Herman tersenyum puas mendengar laporan Ivan yang mengatakan bahwa Wyne dipecat dari keluarga Scoot. Dia menyebar mata di Scoot Clinic.
“Hahaha!” lantas tawa dia pun terdengar, “Rasakan Kamu, perempuan udik!” dirutuki Wyne, “Kamu jatuh miskin karena dipecat dari keluarga Scoot!” merasa sang istri jatuh miskin sebab sudah dikeluarkan dari keluarga Scoot.
Ivan di sebelah si bos menghela napas, merasa atasannya terlalu cepat berpuas diri. Wyne hanya tidak lagi diakui anak oleh David, berarti hanya keluar dari kehidupan pria itu. Lantas, dia tahu bahwa Wyne adalah cucu kesayangan Carter dan Kate, maka meski dikeluarkan dari kehidupan David, si nyonya tetap keluarga Scoot. Jadi, dipastikan nyonya muda itu tetap billionaire.
Herman berhenti tertawa, diambil pigura yang berisi foto mesra dia dan Susan dari meja kerjanya, dipandangi dengan wajah tersenyum.
“Sayang-“ dipanggil kekasihnya itu, “Kakak brengsekmu sudah dipecat dari keluarga Scoot,” diberitahu apa yang terjadi, “Maka kelak, kamu pewaris tunggal semua kekayaan keluarga Scoot. Tidak akan adalagi Kamu dianggap anak selir.”
Mendengar ini, Ivan kembali menghela napas, merasa si bos tidak memahami situasi di keluarga Scoot. Sejak Ratna meninggal tragis, Carter memecah keluarga Scoot menjadi dua. Keluarga pertama berisi pria itu, Kate dan Wyne. Keluarga kedua adalah David, Imelda dan Susan.
Lantas, Carter memberi posisi CEO Scoot Group Jakarta dan satu rumah mewah di Depok ke David sebagai konpensasi dipecahnya keluarga Scoot. Tapi sayangnya Scoot Group Jakarta tetap milik Carter. David hanya digaji bulanan. Maka dapat disimpulkan, David hanya punya harta yaitu gaji bulanan dan rumah.
Kemudian, setelah Carter meninggal, Kate langsung menunjuk Wyne sebagai pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga Scoot, yaitu Scoot Group, semua rumah mewah, penthouse, yayasan, dan lainnya. Semua ini atas wasiat Carter, sebab pria itu tahu Imelda berambisi menguasai semua kekayaan keluarga Scoot.
Maka kesimpulannya, kelak Susan hanya diwariskan harta pribadi David berupa rumah dan gaji bulanan sang pria, bukan mendapatkan seluruh kekayaan keluarga Scoot.
Herman menaruh kembali pigura ditangan ke meja, lantas mengalihkan pandangan ke Ivan.
“Ivan!” ditegurnya, “Siapkan mobil.” Diturunkan perintah, “Saya mau belanja untuk Susan.”
“Maaf, Tuan.” Ivan menghela napas, “Baiknya Anda menemui Nyonya Wyne.”
“Untuk apa menemui perempuan sialan itu?” Herman memandang Ivan dengan tatapan kesal, “Apa untuk membujuk dia yang dipecat dari keluarga Scoot, lantas mengatakan dia adalah keluarga Elmer?”
“Tuan, Anda belum memberikan black card yang berisi uang seratus juta Dollar kan ke Nyonya.”
Tuing, Herman terkesiap, lantas teringat Gordon datang dan meminta dia memberikan satu black card atas nama Wyne ke istrinya itu, jadi tidak perlu mengirim uang bulanan. Lantas si kakek berpesan, dia wajib membelikan semua kebutuhan Wyne, termasuk rumah dan mobil. Dia terpaksa menyanggupi.
Brak!
Dikeprak keras permukaan meja dengan wajah marah.
“Sialan!” serunya lantang, kesal bukan main sebab Gordon menyuruh dia menafkahi Wyne dengan kemewahan.
Ivan tersenyum tipis, yang dilakukan Gordon satu kewajaran, sebab Herman sudah suami Wyne.
“Kamu-“ Herman mengalihkan pandangan ke Ivan, “Kamu saja yang memberikan semua itu ke Wyne.” ujarnya memutuskan mengutus Ivan, “Saya mau mengunjungi kekasih cantik saya di penjara. Dia lebih penting dari si b******k itu.”
“Maaf, Tuan tidak boleh mengunjungi nona Susan.”
“Mengapa?”
“Anda suami Nyonya Wyne, dan diawasi oleh Tuan Gordon.”
***
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di wajah David, hadiah dari Kate. Lantas tampak nyonya besar itu memandang penuh amarah ke putranya yang menemui dia di kantor Scoot Group Jakarta.
“Kamu-!” terdengar pula suara sang nyonya, “Ayah macam apa, hmm?” lantas bertanya ke si anak yang tertunduk setelah mendapat tamparan, “Kamu pikir anakmu hanya Susan, hmm? Sehingga Kamu bisa menyuruh Mama mengeluarkan Wyn dari keluarga Scoot?”
David nekat menemui Kate, ingin membuktikan ke Wyne, bahwa dia bisa membuat Kate mengeluarkan Wyne dari keluarga Scoot. Tapi yang didapat amarah sang ibu.
David menghela napas, pelan memberanikan diri memandang si ibu yang berdiri di depan dia.
“Ma-“ ditegur pula, “Wyn itu kurangajar ke David.”
“Kurangajar?” Kate menatap sinis putranya.
“Betul, Ma.” David menganggukan kepala, “Dia sama sekali tidak mau mengalah sama Susan. Padahal Susan itu adiknya dan sangat sayang ke dia.”
Mendengar ini, wajah Kate tersenyum sinis.
“Susan menyayangi Wyn? Sungguh lucu, David.” Kate menatap David dengan sinis, “Susan tidak pernah menyayangi Wyn, sebab tidak menganggap Wyn sebagai kakak kandung dia. Dia selalu menindas Wyn. Bahkan membuatmu hanya menyayangi dia.”
Glek, David menelan saliva, merasa tertohok dengan perkataan sang ibu.
“Sudahlah!” Kate menghela napas, lantas duduk di single sofa, satu kaki disilang ke atas p***, “David, sejak Ratna meninggal-“ melanjutkan perkataan sambil memandang David, “Papamu mengambil Wyne, Kamu memang tidak pernah menganggap lagi Wyne anakmu.” Diingatkan peristiwa masa lalu, “Jadi kalau Kamu memecat Wyn sebagai anakmu, percuma kan?”
“Tapi Mama harus mengeluarkan dia dari keluarga Scoot, maka tidak jadi percuma.”
“Ooo tidak akan Mama lakukan itu, sebab Wyn adalah cucu kandung kesayangan Mama dan almarhum Papa.”
“Ma, dia sangat kurangajar. Bahkan saat di pesta, berani mempermalu kita.”
“Kita?” Kate bertanya sinis, “Susan kali.” Ditemplak si anak dengan menyebut nama Susan.
Dhuar, David terhenyak, lantas menghela napas.
“Sudahlah!” Kate tersenyum sinis, “Keputusan Mama tetap, Wyn adalah keluarga Scoot.” Ujarnya menegaskan status Wyne di keluarga Scoot, “Dan Mama setuju, dia tidak lagi anakmu.” Imbuh dia.
David hendak menukas keputusan itu, tapi tangan sang ibu teracung ke udara, minta dia diam.
“Tristan!” Kate berseru memanggil Tristan yang stand by di balik pintu ruang kerja ini.
Tidak lama masuk asisten itu membawa satu map file. Mendekat ke Kate.
“Nyonya.” Ditegur sopan sambil meletakan map tersebut ke meja depan sang nyonya.
“Terima kasih, Tristan.” Kate mengucapkan terima kasih, “Kamu tetap di sini.” Diminta sang asisten tidak pergi, lantas mengalihkan diri ke David, “David!” ditegur sang anak yang tetap berdiri, “Lihat isi dokumen dalam map ini.” Diambil map dari meja dan memberikan ke putranya.
David menghela napas, melakukan instruksi sang ibu, tidak lama kedua bola matanya membesar, lantas cepat dialihkan ke ibunya yang menikmati cigarette dengan santai.
“Mama-“ ditegur nyonya besar itu, “Apa maksud semua ini?” tanyanya menunjuk dokumen ditangannya.
“Mama pecat Kamu dari keluarga besar Scoot-“ Kate memandang putranya dengan wajah tenang, “Mulai hari ini, Kamu, Imelda, dan Susan, tidak boleh memakai nama Scoot di belakang nama kalian.” Ujarnya dengan tegas.
“Mengapa begitu, Ma?”
“Karena Kamu membuang Wyne sejak Ratna istri sahmu meninggal tragis kan?”
David terhenyak, lantas, “Apa Wyn meminta Mama melakukan semua ini?”
“Tidak.” Kate menjawab singkat, “Tristan!” dipanggil Tristan, “Kasih lihat rekaman cctv pertemuan David dan Wyne tadi di Scoot Clinic.”
“Baik, Nyonya.” Tristan paham, mundur tiga langkah, lalu membalikan badan, berjalan mendekati televise LED, dipasang satu chip ke dalam slot dibawah layar, lantas dinyalakan televise itu.
Tidak lama dari layar tampak hasil rekaman cctv di ruangan Wyne yang menampilkan pertemuan David dan sang nona. Di sana terlihat jelas, David memaksa cucu kesayangan Kate untuk mengalah sama Susan.
Melihat rekaman tersebut, tubuh David merasa lemas. Mengapa bisa sang ibu mendapatkan video itu? Tentu bisa karena Scoot Clinic dibangun Carter suami Kate. Lantas Wyne dalam perlindungan penuh Carter dan Kate.
“Apa-“ sejurus setelah rekaman itu selesai, David bicara ke Kate, “Wyn yang memberikan rekaman ini?” dia curiga Wyne mengadu ke Kate.
“Tidak.” Kate tersenyum tipis, “Kamu lupakah bahwa Wyne dalam perlindungan Mama dan almarhum Papa?” lantas bertanya ke putranya itu, “Lalu, Scoot Clinic dibangun mendiang Papa untuk Wyn, jadi dipasang cctv rahasia di sana demi melindungi dia dari orang macam Kamu.”
Dhuar, David seperti diledakan nuklir milik Quwait. Dia kira setelah melepas Wyne ke Carter dan Kate, si anak hanya dimomong biasa seperti dia mengasuh Susan. Ternyata..Dirangkum jemari tangan kanannya erat, menahan geram, karena semua yang Wyne katakan benar. Dia ditendang Kate dari keluarga Scoot, bahkan dilarang memakai nama Scoot dibelakang namanya.
Jika dia tidak lagi keluarga Scoot, bagaimana dia menghadapi klien, direksi dan staf di Scoot Group Jakarta? Lantas juga bagaimana nasib Susan? Susan pasti kembali menjadi bahan tertawaan karena sang ayah dipecat dari keluarga Scoot.
Kate mematikan cigarette ke dalam asbak, menyilangkan kedua tangan ke d***, dan tersenyum sinis melihat sang anak terhenyak.
***
Di teras depan kamar Wyne, perempuan itu duduk sendirian. Sesekali helaan napasnya terdengar, sebab Sahid memberi laporan terbaru bahwa Kate memecat David dari keluarga Scoot. Bahkan sang nenek melarang David, Imelda, dan Susan, memakai nama Scoot dibelakang nama ketiga manusia itu.
Pikirannya mulai kembali ke masa lalu..
Wyne menjerit-jerit dalam cengkraman dua pembantu sebab melihat Ratna sang ibu dinyatakan meninggal dunia setelah dibenam-benamkan ke dalam air kolam berisi klorin dalam jumlah tinggi.
Lantas, dia pun melihat kaki David menendang jasat Ratna dengan wajah bengis. Kemudian ada Imelda dan Susan yang tersenyum puas melihat Ratna meninggal.
Air mata Wyne menderas, ibu yang begitu baik dan tulus sebagai istri, dibunuh keji David karena dipergokin beranjang panas sama Daus tukang kebun. Terbuat dari apakah sang ayah bisa membunuh istri sah dihadapan dia dan semua orang di rumah ayahnya ini?
Imelda memutar setengah badan dan memandang Wyne dengan tatapan bengis.
“David!” perempuan itu menegur David, “Yang ini bagaimana?” lantas menunjuk Wyne saat sang suami melihat ke dia. “Aku merasa anak ini kelak akan binal seperti ibunya.”
Wyne yang saat itu baru berusia 7 tahun tidak mengerti kata-kata ibu tiri ini, hanya menatap sang ibu dengan kebingungan. Air mata dia masih berlinang.
David perlahan mendekat ke Wyne, lantas dengan satu tangan mencengkram kuat kedua pipi si anak.
“Bawa kemari minuman itu!” berseru lantang dengan tatapan bengis.
Imelda tersenyum, segera mendekati Bik Sumi yang memegang nampan berisi satu teko keramik kuno, diambil teko itu, lalu mendekati sang suami.
“David-“ ditegur suaminya, “Kamu buka mulut anak ini-“ disuruh pria itu membuka mulut Wyne, “Biar kucekokan minuman yang bisa membuat dia menyusul sang ibu di neraka.”
Kedua mata Wyne terbelalak sambil menggeleng-gelengkan kepala, merasa minuman itu racun mematikan. David segera membuka lebar mulut Wyne dengan tangan lain, lantas Imelda menuang isi teko ke dalam mulut itu. Wyne melakukan perlawanan dengan melepeh setiap air yang masuk, tapi kedua pipinya diremas kuat sang ayah, agar tidak melawan.
Kembali ke Wyne, kembali menghela napas. Dia tidak menyangka, sang ayah begitu mencintai Imelda, p*****r dari night club di Kota, Jakarta Barat, membuat ayahnya tega menghabisi Ratna, dan dia.
“Mama-“ kini dia memanggil Ratna, “Dendammu mulai terbalaskan.”