Rara mengusap air matanya dengan kasar. Ia menaiki tangga dengan langkah terburu-buru tanpa menghiraukan peringatan Avin yang menyusulnya dari belakang. Gadis itu mendekati ayahnya yang duduk di ruang tunggu ICU dengan wajah suram. Ketika Nico melihat Rara berlari ke arahnya dengan mata basah, ia segera berdiri dan memeluk putrinya yang langsung terisak hebat di bahunya. “Ma-mama ... Mama ke-kenapa, Pa?” “Mama kamu akan baik-baik saja, Sayang. Percaya sama Papa. Kamu nggak usah takut,” lirih Nico berusaha menenangkan putrinya walaupun dirinya sendiri sedari tadi merasa gelisah. Ia membiarkan Rara menangis sampai puas di bahunya. Tangannya membelai rambut gadis itu dengan lembut dan memberi kode pada Avin agar mendekat. Pemuda itu mendekat dan menarik Rara agar duduk di kursi tunggu. Ia

