Bab 10 Menemukan Aldiano

1758 Kata
Perempuan yang mengamati Wyne perlahan beranjak pergi dengan kedua mata bergerak mengawasi sekitarnya, lantas masuk ke dalam sebuah gudang tidak jauh dari pavilion tempat Wyne tinggal, segera mendekati pria yang duduk pada bangku kayu di salah satu sudut gudang dengan kedua kaki dan leher diikat rantai besi. “Papa-“ perempuan itu-Lisa Elmer, putri Aldiano dari Emily, “Ada perempuan di pavilion belakang.” Ditegur sang pria yang adalah Aldiano Elmer, putra tunggal Gordon, sambil menepuk pipi si ayah. Aldiano terbangun, dan memandang putrinya. Dia berada di sini selama tiga tahun. “Lisa-“ Aldiano mengenali Lisa, “Kamu sudah kembali?” tampak wajahnya senang, “Apa ada membawa makanan?” tanyanya, sebab sudah seminggu ini, Herman tidak memberi Lisa makanan. Lisa menggeleng pilu, karena Herman memang tidak mengutus orang membawa makanan ke dia, sebab sang kakak sibuk mempersiapkan pernikahan sama Wyne. Aldiano menghela napas, seminggu ini, Lisa terpaksa memberinya makan berupa daun dan rumput dari taman belakang pavilion tempat Wyne tinggal. Lisa pun makan dari daun dan rumput tersebut. “Ya sudah-“ Aldiano bicara dengan suara pilu, memutuskan tidak melanjutkan pembicaraan itu, lantas, “Lisa, tadi Kamu ingin mengatakan apa ke Papa?” dia teringat si anak kemari hendak menyampaikan sesuatu, sebab biasanya hanya mampir untuk memberi makan, dan membersihkan tubuh dia. Lisa terkesiap, lantas teringat mengapa kemari. “Papa, ada perempuan tinggal di pavilion belakang.” Mendengar ini, kening Aldiano berkerut. “Perempuan?” dipandang si anak dengan heran, “Apa perempuan itu dikurung seperti Kamu? Siapa perempuan itu? Apa dia korbannya Herman?” Belum lagi Lisa memberi jawaban, terdengar suara perempuan. “Kalian siapa?” Lisa dan Aldiano terkaget, berbarengan melihat ke belakang Lisa, lantas kedua mata mereka terbelalak menemukan Wyne. Wyne tahu Lisa mengamatinya, sebab dia punya kepekaan tinggi. Lalu bersama Sahid mengutit Lisa, dan begitu sampai depan pintu gudang yang sedikit terbuka, dia minta Sahid berjaga di luar. Lisa gemetaran melihat Wyne, akan berakting gila, tapi satu jarum akupuntur menancap di ubun-ubun kepalanya, membuat dia tidak bisa bergerak. Wyne yang menusuk jarum tersebut. Kedua mata Aldiano melihat aksi ini, mengamati Wyne, tidak lama dia merasa mengenal gadis itu. Profil wajah Wyne mirip Kate muda, dan dia mengenal baik Kate. “Papa-!” Lisa berseru pelan, “Itu perempuan yang Lisa ceritakan tadi.” Sambil menunjuk Wyne dengan satu tangan. Aldiano terperanjat, diamati Wyne. Tampak cucu Kate ini mendekati dia, meraih tangan kanan dia dan mengecek aliran darah di pergelangan dalam tangan tersebut, lantas mengeluarkan tas penyimpanan jarum akupuntur dari saku dalam jaket, tidak lama memasang beberapa jarum ke titik saraf ayah Ricardo itu. Lisa melongo melihat ini, tidak mengerti mengapa Wyne melakukan itu. Apakah Wyne memberi racun, seperti yang dilakukan Herman dan Emily? Lain dengan yang dipikirkan Aldiano. Pria ini punya kemampuan kungfu dan ilmu medis, tahu kalau Wyne tengah menetralkan racun dalam tubuhnya. “Tuan-“ Wyne menegur Aldiano, “Anda siapa? Mengapa dipasung?” lantas bertanya ke ayah Ricardo itu. Dia merasa mengenal pria itu yang berwajah persis Gordon sewaktu muda. “Saya, Aldiano Elmer, Nona.” Aldiano memberi jawaban jujur, “Putra tunggal Gordon Elmer, presiden direktur Elmer Group.” Diberitahu juga identitasnya sebagai putra Gordon. Sejenak Wyne terperangah, lantas, “Om Aldi?” dia mulai teringat di mana mengenal Aldiano, “Anda benar Om Aldi?” tanyanya sebab mereka sudah saling mengenal. Sebelum kejadian tiga tahun silam, Aldiano adalah CEO Elmer Group Pusat, lantas ada kerjasama bisnis sama Carter di bidang perminyakan. Saat pertemuan, Carter selalu membawa Kate dan Wyne, sehingga ayah Ricardo itu mengenal Wyne. Kemudian, Wyne memanggil dia dengan Om Aldi. “Kamu-“ Aldiano mulai teringat sosok Wyne, “Apakah Wyne Scoot, cucu sulung Tuan Carter dan Nyonya Kate?” dengan hati-hati menanyakan identitas Wyne. Wyne menganggukan kepala, lantas tampak lega, “Ternyata benar, ini Om Aldi, putra tunggal Opa Gordon.” Merasa senang menemukan Aldiano, “Ternyata benar pula kata Opa, Om belum meninggal dalam kecelakaan mobil di Abu Dhabi.” Dia teringat percakapannya sama Carter, setelah pemakaman Aldiano. Si kakek tahu bahwa Aldiano sengaja dibikin meninggal untuk satu tujuan. Aldiano memang mengalami kecelakaan selepas meninjau kilang minyak Elmer Group dan Scoot Group di Abu Dabi, tapi tidak meninggal, melainkan dibawa lari kemari sama orangnya Herman. “Kakekmu mengatakan itu?” Aldiano terheran, “Bukannya beliau sudah meninggal saat kecelakaan yang menimpa Om?” dipandang Wyne, sebab dia datang saat Carter meninggal lima tahun silam. Wyne terkesiap, lantas sedikit menggaruk kepalanya, merasa kelepasan omong. “Wyn-“ Aldiano menegur Wyne, “Kakekmu masih hidup?” ditatap sang putri dengan wajah penasaran. Si nona cengegesan, “Wyn salah bicara Om.” Kekehnya, “Opa udah meninggal lima tahun silam kok.” ujar dia mengarang cerita, “Wyn tahu dari Tristan, asisten Oma.” Aldiano menghela napas, sebab kedua mata Wyne tampak menyembunyikan kebenaran. Lisa yang mengamati semua ini terheran, ditegur sang ayah.. “Papa!” dipandang sang ayah, “Perempuan ini siapa?” tidak mengenal Wyne, sebab selama ini tidak pernah dilibatkan Gordon dalam bisnis Elmer Group. Dia yang desainer hanya mengelola butik. “Lisa-“ Aldiano tersenyum, “Perempuan ini namanya Wyne-“ kedua mata menatap ke Wyne, “Cucu sulung dari mendiang Carter Scoot dan Kate Scoot.” Diperkenalkan identitas tuan putri, “Wyne-“ lantas beralih ke Wyne, “Dia itu Lisa-“ menunjuk Lisa, “Anak perempuan Om, adik Herman.” Wyne langsung melihat ke Lisa, lalu mendekat, diraih tangan kanan adik Herman itu, dicek sesaat aliran darah di pergelangan dalam tangan tersebut, lantas memasang beberapa jarum akupuntur ke saraf di kening si nona. “Wyn!” Aldiano menegur Wyne, “Lisa kenapa?” dia ingin tahu hasil diagnose Wyne, “Om tahu, Kamu menurunkan kehebatan medis kakekmu.” Tuing, Wyne terkesiap, lantas nyengir, sebab Aldiano adalah murid kungfu Carter tahu dia memang menurunkan semua kehebatan medis si kakek. “Hanya lelah saja, Om.” Wyne memasang senyum, tidak mau mengatakan bahwa Lisa diracun juga sama Herman, “Dia lelah berpura-pura gila.” Kekehnya sambil sedikit menjawil pucuk hidung si adik. Aldiano menghela napas, tahu Wyne tidak mau membuatnya cemas. Diamati Wyne yang mencabut semua jarum di tubuhnya, lantas si nona mengeluarkan satu botol keramik ukiran aksara Cina, kemudian mengeluarkan dua butir pil, baru disuapkan ke mulut pria itu. Ayah Ricardo langsung menelan pil, dan sekarang tubuhnya merasa lebih enak. Kedua matanya masih mengamati Wyne, di mana si nona mencekokan satu butir pil ke mulut Lisa. Dalam hati dia mengucapkan terima kasih ke Tuhan, sebab mendatangkan Wyne. Wyne melepas semua jarum dari tubuh Lisa, lantas membimbing si adik untuk duduk di tepi meja depan Aldiano, setelah itu segera mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans, menghubungi sejenak Sahid. Jadi gini, Sahid tidak sekedar menjaga pintu di luar, tapi disuruh menghubungi Dolce agar mengemas dua porsi makanan dalam kotak plastic food grade. Wyne feeling mereka yang di gudang belum makan, dan ternyata benar. Tidak lama terdengar ketukan di pintu dari luar, dan suara Dolce. “Nona, Nona!” Wyne mendengar suara bibi pengasuh