BAB 5. New Target

1292 Kata
Beralih dari kekuasaan perusahaan raksasa Ivander, sebuah perusahaan tidak kalah terkenal, dipimpin seorang pria muda. Sebenarnya perusahaan itu sudah lama ada, bersamaan dengan terbentuknya perusahaan Anderson, atau dalam kata lain, perusahaan terkuat setelah Anderson. Dulunya dipimpin oleh Gautama, pemilik sekaligus pendiri perusahaan tersebut,, namun sekarang diambil alih oleh putra Gautama, Adam Gautama nama lengkapnya. Adam Gautama, pria muda yang terkenal dengan sisi buruknya. Jika bukan keturunan Gautama satu-satunya, pria itu tidak pantas memegang perusahaan sebesar itu. Perusahaan yang semua karyawan bergantung pada keberhasilan pimpinannya. Banyak rumor yang menyebar tentang pria itu, dia terkenal juga suka bermain wanita. “Bapak yakin akan menjalin kerja sama dengan perusahaan Gautama?” tanya sekretaris barunya itu saat Aziel memintanya untuk membuat kontrak bersama perusahaan tersebut. “Ada yang salah?” tanya Aziel memperbaiki letak kacamatanya. “Maaf Pak, tetapi banyak rumor beredar tentang Adam Gautama, perusahaan itu kini diambang kehancuran karena beliau,” jelas Daniati, sekretaris pengganti yang baru beberapa hari bekerja di kantor tersebut. Aziel yang tadinya fokus pada laptopnya menatap sekretarisnya itu membuat Daniati merasa canggung. Mungkin dia terlalu lancang. “Maaf Pak, akan saya lakukan dengan segera,” ucap Daniati meninggalkan bosnya itu. Aziel menatap kepergian sekretarisnya itu, dia terlihat sedikit berbeda. Aziel akui meski baru beberapa hari bekerja gadis itu sudah cukup bisa mengendalikan situasi, dia juga sangat profesional dalam bekerja. Daniati memilih mengambil minum ke dapur staff. Dia tidak habis pikir kenapa bosnya itu mau mengajukan kerja sama dengan perusahaan yang bahkan sudah hampir bangkrut, apa pria itu tidak memikirkan bagaimana jika nanti perusahaan merreka terkena imbas. “Hai Ati!” sapa salah seorang wanita yang Daniati tahu adalah staff HRD di kantor tersebut. “Gimana kerja sama bos Aziel?” tanya wanita dengan name tag Arista. “Sedikit aneh, menurut aku sih. Pak Aziel itu terlalu baik atau gimana?” tanya Daniati, sebagai pekerja baru dia ingin mengetahui lebih banyak tentang bosnya itu. dia memang sering mendengar berita tentang Aziel yang ramah dan baik hati. Entah hanya sekedar berita untuk membesarkan nama Ivander atau memang itulah kenyataannya. “Pak Aziel memang baik. Kau pasti pernah mendengar soal Ardina bukan?” tanya Arista, Daniati mengangguk. Ardina, gadis malang yang meninggal di tangan psikopat yang sampai sekarang belum terungkap siapa pelakunya. “Pak Aziel baik, tetapi dia menyalahgunakan kebaikan beliau, mungkin itu karma untuk dia terbunuh secara tragis.” Tutur Arista berapi-api seolah dia begitu tidak menyukai Ardina. “Memangnya dia melakukan apa sampai kau mengatakan hal seperti itu?” tanya Daniati mulai penasaran. Dia mulai kepikiran sesuatu, dahulu Anderson hancur karena mereka sekeluarga dibunuh oleh psikopat berhati dingin. Bagaimana Daniati mengetahuinya, karena dahulu ibunya juga bekerja di sana, sedikit banyak Daniati mengetahui tentang seluk beluk perusahaan itu sebelum akhirnya hancur tidak bersisa. “Dia memakan uang yang seharusnya diberikan untuk anak-anak panti,” jelas Arista. Daniati terlihat cukup terkejut. Bagaimana seorang gadis seperti Ardina tega melakukan itu. anggap saja dia jahat dengan berpikir kalau hukuman itu memang pantas untuknya, tetapi Ardina sudah keterlaluan. Anak-anak itu terlahir dengan kurang beruntung dan di tengah itu Ardina malah mengambil kesempatan mengambil hak mereka, sungguh tidak berperasaan. “Menurutmu mengapa pak Aziel membuat kontrak dengan perusahaan Gautama?” tanya Daniati lagi. “Mungkin ingin mengambil alih perusahaan itu. kau tau sendiri semua diambang kehancuran, termasuk para karyawannya yang terkadang sudah tidak dibayar,” jawab Arista. Benarkah Aziel sebaik itu atau ada alasan yang lain. “Ya udah aku duluan ya. Masih ada kerjaan,” pamit Arista meninggalkan Daniati. Entah apa yang berada dalam pikiran gadis itu, dia mulai menyusun satu per satu punzle dalam otaknya. “Apa mungkin pelakunya sama?" tanyanya pada diri sendiri. Jika dipikir lagi entah kenapa Danati malah merasa pembunuhnya memiliki motif yang cukup baik mengingat orang yang dibunuh adalah orang-orang yang memiliki kasus hitam. “Daniati!” panggilan Aziel membuatnya tersadar, rupanya semua yang terjadi di sana tidak lepas dari pandangan Aziel, dia mendengar semua sejak awal, bagaimana sekretaris barunya itu begitu penasaran dengannya. “Maaf Pak,” gumamnya merasa bersalah. “Mari ke perusahaan Gautama, mereka mengajak bertemu sebelum menandatangani kontraknya,” ajak Aziel. Daniati mengangguk, menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan untuk itu semua. Daniati terlihat tidak suka dengan tingkah pengelola perusahaan Gautama tersebut. Dia terlihat begitu sombong, padahal mereka lah yang sebenarnya membutuhkan bantuan dari perusahaan Ivander. “Apa keuntungan yang saya peroleh jika menandatangani kontrak ini,” ingin sekali Daniati mencakar wajah menjijikkan dari Adam Gautama. Dia beralih menatap bosnya, pria itu masih seperti biasa, tersenyum ramah. Dengan sabar Daniati menjelaskan konsep kerja sama yang akan mereka buat. “Kenapa saya merasa kalian sedang mempermainkan saya,” ucap Adam. Astagah, rasanya darah Daniati mulai mendidih sekarang. Jika bukan karena profesionalitas pekerjaan, dia ingin sekali merusak wajah sok tampan itu, Aziel tersenyum melihat wajah sekretarisnya itu, pasti wanita itu di ambang batas kesabarannya sekarang. “Maaf Pak Adam, sepertinya tidak ada yang salah dengan konsep yang kami buat,” jelas Daniati dengan sabar. “Bagaimana dengan wanita sebagai tambahan?” Daniati benar-benar tercengang sekarang. Mereka sedang membicarakan konsep, lalu mengapa dia malah ngawur ke mana-mana. Sebenarnya apa sih isi pikiran pria itu, apa mungkin di otaknya hannya ada wajah wanita saja. Daniati merinding membayangkannya, sangat menjijikkan. Aziel yang tampan dan mapan saja biasa aja, tidak sesombong dia. Dasar gila. “Bagaimana sekretaris Daniati?” tanya Adam terlihat memainkan netranya, apa dia pikir Daniati akan tergoda dengan wajah menjijikkan itu, dia malah ingin muntah sekarang juga. “Sepertinya sudah cukup jeas, kedatangan kami hanya untuk menunjukkan kehormatan terhadap Anda. Jika merasa tidak suka, maka cukup batalkan kontraknya. Saya benci mulut yang terlalu berisik apa lagi untuk kata-kata sampah,” untuk pertama kali Aziel berbicara sepedas itu. Adam terlihat terkekeh, kemudian menandatangani kontrak tersebut. Seharusnya sedari tadi dia melakukannya, tidak perlu seribet itu sampai membuat Daniati emosi. Aziel memperbaiki letak kacamatanya. Saat sekretarisnya tengah sibuk dengan dokumen yang baru ditanda tangani oleh kedua pihak, Aziel sempat membuka kacamatanya. Hanya beberapa detik namun dia bisa melihat dengan jelas wajah Adam yang terlihat sedang memastikan sesuatu. “Dia berisik bukan?” tanya Aziel tiba-tiba. Daniati mengangguk setuju, dia cukup kesal dengan cara berbicara Adam yang sesuka hati. “Dia hanya perlu tanda tangan, tetapi mengapa ribet seperti itu,” gumam Daniati mengutarakan kekesalannya. Aziel terkekeh, pria itu tampan, bukan hanya tampan tetapi sangat dan juga menawan. “Bagaimana jika dia adalah target yang menarik?’ gumam Aziel menarik perhatian Daniati. “Target apa Pak?” tanya gadis itu bingung. “Target untuk menaikkan saham perusahaan. Kita bisa ambil alih perusahaannya bukan?” tanya Aziel. Ah iya benar juga. Kenapa Daniati sama sekali tidak berpikir sejauh itu. bagaimana Ivander tidak cepat maju, bosnya saja sejenius ini. “Kembalilah ke kantor. Saya ada urusan,” ucap Aziel. Daniati tidak banyak bertanya, menuruti ucapan bosnya itu. kembali ke kantor bersama supir dari perusahaan. Setelah kepergian Daniati, Aziel menghubungi seseorang, ada hal yang harus dia lakukan untuk kelancaran rencananya menghancurkan Adam Gautama, si pria berisik dan tidak berguna. Sementara di sebuah ruangan yang remang-remang, dua orang tengah menatap ke arah tv yang menyala, menampilkan berita tentang Adam yang didapati pengguna n*****a dan obat-obatan terlarang. “Bagaimana menurutmu?” tanya pria yang lebih tua darinya. Pria berhodie dengan sebelah mata memerah itu mengamati seseorang yang berada di sana. Pria itu buruk rupa dan buruk attitude, apa yang bisa dilihat darinya. “Apa darahnya akan berguna?” tanya suara dingin itu. “Mungkin, biasanya yang muda seperti itu memiliki potensi,” balas pria tua itu. Dia mengangguk-anggukan kepalanya, merasa sangat tertarik dengan target barunya. Mungkin darah pria akan lebih wangi. “Kali ini tidak apa jika lebih buruk dari sebelumnya?” tanyanya. Dia adalah target baru yang masih segar. Darahnya pasti sangat wangi. Si pria bermata merah tersenyum licik. Orang seperti itu apa masih berhak hidup, sampah seharusnya dibuang saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN