Shinta menatap pintu kafe di depannya. Tangannya menggenggam erat tali tas selempangnya. Ia menarik napas panjang dan mengangguk pelan, berusaha meyakinkan dirinya. “Kamu bisa, Shinta,” ujarnya pelan lalu mendorong pintu kafe sehingga terdengar bel berbunyi. Kaki gadis itu melangkah menuju kursi paling sudut dengan dinding kaca yang sudah diberitahu Kevin lewat pesan. Shinta cukup heran dengan rencana Kevin hari ini. Biasanya, kalau ingin mengajak keluar, laki-laki biasanya akan menjemput sang gadis. Namun, sekarang yang terjadi justru kebalikannya. Shinta malah pergi sendiri menggunakan taxi. Walaupun bingung, ia tetap menurut saja. Toh, Kevin pasti tidak melakukan itu tanpa alasan. Shinta mengerutkan kening ketika melihat seorang gadis duduk di meja yang sudah di pesan Kevin. Matanya

