BAB 1. Konspirasi
Media dihebohkan dengan ditemukannya keluarga Anderson telah kehilangan nyawa di rumah milik mereka sendiri. Keluarga Anderson merupakan keluarga yang terkenal dengan kekayaan dan kesuksesannya.
“Kemungkinan keluarga Anderson dibantai oleh musuh mereka yang iri dengan kesuksesan yang mereka capai” begitulah isi berita pagi itu.
Dengan tenang anak laki-laki berusia 12 tahun itu menonton semua berita dengan wajah datar. Tidak seorang pun bisa menebak isi pikirannya. Dia tersenyum miring. Membuka media sosial yang tidak kalah ramai dengan berita di tv. Semua memberitakan peristiwa yang menimpa keluarga Anderson.
“Putra satu-satunya keluarga Anderson, ditemukan tidak bernyawa di dalam kamar dengan keadaan menggenaskan”
Remaja itu kini tersenyum sinis, bola matanya yang berbeda menunjukkan ketidaksukaannya. Dia tidak senang dengan berita itu, dengan cepat dia melempar ponsel miliknya untuk menghancurkan tv yang sedang memberitakan hal tersebut.
“Putra satu-satunya ya,”gumamnya sarat akan makna.
Banyak yaang merasa simpati dengan kejadian tersebut, namun tidak sedikit yang merasa senang. Berbagai konspirasi muncul. Banyak yang beranggapan keluarga Anderson dihabisi karena mengetahui rahasia besar perusahaan besar lainnya, sehingga untuk menutupi semua itu mereka harus ditutup mulutnya, namun tidak cukup kuat karena semua berkas rahasia masih tertata dengan rapi, tidak tersentuh sama sekali. Ada juga yang berkonspirasi yang mengatakan mereka dibunuh oleh perampok, namun lagi-lagi tidak ada yang hilang dari rumah mereka, berankas keluarga Anderson tidak tersentuh. Semua aman.
Satu hal yang pasti dari semua ini adalah pkejadian tersebut sudah direncanakan. Pada hari semua orang berada di rumah, di saat itulah pellakunya beraksi. Dia tidak beraksi di malam hari, terlihat dari kondisi keluarga Anderson yang masih beberapa jam yang lalu meninggal.
Sepertinya pelakunya adalah orang yang sudah mengetahui kebiasaan keluuarga Anderson. Ada satu konspirasi yang menarik, ada yang mengatakan kalau pelakunya adalah anak yang mereka buang. Selama ini keluarga Anderson menyatakan padaa media hanya memiliki satu orang putra yang sangat sempurna, namanya William, dia tampan dan juga cerdas, namun mantan pembantu keluarga mereka mengatakan mereka memiliki putra lain yang entah keberadaannya ada di mana saat ini.
Tidak seorang pun mengenal anak itu, apa dia hidup atau mungkin sudah meninggal juga. Tidak ada yang mengetaui namanya, juga wajahnya.
Anak laki-laki itu tetap berjalan meski semua orang ketakutan melihatnya. Dia berjalan tak tentu arah, dengan wajah datar. Semua takut menatap bola matanya. Satu netranya berwarna merah seperti darah sementara netra yang lain berwarna hitam seperti netra pada umumnya. Dia tidak peduli orang-orang menghindarinya.
Dia terbiasa dengan itu semua. Sejak kecil dia tidak pernah dianggap ada. Dia pernah bertanya mengapa bola matanya berbeda, namun tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
Dia terus berjalan, dari kejauhan dia menatap rumah besar yang kini diberi garis polisi. Penyelidikan sedaang dilakukan di sana, dia tersenyum tipis, menatap tangannya. Ada kepuasan dalam hatinya setelah melakukan semua itu.
Dia berjalan lagi, dia merasa tangannya di tahan seseorang, anak laki-laki itu berbalik, menatap tajam orang yang berani menyentuhnya.
“Aku mengenalmu.” Ucap pria tua itu.
Anak laki-laki mulai berpikir. Dia merasa juga pernah bertemu dengannya.
“Paman Arkano?” tanyanya memastikan, pria paruh baya itu tersenyum.
Dia membawa anak laki-laki bersamanya. Untuk pertama kalinya ada orang yang tidak takut dengan warna bola mata milik anak itu.
“Makanlah sepuasmu, aku tau kau merasa lapar,” ucap pria bernama Arkano itu. dia membawa anak itu makan di sebuah restoran. Dengan lahap dia makan seolah baru saja melakukan pekerjaan yang sangat berat.
Pria paruh baya itu tersenyum penuh makna menataap anak yang berada di depannya.
Tiba-tiba seorang wanita berpakaian rapi terlihat marah-marah pada pelayan restoran tersebut. Sang pelayan tampak menunduk.
“Berisik sekali wanita itu,” gumam anak laki-laki itu menarik perhatian Arkano, dia menatap anak itu mencoba menebak isi pikirannya.
Masalahnya pelayan itu hanya melakukan kesalahan kecil namun dia malah dipecat tanpa perasaan. Sang pelayan restoran hanya bisa menerima keputusan tidak adil itu sambil menangis. Faktanya dia hanya orang bawaah yang tidak memiliki hak untuk melawan.
Tatapan si anak laki-laki tak lepas dari wanita berpakaian raapi tersebut. Dia berdecih pelan, tidak suka dengan suaranya yang cempreng dan banyak bicara. Lihat baagaimana manisnya dia berbicara pada pelanggan kaya raya, tampak tak adil. Sehebat apa pun jabatan dia saat ini, tidak akan bisa apa-apa jika tanpa bantuan dari para pelayan yang mengabdi padanya.
“Kau mau pindah? Kau pasti merasa tidak nyaman.” Tawar Arrkano. Sepertinya dia mulai mengerti.
“Tidak Paman. Aku akan menghabiskan ini dulu,” tolak anak itu.
Setelah membayar makanan, mereka berbincang. Si anak yang pendiam hanya menjawab bila ditanya. Sedari tadi tatapannya tidak lepas dari gerak-gerik wanita pemilik restauran tadi.
“Inikah alasannya?” tanya Arkano tersenyum.
“Hem, mereka terlalu berisik dan aku benci itu. Mereka terlalu maniss untuk ucapan yang tidak berguna.” Balas anak laki-laki itu.
Arkano mengangguk. Anak itu persis seperti dirinya. Lebih menyukai keheningan dan ketenangan. Dia tidak suka berada di keramaian.
“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Arkano.
Anak itu menggeleng. Dia tidak memiliki tujuan. Dia juga tidak mengetahui akan kemana. Arkano tersenyum, dengan senang hati dia akan mendaampingi anak itu dan membesarkannya. Anak itu akan berguna baginya suatu saat nanti.
“Semoga kau betah tinggal di sini,” ucap Arkan pada anak tersebut.
Hanya senyum tipis yang anak itu tunjukan.
“Maukah Paman membantuku mencari tahu siapa wanita tadi?” tanya anak itu.
Dengan senang hati Arkano membantunya. Dia menghubungi seseorang, hanya butuh beberapa detik sampai sebuah pesan rahasia masuk. Dia memberikan ponsel itu pada anak tersebut.
“Kau bebas melakukan apa pun yang kau mau,” ucap Arkano meninggalkan anak itu.
Hanya beberapa menit dia perlu mempelajari isi dokumen tersebut. Dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Jika diperlakukan dengan baik, anak itu pasti bisa menjadi anak yang sukses dan berguna, sebaliknya dia bisa menjadi orang paling jahat ddan akan menjadi petaka.
Pada dasarnya anak yang pintar dan jenius itu banyak, namun yang memiliki karakter yang baik hanya sedikit. Mereka tidak salah, yang salah adalah pendidikan yang diberikan pada mereka. Jikaa dididik dengan baik, dia akan tumbuh menjadi orang yang baik pula.
Malam tiba. Seorang wanita sedang tertidur pulas saat seseorang maasuk ke kamarnya. Menutup mulutnya dan mulai beraksi. Dia tersenyum melihat wajah yang menangis memohon ampunan darinya.
Keesokan harinya kabar duka tentang pemilik restauran mulai tersebar. Diaa tersenyum menatap wajah puas pelayan yang baru saja dipecat tersebut. Awalnya dia hanya membenci satu orang namun dia mulai merasa menyukai hobby barunya itu.
kedatangannya disambut baik oleh Arkano, apa pria itu belum mengetahui tentang apa yang telaah terjadi.
“Kita akan membongkar siapa keluarga Anderson sebenarnya. Media akan segera mengetahui apa yang telah mereka perbuat,” ucap Arkan.
Anak itu terlihat biasa saja. Baginya kepuasan hasrat adalah yang terpenting. Dia tidak peduli selebihnya akan seperti apa. Anak itu berjalan masuk ke kamarnya. Dia mematikan lampu dan mulai merebahkan diri. Kegelapan yang selama ini menemaninya membentuknya menjadi sosok paling mengerikan yang pernah ada. Dia tersenyum di tengah kegelapan, dia suka dengan apa yang dia lakukan.