Rara buru-buru melangkah kakinya menuju kafetaria. Matanya sibuk menatap layar ponselnya dan jalan di depannya dengan raut khawatir. Ketika tiba di cafetaria, gadis itu langsung mendekati meja di mana Shinta duduk menunggunya. Tanpa aba-aba, gadis itu mengambil alih jus yang baru akan diminum Shinta dan buru-buru meneguknya. “Jus aku ...,” lirih Shinta kaget. “Minum hati-hati apa susahnya, sih, Ra?” sindirnya kesal. Ia belum menikmati jusnya setetes pun. “Kenapa nggak angkat telepon aku?” tanya Rara. Shinta mengangkat ponselnya yang diisi daya dengan powerbank, “Baterai lemah. Kumatiin daya biar cepat terisi.” “Lo ada kesibukan?” “Iya, sejam lagi mau konsultasi sama dosbim. Kenapa? Muka kamu kelihatan kayak lagi dikejar anjing,” tanya Shinta penasaran. “Bisa temenin aku ke ruangannya