ini, gegas, ke pintu dan menyambut si bibi yang menenteng tas kain berisi barang yang dipesan. “Nona-“ si bibi menegur Wyne, “Ini bibi bawakan yang Nona pesan.” Disodorkan tas tersebut ke tuan putri. Beruntung sejak Wyne di sini, Herman tidak menempatkan penjaga dan pembantu, maka apa yang dilakukan si nona tidak diketahui. Lantas juga, di sini tidak dipasang CCTV, karena untuk apa? Bagian belakang rumah pria itu tempat aman, lantas juga jika mau keluar harus melalui gerbang utama. Wyne cepat mengambil tas itu, “Makasih, Bibi.” Dia tersenyum, “Bibi tetap jaga di paviliun ya.” Lantas meminta si bibi kembali ke pavilion, “Kalau mendadak Ivan atau orangnya Herman datang, Bibi bilang saja Saya istirahat tidak mau diganggu.” Dolce menganggukan kepala, dia sudah biasa melakukan tugas rahasia, sebab nona sulung ini lebih dari CEO dan dokter. Setelah memberi instruksi, Wyne cepat merapatkan kembali pintu, lalu ke dekat Aldiano dan Lisa. Kedua orang itu mengamati Wyne, masih bertanya-tanya dalam hati, mengapa Wyne bisa tinggal di pavilion belakang ini. Tidak lama Wyne memberikan satu kotak berisi makanan ke Lisa, lalu kotak lain dipegang dia. Di dekati Aldiano sambil membuka tutup kotak. “Om-“ ditegur ayah Ricardo itu, “Mari, Wyn suapin Om ya.” Ujarnya sambil memperlihatkan isi kotak yang berupa nasi hangat, gulai telur, perkedel kentang dan tumis kangkung. “Kak!” Lisa cepat berseru sebelum Aldiano memberi jawaban, “Biar Lisa yang suapin Papa.” Ditaruh kotak makan di meja, turun dari meja, ke dekat Wyne. “Tidak usah-“ Wyne tersenyum, “Biar Aku saja yang suapin Om Aldi.” Menolak kebaikan Lisa, “Kamu lebih baik segera makan.” Lisa menghela napas, setelah tiga tahun berlalu, kini ada bidadari cantik menolong mereka. Dia terpaksa menurut, sebab perutnya keroncongan. “Wyn-“ Aldiano bicara sambil mengunyah makanan yang disuapkan Wyne. Lambungnya tidak kram sebab pil yang dikasih Wyne bukan hanya menekan racun dalam tubuh, tapi menyamankan pencernaan. “Mengapa Kamu bisa di pavilion belakang rumah Herman?” “Emm-“ Wyne sedikit menghela napas, “Karena, Wyn menikah sama Herman, Om.” “Kamu menikah sama dia?” Aldiano terkejut mendengar ini. Wyne menganggukan kepala, “Opa Gordon ama Oma menjodohkan Wyn sama Herman.” “Mengapa sama Herman? Bukan kah harusnya sama Ricardo, anak sulung Om?” Deg, jantung Wyne serasa terhenti mendengar pertanyaan Aldiano. Bagaimana dia menjelaskan yang sebenarnya. Sedangkan Carter wanti-wanti untuk merahasiakan semua misi ini dari Aldiano, Lisa, Gordon, dan Ricardo. “Wyn, dulu Om, Opa Gordon dan kakekmu, sepakat menjodohkanmu sama Ricardo, saat usiamu sudah dua puluh lima tahun.” Aldiano menjelaskan, “Lantas mengapa sekarang Kamu menikah sama Herman?” “Karena menurut Opa Gordon, Ricardo sudah dijodohkan sama Isala Smith, putri rekan bisnis Opa Gordon.” Aldiano menghela napas, semua berubah setelah dia dikurung Herman. “Wyn-“ Aldiano segera beralih ke Wyne, “Jika Kamu istri Herman, kenapa tinggal di pavilion belakang?” “Karena-“ Wyne menghela napas, “Dia kesal gagal menikah sama Susan, adik Wyn.” “Susan Scoot, maksudmu?” Wyne menganggukan kepala, diceritakan singkat kejadian yang membuat dia diasingkan ke pavilion. “Anak tidak tahu diri!” Aldiano menjadi kesal setelah mengetahui peristiwa itu, “Dikasih istri bidadari, malah membuangnya.” Merasa Herman tidak tahu diri. “Hehehe-“ Wyne sedikit terkekeh, “Om, dia tidak tahu siapa Wyn sebenarnya, jadi biar saja lah. Yang penting, berkat menjadi istri dia, Wyn bertemu Om ama Lisa.” Aldiano mencermati baik-baik perkataan Wyne, lantas mengamati sang menantu lebih teliti. Apakah Wyne sengaja menikah sama Herman agar menyelamatkan dia dan Lisa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN