Imelda menyambut David di pintu rumah, langsung mencecer sang suami dengan pertanyaan, sebab dia tahu suaminya menemui Wyne untuk memaksa si sulung membebaskan Susan dan memberikan Herman ke Susan. Di belakang dia ada Vino, kepala rumah tangga.
“Gimana, Pa?”
Dia tidak melihat wajah thunder cloud suaminya, sebab dalam benak dia hanya ada pertanyaan apa misi si suami berhasil atau tidak.
David mendengus kesal, mengapa sang istri malah bertanya, bukannya membawa dia masuk ke dalam rumah. Dihalau si istri dari hadapan, lantas segera masuk ke dalam rumah.
Otaknya sangat panas saat ini, tidak berhasil memaksa si sulung, malah dipecat Kate dari keluarga Scoot. Apa-apaan semua ini? Mengapa sang ibu memihak Wyne? Harusnya kan si ibu bersama dia.
Dia tidak menyadari kalau Kate dan Carter sangat kecewa sama dia, sebab berani menjadikan Imelda sebagai istri, padahal kedua orangtua itu sudah tahu Imelda p*****r culas yang haus kekayaan. Lantas, sejak beristri Imelda, David berubah menjadi kejam ke Ratna dan Wyne, bahkan tega membuat Ratna meninggal, dan ingin pula menghabisi Wyne.
Imelda terperangah karena David tidak menjawab, terbirit menyusul suaminya ke dalam. Ada apa sebenarnya? Dia menjadi bertanya-tanya. Begitu sampai di ruang tengah, dilihat sang suami duduk dengan punggung bersandar ke sandaran sofa panjang dan mengurut-urut kening.
Gegas, dia mendekat dan duduk di sebelah suaminya. Tidak ke dapur untuk mengambil minuman pelepas dahaga bagi sang suami. Inilah beda dia dari Ratna. Dia mementingkan diri sendiri.
“Papa-“ Imelda menyentuh lengan David, “Gimana?” kembali bertanya dengan raut wajah penasaran.
David berhenti mengurut-urut kening, mengalihkan pandangan ke sang istri.
“Gimana apa?” tanyanya dengan suara ketus.
Imelda terkesiap, mengapa sang suami malah balik bertanya.
“Ish!” serunya dengan nada kesal, “Papa ini kok malah bertanya sih?”
“Jelas Aku bertanya, karena pertanyaanmu tidak jelas arahnya.”
Imelda terkaget, lantas menghela napas, baru sadar dia hanya bertanya “Gimana”, tanpa kata lanjutan seperti “Apa Papa berhasil memaksa Wyn membebaskan Susan.”, sudah tentu David menjadi bingung.
“Iyalah-“ Imelda mengalah, “Gimana tadi, Papa?”
“Tadi apa, hmm?”
“Ish, Papa ini! Papa kan menemui Wyn, gimana hasilnya!” Imelda menjadi sebal sebab sang suami tidak mudeng sama pertanyaannya.
Mendengar ini David menghela napas, kembali mengurut-urut kening. Kepalanya terasa pening lagi.
Imelda menjadi gemas, dikeplak lengan sang suami.
“Papa, jawab dong!”
Si suami berhenti mengurut-urut kening, lantas menjitak kening Imelda.
“Auh!” si istri terpekik, “Kok Papa jitak kening Mama?” ditatap suami dengan kesal.
“Kamu tuh ya-“ David membelalakan kedua mata, “Suami pulang, kasih minum kek!” dihardik sang istri, “Bukannya bertanya cerewet seperti burung Beo!” diluapkan penat hati ke istrinya ini.
Imelda terhenyak, lantas berdiri, misuh-misuh meninggal sang suami, ke dapur, mengambilkan segelas air putih adem, baru kembali ke suaminya.
“Pa!” ditegur pria itu sambil meletakan gelas ke meja, “Itu airnya.”
Kedua mata David beralih ke meja, lantas mendengus kesal.
“Hanya air putih, Ma?” dipandang Imelda.
“Lantas Papa mau minum apa?” Imelda nelangsa, tidak biasanya David menolak diberi air putih saat pulang ke rumah.
“Kamu tuh ya-“ kembali David menjitak kening Imelda, “Suami capek kerja, mbok ya bikinkan teh manis kek, kopi kek, sirup dingin kek!” disembur lagi kekesalan di d*** ke sang istri.
