BAB 3. Hilangnya Sekretaris Aziel

1164 Kata
Lagi dan lagi media gempar dengan hilangnya seketaris Aziel Griffin Ivander di acara amal yang diadakan salah satu panti asuhan. Kabar mulai tersebar dimana-mana. Ada banyak pendapat yang muncul tentang keberadaan si sekretaris. Banyak  yang berpendapat gadis itu diculik oleh orrang-orang yang sangat mengidolakan Azile, mereka tidak setuju Aziel dekat dengan seorang sekretaris rendahan seperti Ardina. Namun tidaak ada bukti yang tertuju ke sana. Polisi sudah mencoba melacak orang yang mengidolakan Aziel, mencoba menghubungi ketua pembentuk mereka, namun jawabannya sangat tenang. Wanita itu juga menunjukan bukti bahwa saat acara amal mereka sedang berkumpul di salah satu rumah khusus penggemar Aziel. Sebuah video membuktikan tidak ada yang salah dengan perkumpulan mereka. Polisi mencoba menghubungi  Aziel, pria yang terakhir bersama sang sekretaris, namun menurut informasi yang meeka peroleh, pia itu sedang dirawat di rumah sakit keluarga Griffin, karena sempat menghirup asap terlalu banyak. Untuk sementara waktu Aziel tidak bisa ditemui karena kondisinya. Tidak menyerah, polisi mencoba mengintrogasi pemilik panti asuhan kasih bunda, tempat acara tersebut berlangsung dan juga tempat terakhir Ardina hadiri. “Kami tidak mengetahui apa yang selanjutnya terjadi, asap tebal membuat kami tidak bisa melihat satu sama lain. Kejadiaannya begitu cepat, kami juga tidak menyangka akan terjadi hal semacam itu.” tutur pemilik panti asuhan tersebut. Penyelidikan terus berlangsung, polisi sudah mencari sumber ledakan, namun tidak ada yang salah. Aneh, bagaimana asap bisa muncul setebal itu jika tidak ada kebakaran yang terjadi. Kondisi semakin panas saat keluarga Ardina meminta pertanggungjawaban pada perusahaan Ivander atas hilangnya putri mereka. Jadi, dimana sebenarnya Ardina berada, si sekretaris yang tengah dekat dengan Aziel ada dimana sekarang. Semua semakin penasaran, kemana perinya gadis yang memiliki kesempatan hidup sempurna itu. Apa mungkin dia pergi begitu saja. Ada satu pendapat lain yang sedikit melenceng, masa iya Ardina pergi karena tidak tahan dengan hinaan para penggemar Aziel yang tidak menyukai kedekatan mereka. Sementara di ruangan gelap itu baru saja seorang gadis tersadar tubuhnya diikat. Gadis itu berusaha mencari tahu dimana dia berada saat ini. Dia terdiam sejenak, mengingat apa yang terjadi. Terakhir kali dia meghadiri acara amal panti asuhan kasih bunda bersama bosnya, lalu ledakan terjadi, asap mengepul membuat semua samar. Hanya itu yang dia ingat, selebihnya, dia tidak mengetahui apa yang terjadi. Dia Ardina, sekretaris seorang Aziel Griffin Ivander. Kini dia tidak lagi bisa berbicara manis di depan klien meeka, tidak bisa bergosip ria dengan para sahabatnya, karena Ardina baru menyadari bibirnya sudah terkunci rapat. Gadis itu menangis, ketakutan menyerangnya. Dia ingat berita keluarga Anderson, dia takut akan mengalami hal yang sama. “Sudah bangun rupanya,” ucap seseorang di dalam gelap dengan suaara sedingin es di kutub. Orang yang tadinya membelakanginya, kini berbalik. Ardina ingin menangis dan berteriak saat itu juga melihat warna bola mata yang semerah darah itu. orang itu tersenyum manis, lebih tepatnya senyum mematikan. “Kenapa tidak menjawab?” tanya orang berhodie hitam itu pura-pura lupa, dia telah menutup mulut si gadis malang, saat masih pingsan. “Ah iya aku lupa. Maaf ya, tetapi aku sedang malas membuka apa yang sudah tertutup,” ucapnya terkekeh. Di dalam kecelapan yang dingin serta mencekam, Ardina hanya bisa menangis tanpa suara. Gadis itu pasti syok medapati dirinya yang kini berada di hadapan malaikat maut pencabut nyawa. “Sebenarnya aku tidak terlalu suka menunggu, tetaapi kau mmasih ingin menangis. Jadi, aku beri  sedikit waktu sembari memersiapkan alatnya,” ucap orang itu. Pria itu kembali mendekat, membawa sebuah suntikaan. Ardina menutup mata saat suntikan ditusukan ke lengannya. “”Hem, mari kita uji, apakah darah mu ini akan berguna atau tidak,” orang berhodie serta topi itu kembali meninggalkan Ardina, masuk ke sebuah lab, menguji sampel darah yang dia ambil. Ardina hanya bisa pasrah, sembari membayangkan apa yang sudah dia lakukan. Ada sedikit penyesalan. Dia telalu sombong dengan apa yang dia capai. Dia teringaat cerita keluarga Anderson, keluarga kaya dan sukses. Perusahaan raksasa  Anderson yang seketika hancur dengan meninggalnya keluarga Anderson, yang sampaai hari ini belum ditemukan pelakunya. Nyatanya harta dan tahta tidak memiliki arti di saat nyawa terancam seperti ini. Semua tidak berguna di hadapan pencabut nyawa. Dia juga tidak bisa berbicara manis untuk membujuk seperti yang biasa dia lakukan kepada para klient mereka. Pria bemata merah itu kembali, Ardina mulai bertanya-tanya, apakah sebelah netranya yang berwarna merah itu asli atau dia sengaja menggunakan softlens untuk menakuti korbannya. “Mata aku memang semerah darah. Sama seperti kehadiran yang tidak diinginkan siapa pun termasuk oleh diriku sendiri,” ucap pria itu tanpa menoleh, masih sibuk dengan alat- alat yang akan digunakan untuk apa. Bagaimana dia bisa mengerti isi pikiran Ardina? Karena dia sudahh terbiasa menghadapi orang sepertinya, dia mengerti setiap tatapan yang orang  berikan saat melihat netranya yang aneh. “Aku sudah banyak mendengarnya dari semua korbanku. Mereka mengatakan aku aneh, mataku juga sangat aneh, mereka bilang aku pasti menggunakan soflens untuk menakuti mereka. Aku bosan mendengarnya, jadi kuputuskan untuk menutup mulut-mulut mereka sebelum mengakhiri kisah manis dalam hidup mereka,” ucap orang itu lagi sembari terkekeh. Benar-benar seorang psikopat. Dia memasang  beberapa alat membuat gadis itu semakin ketakutan, dia yang terbiasa dengan kegelapan, terbiasa dengan hidup yang tidak diharapkan, sampai membuat hatinya membantu bahkan dia tidak lagi bisa merasakan apa pun apalagi sejak kehilangan satu-satunya cahaya yang pernah hadir dalam hidupnya. Alat sudah terpasang, bebarapa menit berlalu akhirnya Ardina paham apa yang psikopat itu lakukan, dia mengambil semua darahnya. Pria itu tersenyum manis. Di dalam kegelapan senyum itu terlihat mengerikan. Kehabisan banyak  darah, Ardina mulai merasa lemas, kehilangan banyak darah, wajahnya pucat seperti mayat, sangat menyeramkan. “Waktunya sudah tiba,” ucap orang itu tertawa. Sebelum netra wanita di hadapannya itu menutup, dia bisa melihat betapa  dalam penyesalan itu. dia tersenyum lagi, memangnya apa gunanya sebuah penyesalan. Dia tidak diinginkan, untuk itulah dia membuat dirinya yang tidak diinginkan semakin dibenci. Dia sampah yang merusak. Orang itu merapikan pakaiannya setelah melakukan semua tugasnya. Membereskan si gadis sampah. Dia tersenyum senang, bau darah yang terakhir keluar adalah yang paling wangi baginya. Tidak lupa dia merapikan beberapa kantung darah untuk dikirimkan. “Sudah kubilang jangan berisik, kalian masih saja berisik. Sekarang lihat bagaimana kalian akhirnya kehilangan,” gumamnya terkekeh menyaksikan bagaimana orangtua Ardina menangis ketika putrinya ditemukan di dalam gudang tidak terpakai dengan keadaan menggenaskan. Tidak ada bukti yang bisa digunakan untuk mencari pelakunya. Darahnya mengering  dan habis diambil seseorang, tidak ada sidik jari yang tertinggal. Pelakunya benar-benar profesional. Pertanyaannya adalah apa motif dibalik pembunuhan si sekretaris perusahaan besar tersebut. Ponsel orang itu berdering, dia tersenyum sumringaah, siap menerima pujian dari seseorang yang menelponnya. “Kau tidak pernah mengecewakan,” ucap orang itu. “Apa darahnya cukup?” tanya si pria berhodie. Orang di seberang telepon tertawa senang, membuat si pria berhodie juga merasakan kebahagiaan yang sama. “Seharusnya aku tidak bertanya bukan. Tadinya aku masih ingin bermain-main, namun sayangnya aku punya kesibukan lain, jadi kusudahi saja,” tuturnya seolah cerita menakjubkan yang layak untuk dibagikan kepada orang lain. Panggilan berakhir. Dia hadir karena mereka memaksanya untuk hadir. Jangan bermain-main jika tidak ingin menjadi targetnya. Dia bergegas, ada hal lain yang harus dia urus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN