“Apaan, sih, Ta. Berisik!” Shinta menghembuskan napasnya bersamaan dengan tubuhnya yang luruh ke lantai. Teriakan cemprengnya berhasil membuat Rara batal balik dan menatapnya jengkel. Namun, kelegaan itu justru membuat kakinya mendadak seperti jeli dan akhirnya ia duduk di lantai dengan napas terengah-engah. “Suara kamu jelek banget kalau teriak,” cibir Rara mendekati Shinta. “Kamu ngapain, sih, duduk di lantai?” tanyanya heran. Dia menarik Shinta agar berdiri kembali. “Nggak apa-apa, kok. Sudah, mandi sana,” dalih Shinta mengusir Rara. Dia mengibaskan tangannya melewati Rara. Napasnya belum cukup normal mengingat jantungnya tadi memompa hebat. Selamat, selamat. Avin kali ini selamat. Rara menatap Shinta dengan mata menyipit. Dari tadi cewek satu itu gerak-geriknya aneh. “Kamu nggak s

