinggal bekas saja. “Tanganmu udah nggak apa-apa, ‘kan?” tanyanya dengan nada datar. “Cie, perhatian b

