BAB 6. Runtuhnya Gautama

1189 Kata
Berita menyebar dengan sangat cepat. Berita tentang kerja sama yang Gautama company dengan Ivander tersebar dengan sangat cepat. Bagaimana tanggapan masyarakat, tentu sebagian besar menolak keras keputusan tersebut. Banyak juga yang merasa berterima kasih pada Ivander yang sudah menopang Gautama kembali di saat perusahaan itu sudah hampir hancur. Daniati menatap tv di hadapannya. Jika begini pengaruh Ivander akan semakin luas di negara tersebut. Gautama memiliki banyak akses yang bisa membawa Ivander lebih jauh dan dikenal. Daniati tersenyum tipis, sekarang saja Adam merasa tenang, namun tidak akan lama perusahaan itu akan diambil alih oleh Ivander dan menjadi hak milik mereka sepenuhnya. “Mereka sedang berpesta sekarang,” ucap seseorang, yang tidak lain adalah Aziel. “Saya tidak suka dengan pria sombong itu. dia adalah penyebab saya kehilangan Kakak saya,” cerita mengalir dari bibir sekretarisnya itu. Aziel tidak menyangka kalau gadis itu memiliki kisah yang begitu menyedihkan. Dia kembali ke beberapa tahun yang lalu. Riani, kakaknya terlihat bahagia akhirnya bisa masuk dan bekerja di perusahaan raksasa Gautama company, perusahaan terhebat sebelum Adam mengambil alih perusahaan tersebut. Waktuu berlalu, presiden baru Gautama diduduki oleh Adam Gautama, semua mulai berubah. Riani yang saat itu adalah sekretaris baru mulai merasa aneh dengan sikap bosnya yang semena-mena menyentuhnya. Beberapa kali Daniati meminta Riani untuk berhenti saja, karena gadis itu bisa melihat kakaknya yang sangat tertekan. Hari berlalu, saat itu Riani pulang dengan keadaan yang sangat kacau, dia menangis sejadi-jadinya. Daniati yang khawatir akhirnya mendobrak kamar sang kakak, betapa terkejutnya dia menemukan sebuah tespack dengan garis dua tertera di sana. Daniati menebak siapa pelakunya. Gadis itu mendengar suara shower dari kamar mandi. Daniati sangat takut, dia memutuskan untuk membuka paksa kamar mandi tersebut, betapa terkejutnya Daniati mendapati Riani sudah tidak bernyawa di bak mandi dengan tangan berdarah. “Kak Riani!” teriak Daniati mendekati tubuh lemah itu, Riani masih sempat tersenyum kecut padanya. “Seharusnya aku mendengarkan saran kamu waktu itu pasti semua tidak akan seperti ini. Pasti masa depan aku gak akan sehancur sekarang. Hiks,” Riani menangis di tengah rasa sakit karena darah yang terus keluar. Daniati blank, otaknya tidak bisa bekerja dengan baik, dia tidak mengetahui harus melakukan apa. “Adam bukan? Si pria gila itu yang melakukan semua ini sama Kak Riani,” tebak Daniati. Wanita itu mulai memucat karena kehabisan darah. “Dia lebih dari gila. Dia tidak bertanggungjawab. Seharusnya aku membunuhnya terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidup seperti ini,” ucap Riani. Tanpa sadar air mata Daniati turun saat mengingat bagaimana hancurnya hidup Riani dan itu semua karena ulah gila Adam. Semuanya tidak lepas dari pandangan Aziel yang mendengar kisah sedih itu, dia tidak menyangka Adam Gautama setega itu, pria itu bahkan tidak menghargai wanita. “Kau baik-baik saja?” tanya seseorang menepuk bahu Daniati, dia pria berkacamata yang selalu terlihat menawan dengan pakaian apa pun. “Ah iya saya tidak apa-apa Pak,” balas Daniati sembari menghapus jejak air matanya. “Jika diberi pilihan menghancurkannya dahulu atau menyingkirkannya terlebih dahulu?” tanya Aziel. Lagi-lagi Aziel itu tidak tertebak, semua perkataannya seolah memiliki makna dibaliknya, yang mungkin sebagian orang tidak menyadarinya. “Saya hanya memberi pemisalan. Saya pikir kamu masih sangat kesal dengan tingkah tidak sopan yang ditunjukkan beberapa waktu yang lalu,” tambah Aziel memperbaiki kacamatanya, Daniati   terlihat terpesona dengan itu semua. Benar apa yang orang lain katakan. Aziel Griffin Ivander itu sangat sempurna, dia tampan, dia baik, dia jenius, dia juga sukses di usia yang masih sangat muda. Sekedar informasi Daniati beberapa tahun lebih tua dari Aziel. Tetapi benarkah Aziel sesempurna itu, apa mungkin ada manusia yang sempurna seperti dia. “Jadi apa pilihan kamu?” tanya Aziel mengulangi pertanyaannya. Daniati kembali menatap ke tv, menatap wajah sombong itu. “Jika saya punya kemampuan saya pasti akan menghancurkannya terlebih dahulu, saya buat dia menderita sampai putuus asanya dia lebih baik meninggal saat itu juga, setelah melihat semua kehancuran itu baru saya akan menyingkirkannya. Dia harus emrasakan betapa hancurnya hidup Kakak saya dulu,” ucap Daniati penuh rasa benci, seolah sedang membicarakan Adam. Aziel mengangguk mengerti, ikut menatap ke arah tv. “Baiklah, opsi pilihan telah dibuat,” ucap Aziel. Daniati menatap ke arah pria itu, kenapa dia berbicara seolah akan mewujudkan apa yang Daniati harapkan terjadi. “Ada yang salah?” bingung Aziel, ah wajah polos itu terlihat menggemaskan, apa yang sedang kau pikirkan Daniati, ah dia sepertinya mulai gila dengan semua kesempurnaan Aziel. Tidak ada yang akan menyangka apa yang terjadi dalam waktu dekat. Awalnya mereka heboh karena berpikir dengan bantuan Ivander maka perusahaan Gautama akan kembali ke masa kejayaannya di saat dulu, sebaliknya justru sekarang Gautama diambang kehancuran. Lihat bagaimana bank kini menyegel perusahaan tersebut karena terlibat hutang yang belum bisa mereka bayari. Keadaan kacau balau, Adam tidak lagi bisa menyombongkan diri di hadapan media. Kasusnya juga belum terselesaikan. Daniati menemani Aziel bertemu Adam, ingat sebelumnya mereka bertemu dengan wajah Adam yang terangkat dan sangat sombong, sekarang pria itu memohon agar Aziel tidak menarik sahamnya saat itu juga. Daniati tersenyum senang melihat wajah memelas itu. “ Saya akan usahakan untuk mengembalikan secepat yang saya bisa,” ucapnya memohon. Sungguh Daniati ingin tertawa saat itu juga. Wajah Adam yang seperti itu rasanya membuat Daniati bahagia. Aziel bisa melihat wajah penuh kepuasan di wajah gadis itu, seolah dia telah berhasil membalaskan dendam dalam hatinya. “Bukankah kemarin Anda yang bersikeras menolak kontrak tersebut, sekarang Anda memohon agar kami memberi keringanan waktu untuk Anda. Anda jelas paham, kami dengan mudah menyeret Anda dengan kasus penipuan ke polisi,” ucap Daniati. Kini dia bisa menunjukkan wajah sombong dan meremehkan di hadapan pria itu, pria yang telah menghancurkan kehidupan kakaknya. “Saya akan membeli perusahaan Anda. Saya akan melunasi hutang Anda ke bank, begitu juga dengan hutang Anda, bagaimana? Apa itu cukup?” tawar Aziel masih seperti biasa. Adam terlihat tidak rela perusahaannya jatuh ke tangan Aziel, tetapi dia juga tidak punya pilihan lagi, selain itu perusahaannya juga tidak bisa beroperasi selama beberapa waktu karena hutang mereka ke bank yang jelas tidak akan bisa dia lunasi.  “Baiklah, saya setuju,” ucap Adam akhirnya mengalah. Sekarang Gautama benar-benar sudah runtuh dan jadi milik Ivander. Adam Gautama bukan lagi seorang yang memiliki jabatan tertinggi, pria itu kini hanya orang biasa yang hidupnya mulai terlunta-lunta. Daniati yakin Adam pasti menderita sekarang, dia sudah tidak punya apa pun lagi. Daniati berjalan dengan puas, keluar dari rumah besar yang sebentar lagi juga akan disita. Daniati menatap ke langit, menatap langit biru Nyatanya semua belum berakhir. Ingat ada dua opsi yang dibuat. Daniati diminta memilih mana yang terlebih dahulu akan dilakukan, yang berarti opsi kedua juga akan segera terlaksana. “Ini belum selesai," ucap Aziel lagi. Berita keruntuhan Gautama sudah menyebar ke mana-mana. Gautama sang pemilik sekaligus pendiri Gautama merasa kacau. Perusahaan yang dia rintis dari nol, hancur lebur ditangan putranya sendiri. Jika saja keadaannya tidak sedang sakit, tentu dia tidak akan memberikan perusahaan itu pada Adam, anak itu sama sekali tidak berguna. Seharusnya dia meninggal saja, seharusnya dia tersingkir saja dari dunia ini. Dan yeah, keinginan si pria tua dan si wanita tersakiti akan segera terwujud. Dia sedang bergerak dalam perjalanan melaksanakan misinya. Si pria bermata merah akan menyelesaikan semuanya malam itu juga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN