19. Kencan yang Hancur

1957 Kata

Shinta menatap pintu kafe di depannya. Tangannya menggenggam erat tali tas selempangnya. Ia menarik napas panjang dan mengangguk pelan, berusaha meyakinkan dirinya. “Kamu bisa, Shinta,” ujarnya pelan lalu mendorong pintu kafe sehingga terdengar bel berbunyi. Kaki gadis itu melangkah menuju kursi paling sudut dengan dinding kaca yang sudah diberitahu Kevin lewat pesan. Shinta cukup heran dengan rencana Kevin hari ini. Biasanya, kalau ingin mengajak keluar, laki-laki biasanya akan menjemput sang gadis. Namun, sekarang yang terjadi justru kebalikannya. Shinta malah pergi sendiri menggunakan taxi. Walaupun bingung, ia tetap menurut saja. Toh, Kevin pasti tidak melakukan itu tanpa alasan. Shinta mengerutkan kening ketika melihat seorang gadis duduk di meja yang sudah di pesan Kevin. Matanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN