BAB 4. Griffin’s Hospital

1204 Kata
Semua wartawan berkumpul  di depan rumah sakit Griffin’s Hospital. Salah satu rumah sakit yang telah go internasional. Rumah sakit tersebut terkenal dengan teknologinya yang sudah maju dan tersedianya tenaga medis yang sudah sangat ahli, dipekerjakan langsung yang dari luar negeri. Pertanyannya mengapa para wartawan berada di depan rumah sakit tersebut. Jawabannya adalah mereka ingin meliput info yang mengatakan kalau Aziel yang dirawat di sana sudah diizinkan pulang. Mereka ingin mendengar langsung keterangan pria itu mengenai kejadian yang menimpa sekretarisnya. Ingat nama belakang pria itu bukan, Aziel Griffin Ivander. Yup, Griffin hospital adalah rumah sakit milik keluarga Aziel, lebih tepatnya milik sang tuan besar, Arkano Alexander Griffin, pria paruh baya yang berada di belakang kesuksesan sang putra yang harus memulai usahanya dari nol. Sementara di sebuah ruangan seorang pria berjas putih tengah menatap layar laptopnya sampai seseorang mengetuk pintu. Dengan senyum ramah orang yang berpakaian sama namun berwajah kebarat-baratan itu masuk dan duduk di hadapannya. “Supply darahnya sudah sampai tuan Griffin,” ucap orang itu yang tidak lain adalah salah satu dokter yang dipekerjakan di Griffin’s Hospital, dokter profesional yang berasal dari Amerika Seikat. Dipanggil khusus untuk mengabdi di rumah sakit Griffin Hospital yang sudah sangat terkenal itu. “Terima kasih sudah memberitahu saya. Bagaimana dengan putraku Aziel?” tanya pria yang tidak lain adalah Arkano Alexander Griffin, orang tua tunggal dari Aziel Griffin Ivander, pria yang sukses di usia mudanya. “ Tuan muda Aziel sudah boleh pulang tuan,” ucapnya. Arkano tersenyum misterius. “Bagaimana dengan para wartawan itu, masih menunggu di lobi?” tanya Arkano lagi. Dokter tersebut mengangguk, rupanya kepulangan putranya sangat dinanti-nantikan. “Oh iya Tuan, saya juga mendapat panggilan dari keluarga gadis itu meminta berbicara dengan tuan Griffin,” jelas dokter tersebut yang dikenal dengan nama Alfred tersebut. “Biar Aziel yang mengurus mereka semua. Tidak perlu terlalu ditanggapi, mereka hanya cari sensasi saja,” tutur Arkano. Alfred mengangguk mengerti, semua orang selalu ingin mengambil kesempatan dalam setiap peluang yang ada. Keluarga sekretaris Aziel pasti ingin memanfaatkan mereka untuk ketenaran. Merasa tidak memiliki kepentingan lain, dokter tersebut memilih keluar dari ruangan Arkano, pria yang merupakan pemilik rumah sakit tersebut mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. Senyum tercetak jelas di bibirnya, dia tersenyum puas mendengar cerita seseorang di seberang telepon. “Aku tunggu kedatanganmu,” ucapnya mengakhiri panggilan. Lagi-lagi Griffin tersenyum, dia tidak sabar menantikan kedatangan orang tersebut. Pasti akan terjadi berita besar dengan kedatangannya yang tidak terduga. Sebuah mobil berhenti, seorang pria berpakaian serba hitam dan hodie turun dari sana, topi hodie menutupi wajahnya. Dia bergegas menuju suatu tempat. Tidak seorang pun menyadari kehadirannya karena mereka masih terfokus pada Aziel, menunggu pria itu turun. Pria berhodie hitam itu tersenyum sinis menatap para wartawan yang berkumpul sebelum melanjutkan langkahnya. Setelah menunggu cukup lama akhirnya yang dinantikan datang juga. Aziel akhirnya turun, tidak ada yang berubah secara signifikan, pria itu tetap tampan dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Dia tersenyum ramah pada para wartawan, sementara beberapa pengawal mencoba menghalangi wartawan yang berebut dengan berbagai pertanyaan. “Bagaimana tanggapan bapak tentang kejadian terbunuhnya sekretaris bapak?” tanya salah satu dari mereka. Aziel menghentikan langkahnya, tersenyum sebelum mulai membuka suara. “Ivander akan bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut, bagaimana pun Ardina memiliki banyak jasa untuk perusahaan saya,” tutur Aziel menenangkan keributan. Berita menyebar dengan cepat. Aziel sudah menebak ini akan terjadi. “Lalu bagaimana dengan anak-anak yang terkena imbas kejadian saat itu?” tanya mereka. Ada beberapa anak yang harus dirawat karena peristiwa aneh tersebut. Sebenarnya dari segi apa pun Ivander sama sekali tidak memiliki sangkut paut dengan mereka. Kejadian saat itu juga tidak ada sangkut pautnya dengan Ivander, namun Aziel sudah berjanji akan bertanggung jawab. Dia akan tetap membiayai kerugian yang mereka terima, membiayai rumah sakit untuk anak-anak tersebut. Mendengar itu seketika semua orang mulai terdiam, tidak lagi ribut. Mereka tenang, penyelidikan pun seketika dihentikan begitu saja. Benarkah ada permainan di balik semua ini, atau Ivander memang sebaik itu pada mereka. Merasa tidak perlu menjawab pertanyaan lagi, pria itu masuk ke mobil, menuju rumah. Wajahnya tetap ramah sebelum dia akhirnya memulai perjalanan. Dia tersenyum, senyum yang amat berbeda dari sebelumnya. Pria itu membuka ponsel, membaca berita yang sudah tersebar. Dengan mulut manisnya, dia kembali dipuja, kembali dikagumi. Ivander mendapat banyak pujian atas kebaikan hati membatu para korban. “Kita ke alamat yang aku kirimkan,” ucap Aziel pada sopir pribadinya. Pria bertubuh besar itu mengangguk. Ada satu hal yang harus dia menangkan lagi. Rumah itu terlihat megah, meski tidak semegah rumah miliknya. dia disambut oleh satpam yang memintanya untuk masuk. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah seorang wanita yang tengah menangis sembari memeluk foto seseorang, sementara seorang pria paruh baya lainnya terlihat baru saja menerima telepon. “Semua ini salah kalian bukan.” Teriak pria itu terlihat murka saat menyadari kehadiran Aziel. Aziel tersenyum menanggapi u*****n kasar di depannya. Dia dengan santai duduk di sebelah wanita yang masih berduka itu. ya mereka adalah keluarga dari Ardina, gadis malang yang meninggal dalam keadaan mengenaskan. “Dia sudah tenang di alam sana,” ucap Aziel tersenyum ramah. Wanita itu menatapnya, matanya membengkak. “Salah putriku apa, kenapa dia dibunuh dengan sangat tragis,” gumam wanita itu. Jangan lupa satu hal, ketika seseorang sudah meninggal, semua orang pasti akan menyebutnya orang baik, meski bukan demikian kebenarannya. Tentu saja untuk menarik perhatian orang-orang. “Ibu benar, dia juga banyak berjasa di perusahaan saya,” ucap Aziel ikut-ikutan mengenang mantan sekretarisnya itu, seolah dia benar-benar kehilangan. Semua didukung dengan berita kedekatan mereka, beberapa waktu sebelum peristiwa hilangnya Ardina terjadi. “Tidak perlu basa-basi! Katakan apa yang kau inginkan?” ucap pria paruh baya yang tidak terlena dengan peran yang Aziel tunjukan. “Duduk dulu, kita bicara pelan-pelan,” balas Aziel santai. Pria paruh baya itu mau tidak mau menurut juga. Sebenarnya siapa yang tuan rumah dan siapa yang tamu, kenapa Aziel bertingkah seolah dia adalah tuan rumahnya. “Saya akan mengganti rugi untuk seluruh jasa putri Anda di perusahaan saya. Saya juga akan memberi bantuan saham untuk perusahaan yang baru Anda rintis. Anggap saja saya sedang bermurah hati karena putri Anda dan saya juga pernah dekat,” tutur Aziel masih dengan senyum ramahnya. Pria paruh baya itu berdehem pelan, menatap istrinya yang masih menangis, membuat suasana dramatis semakin menarik untuk ditonton. “Apa jaminannya kalau kalian tidak akan lari dari tanggung jawab?” tanya pria itu lagi. Benar bukan, semua hanya tentang uang dan kekuasaan. Nyawa tidak lagi penting dalam keadaan seperti ini. Aziel tersenyum mengeluarkan surat yang sudah dia siapkan sendiri. Dia sudah menebak ini saat mendengar penuturan sang tuan besar tentang tuntutan keluarga tersebut. Aziel menatap pria paruh baya itu membaca suratnya baik-baik. Tangisan hanya bentuk drama yang sengaja mereka buat untuk menutupi segalanya dan mendapat keuntungan dari peristiwa tersebut. “Baiklah, saya setuju dengan ini semua.” Ucap pria paruh baya itu. Aziel mengangguk membubuhkan tanda tangannya terlebih dahulu, diikuti oleh pria itu. Aziel mengambil duplikatnya, lalu berjalan keluar dari rumah penuh drama itu. Baru satu langkah, telinga tajam itu mendengar suara tertawa dari dalam sana, Aziel tersenyum tipis sebelum akhirnya meninggalkan orang-orang itu. “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” gumam Aziel penuh arti. Masalah selesai begitu saja. Uang membungkam mulut mereka semua, menenangkan media yang sempat panas karena kejadian tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN