Rara membuka matanya perlahan-lahan. Ia menyipitkan mata ketika sinar lampu di langit kamar menerobos netranya. Gadis itu melenguh dan menoleh pelan, melihat sekelilingnya. Keningnya berkerut ketika menyadari dia berada di dalam kamar yang sangat asing baginya. “Kamar siapa ini?” gumamnya lalu bangun. Ia mengamati kamar serba biru itu dengan heran. Rara berusaha mengingat-ingat kapan terakhir kali ia sadar. Tangannya yang refleks menyentuh kelopak matanya yang bengkak langsung mengingatkan dirinya yang menangis tersedu-sedu di rumah sakit. “Aish,” umpatnya pelan setelah mengingat dirinya yang sesenggukan di bahu Avin. “Cowok itu pasti sok hebat sekarang,” lanjutnya mendesis kesal. “Oh, Kak Rara udah bangun?” Suara Vika dari arah pintu membuat Rara tersentak pelan. Ia terpaku sejenak l