Imelda ternganga, merasa sikap suaminya aneh. Tapi berhubung dia butuh mendengar hasil pertemuan itu, kembali berdiri dan ke dapur. Dibikinkan secangkir teh manis hangat, baru kembali ke sang suami membawa minuman tersebut. Diletakan ke meja.
“Papa!” ditegur si suami, “Tuh Mama bikinkan teh manis hangat.” Diberitahu sudah membuat secangkir teh manis, sesuai keinginan suaminya, “Diminum dong.”
David menghela napas dengan kasar, mengambil cangkir, dan langsung menghirup air teh sampai habis, baru dikembalikan cangkir ke meja.
Imelda yang mengamati hanya mengelus d*** sebab selama mereka menikah, suaminya tidak pernah seperti saat ini. Selalu berwajah full senyum dan mesra. Bahkan tidak menegur jika dia tidak menghidangkan minuman pelepas dahaga.
“Papa-“ dia kembali menegur David, “Papa udah minum kan?”
“Lantas?” David memandang heran istrinya.
“Gimana hasil pertemuan sama Wyn!”
Dhuar, David terkaget, lantas..
“Dia tidak mau membebaskan Susan.” Dijawab pertanyaan sang istri.
Imelda ternganga, lantas menjadi geram.
“Kok bisa? Susan kan adik dia? Lantas, semua ini kesalahan dia kan? Kenapa mau dijodohkan sama Herman kekasih Susan.” Bibir seksi Imelda langsung nyerocos kesal.
“Wyn tidak tahu Herman pacar Susan!” David menjadi kesal sebab sang istri nyerocos menyalahkan Wyne, “Lantas, penculikan itu memang sengaja Susan bikin untuk menghabisi Wyn, lebih dari agar Herman tidak menikah sama Wyn.”
“Hais!” Imelda berseru kaget, “Ngga benar semua itu, Papa!” menolak yang dikatakan David, “Susan itu adik yang manis, mana mungkin merencanakan menculik Wyn untuk dihabisi?” membelas Susan.
“Terus saja Kamu mengelak,” David mengacungkan jari telunjuk tangan kanan, “Yang jelas, Wyn tidak mau membebaskan Susan! Tidak mau pula menceraikan Herman, agar Susan dinikahin Herman!”
“Itu kurangajar, Papa!” Imelda tidak terima penolakan Wyne, “Papa harus menghukum dia!” diminta sang suami menghukum putri sambungnya itu, “Dia berani menolak permintaan Papa!”
David mendengus, menghukum si sulung? Yang ada dia dihukum Kate.
Imelda mengeplak lengan suaminya.
“Papa kenapa lembek sih ke Wyn?” merasa sang suami lunak ke Wyne, “Apa karena dia sekarang dokter dan punya klinik sendiri?”
Tidak semuanya, Nyonya Imelda. Saat Wyne kembali ke Jakarta untuk mengelola Scoot Clinic, Kate sudah wanti-wanti agar David baik ke Wyne, tidak membiarkan Susan dan Imelda menindas Wyne. David mau tidak mau patuh, karena harus melakukan itu ke Wyne yang pewaris tunggal kekayaan keluarga Scoot.
Namun, Susan bikin ulah, membuatnya terpaksa kembali jahat ke si sulung, sebab Imelda mendesak melakukan itu demi Susan. Dan ternyata, perbuatan dia diketahui Kate, lantas dapatlah hadiah indah dari sang ibu, dipecat dari keluarga Scoot.
“Papa, udah ngga saying Susan ya?” Imelda merajuk, “Masa tidak bisa memaksa Wyne membebaskan Susan? Masa tidak bisa membuat Wyne melepas Herman untuk Susan?”
David menjadi pening mendengar rajukan ini, dihardik sang istri.
“Cukup, Melda!” suaranya sedikit tinggi, “Kamu tahu-“ ditatap pula sang istri yang terkaget kena hardikan dia, “Gara-gara Aku memaksa Wyn, Ibuku memecatku.”
Imelda melongo, tidak paham yang dikatakan sang suami.
“Papa dipecat dari Scoot Group Jakarta?” mengira Kate memecat si suami dari kursi CEO.
“Bukan!” David berseru dengan menekan suaranya, “Aku dipecat dari keluarga Scoot!”
Imelda kembali melongo, mulutnya sampai menganga.
“Aku-“ David menghela napas, menurunkan frekwensi suaranya, “Dikeluarkan dari keluarga Scoot.”
“Maksud Papa?” Imelda belum mengerti, sorot matanya bertanya.
“Aku tidak lagi diakui sebagai keluarga Scoot!”
Jleger!
Imelda terperangah dengan kedua mata membesar. David tidak lagi keluarga Scoot? Bagaimana bisa?
“Mama-“ David bicara lagi, “Tahu Aku memaksa Wyn.” Ujarnya memberitahu penyebab dikeluarkan dari keluarga Scoot, “Mama marah ke Aku.”
“Kamu ke Mama?”
David menganggukan kepala, lantas menceritakan semuanya ke Imelda. Sang istri terkaget-kaget, lantas..
“Hais!” terdengar seruan marah Imelda, “Itu anak kurangajar sekali! Pasti dia mengadu ke neneknya!” menuduh Wyne mengadu ke Kate.
Sang suami menepuk kening, merasa Imelda tidak menyimak baik-baik semua ceritanya. Semua yang Kate lakukan bukan karena Wyne mengadu.
Plak!
Imelda mengeplak lengan David.
“Papa tidak boleh membiarkan semua ini!” terdengar pula suara perempuan itu di mana menatap geram sang suami, “Anak itu kurangajar, Papa! Masa mengadu ke neneknya dan minta neneknya mengeluarkan Papa dari keluarga Scoot?”
Sang suami menepuk lagi kening, kepala bertambah pening, bagaimana menindak Wyne yang tidak melakukan pengaduan ke Kate? Lantas, jika pun ditindak, maka Kate akan mencincang dia untuk makanan Buaya.
Gegas, dia berdiri, merasa tidak perlu bicara lagi sama Imelda, agar kepalanya tidak semakin panas dan pening. Imelda cepat meraih lengannya.
“Papa mau kemana?”
“Mandi!” David menyahut singkat sambil melepas tangan sang istri, “Kamu siapkan makan malam untukku.” Imbuhnya menyuruh si istri menyiapkan makanan, lantas segera meninggalkan perempuan itu.
Imelda menggigit-gigit bibir, merasa geram, lantas direntakan bahu. Dia tidak mengerjakan perintah sang suami.
“Wyne Scoot!” serunya dengan nada marah, “Harusnya dulu, aku menghabisimu sebelum kumatikan ibumu!” dia menyesal tidak membunuh Wyne sebelum mengirim Ratna ke alam baka.
***
Di atas meja teras tampak banyak barang yang dibawa Ivan untuk Wyne. Semua ini dari Gordon. Sang opa feeling Herman hanya memberi uang bulanan, maka cepat menopang kehidupan Wyne. Dia tidak mau Wyne hidup ngepas, sebab menyayangi cucu Kate ini.
“Nyonya.” Sahid yang disebelah Wyne menegur, sebab si cantik hanya diam mengamati semua barang. Ivan sudah pergi dari pavilion ini.
“Tidak mengapa, Sahid.” Wyne bersuara sambil memandang si asisten, “Sudahlah-“ dia mengakhiri pembicaraan, “Apa Nelson sudah kamu beritahu apa yang Saya instruksikan ke kamu?”
“Sudah, Nyonya.” Sahid menganggukan kepala, “Nyonya, jika Anda memecat Tuan David dan Nona Susan, lantas Tuan David darimana mendapat uang untuk menopang Nyonya Melda dan Nona Susan? Bukan kah Tuan David sudah dipecat dari keluarga Scoot, berarti tidak akan bisa bekerja di Scoot Group cabang mana pun.”
“Untuk apa Kamu tanyakan itu?” Wyne tersenyum, “Kamu kasihan sama Tuan pecundang itu?”
“Tidak sama sekali,” Sahid menggelengkan kepala, “Saya bertanya karena feeling Nyonya Melda akan melakukan serangan balasan setelah Anda memecat Tuan David dari kursi CEO Scoot Group Jakarta.”
“Apa dia tahu saya CEO Scoot Group Pusat?” Wyne kembali tersenyum tipis, “Dia tidak tahu, Sahid, karena CEO Scoot Group Pusat tidak diketahui sosoknya.” Lantas mengambil kotak berisi black card, dipandangi, “Seratus juta Dollar untukku?” bibirnya menyungging senyum, “Lumayan lah karena Opa tidak tahu Aku CEO Scoot Group Pusat dengan penghasilan diatas isi black card ini.”
Sementara itu, tidak jauh dari teras, dari sisi satu pilar, tampak perempuan seusia Susan mengamati Wyne.