BAB 2. Ivander Company

1153 Kata
Mereka menyebutnya perusahaan raksasa, perusahaan baru yang berkembang dengan pesat ditangan pemuda tampan berkacamata yang dipuja para gadis. Senyumnya menjadi candu, sifat ramah serta kemampuan komunikasi yang baik membuatnya berhasil di usia yang masih sangat muda. Dia tuan muda Aziel Griffin, putra tunggal keluarga Griffin, kini di belakang namanya ditambah Ivander, nama besar perusahaan yang dia rintis dari nol. Nama lengkapnya menjadi Aziel Griffin Ivander. Dia tersenyum ramah pada para wartawan yang mencegat jalannya, sesekali dia memperbaiki letak kacamatanya yang melorot. “Tuan muda Ziel, bagaimana anda memimpin perusahaan anda di usia yang masih sangat muda?” tanya salah satu wartawan. Mereka ingin mengetahui lebih banyak tentang Aziel, rahasia kesuksesan pria itu. Sebelumnya perusahaan Anderson adalah perusahaan terbesar, perusahaan yang maju pesat bergerak di bidang yaang sama dengan Ivander. Sayangnya perusahaan itu runtuh bersamaan dengan terbunuhnya keluarga Anderson. Sudah bertahun sejak kejadian tragis itu, namun belum ditemukan pelakunya. Tidak ditemukan bukti yang kuat untuk menangkapp pelakunya. Tidak ada jejak sidik  jari yang tetinggal, cc tv di rrumah itu juga rusak serta seluruh keluaga Anderson sudah tewas. Polisi tidak memiliki petunjuk untuk menangkap pelakunya. “Kerja keras dan kerja cerdas. Ottak yang utama, dan komunikasi juga perlu,” balas Ziel dengan ramah. “Apa tantangan terbesar anda dalam memajukan perusahaan anda?” tanya mereka lagi. Aziel tersenyum manis, siapa pun yang melihatnya tersenyum pasti akan tergila-gila. “Tantangan saya adalah tidak bisa mengendalikan mereka yang jatuh hati pada bagaimana kinerja saya,” balasnya santai. Semua mengerti maksud pria itu. kemampuan dia menarik para investor membuatnya dengan mudah mendapat rekan bisnis yang besedia menanamkan saham di perusahaan Ivander. “Sepertinya perusahaan anda yang akan menggantikan perusahaan keluarga Anderson dulu,” ucap salah satu dari mereka. Aziel kembali tersenyum. “Ivander belum bisa menyamai Anderson. Akan saya usahakan yang terbaik yang saya bisa,” jawabnya sebelum pergi dikawal bodyguard. Sudah cukup wawancara dadakan dengan para wartawan. Dia juga harus memeriksa beberapa hal. Aziel kembali disambut oleh para karyawannya. Pria itu sesekali membalas sapaan mereka. “Dina, masuk ke ruangan saya, ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap Aziel pada sekretarisnya. Gadis cantik itu mengangguk, menyusul bosnya ke ruangan. Ardina tidak menyangka saat bosnya memberika cek berisi ratusan juta. Wanita itu bingung untuk apa uang sebanyak itu diberikan padanya. “Saya mau kamu pesan barang apa  pun untuk dikirimkan ke panti asuhan yang membutuhkan dengan uang ini,” jelas Aziel “Sebanyak ini Pak?” tanya Ardina takjub. Itu cek isinya gak main main, hanya untuk anak-anak di panti asuhan. Huah, benar-benar malaikat tampan. “Ada yang salah?” tanya Aziel menatap sekretarisnya bingung. Wanita itu menggeleng. Bosnya itu tercipta dari mana sih. Udah ganteng, mapan, sukses di usia muda, baik banget lagi, kurang sempurna apa  sih Aziel. “Itu saja, silahkan kembali,” ucap Azile. Ardina pamit meninggalkan bosnya yang sudah mulai bekerja. Kacamata yang bertengger dihidungnya menambah kesan menawan, apa lagi jika sedang serius sepeti itu, sangat tampan. Ardina segera keluar saat Aziel menatapnya yang masih terdiam di sana. Semua mengagumi kesempurnaannya, semua menginginkan dia, namun sejauh ini tidak satu pun gadis yang terlihat dekat dengan si tuan muda. Fokus Aziel kini pada dokumen baru yang dia dapat, dia  tersenyum membaca semua isi dokumen tersebut. Entah apa yang kini ada di pikirannya, pria itu membuka ponselnya, menghubungi seseorang. Pintu ruangannya kembali terbuka, seketarisnya kembali masuk membawa beberapa dokumen. “ Maaf Pak, ada yang harus Bapak tanda tangan,” ucap Ardina, Dia pikir dia bisa menarik perhatian seorang Aziel. “Kamu kenapa?” bingung Azile. “Bapak mau makan siang di luar?” tanya Ardina. Aziel tidak langsung menjawab , memilih menyelesaikan pekerjaannya, sebelum akhirnya pria  itu mengangguk. Ardina  terlihat tidak bisa menahan perasaan bahagia yang mmuncul, demi apa, bos tampannya menerima tawaran  makan siang dari dia. “Mau berangkat sekarang?” tanya Aziel. Pria itu terlihat membereskan meja kerjanya. Ardina mengangguk, keduanya berjalan dengan tatapan iri dari orang yang mereka lewati. Keduanya memasuki sebuah restauraan mewah, memilih menu makanan. Ardina tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiannya itu, sementara  Aziel bersikap biasa saja, fokus dengan menu yang tertera di sana. “Bapak suka makanan apa saja?” tanya Ardina yang sebenarnya terlalu berani untuk jabatan hanya sebagai sekretaris. “Saya bukan pemilih, namun saya suka semua hal yang berwarna merah. Menarik,” balas Aziel. Ardina mengangguk, sepertinya Aziel bukan tipe yang banyak  memilih. Kebetulan hari ini Ardina menggunakan pakaian berwarna merah. Mereka makan dengan tenang, tanpa mereka sadari kedekatan mereka disorot oleh media. Dengan cepat sudah tersebar ke media sosial. ‘pengusaha muda dan sukses Aziel Griffin Ivander dekat dengan sekretarisnya’ begitu isi hampir semua artikel dan media sosial. ‘tidak disangka  selera seorang Ivander serendah itu’ Banyak komen hate yang menyalahkan posisi Ardina. Gadis itu mendengus kesal.dia terlihat tidak menyentuh makanannya, sepertiya rumor yang beredar mengganggunya, sementara bosnya masih santai seolah apa yang terjadi bukaan hal buruk. “Kenapa?” bingung Aziel, pria itu menunjukan wajah polos yang membuat siapa  saja  semakin terpana. “Bapak gak terganggu dengan rumor yang beredar?” tanya Ardina. Aziel tersenyum penuh makna. “Matikan hpnya, fokus di hidup kamu aja. Biarkan mereka melakukan pekerjaan mereka, tidak perlu memikirkan perkataan mereka,” balas Aziel. Bagaimana tidak semakin kagum, pria itu begitu baik. Waktu berlalu, mereka kembali bekerja, mereka juga terlihat semakin akrab. Sesekali Aziel datang bersama sekretarisnya. Hari ini mereka menghadiri salah satu acara yang diadakan panti asuhan yang sering mereka danai. Aziel disambut baik oleh mereka. Anak-anak itu mendekat pada Aziel disambut senyum manis oleh Aziel, namun mereka terlihat ditolak oleh Ardina. Memang tidak secara langsung namun wanita itu terlihat tidak tulus, dia sesekali menjauh  dari anak-anak yang ingin mendekat. Aziel tersenyum penuh arti. “Yeah, I got you,” gumamnya dalam hati. Acara berlangsung dengan meriah, semua bejalan dengan lancar. Sebagai tamu terhormat Aziel diminta untuk membuka acara tersebut. “Kami berterimakasih kepada bapak Aziel yang terhormat sudah mau berkontribusi untuk acara ini, semoga bapak semakin sukses ke depannya, perusahaan bapak semakin maju.” Ucap wanita paruh baya yang mengelola panti asuhan kasih bunda itu. Aziel tersenyum, dia merasa senang bisa membantu. “Semoga amanah ya Bu,” balas pria itu. Ada makna di balik kata-kata itu yang mereka tidak sadari. “Dan seperti yang saya janjikan mulai sekarang Ivander akan membiayai semua biaya pendidikan mereka, dengan syarat suatu saat mereka akan bekerja untuk Ivander,” tambah pria itu. Sudah memberi jaminan hidup, pendidikan, pria itu juga memberi jaminan pekerjaan di masa depan bagi anak-anak itu, kurang baik apa lagi seorang Aziel Griffin Ivander dibawah kekuasaan sebagai pemilik perusahaan raksasa Ivander.  “Makasih kak Aziel Griffin Ivander,” seru anak-anak itu. Aziel tekekeh melihat aksi mereka, anak-anak kurang beruntung. Dia menatap jam di pergelangan tangannya, seolah menunggu sesuatu. Bunyi ledakan yang entah datang dari mana membuat mereka panik dan berlarian entah kemana. Dari balik asap yang mengepul  Aziel bisa melihat wajah bingung sekretarisnya, wanita itu terlihat bertanya-tanya mengapa dia tidak menjauh dari sana. Aziel membuka kacamatanya untuk memperjelas semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN