BAB 7. Dendam Yang Terbalaskan

1211 Kata
Di malam yang dingin, dia sendirian berada dalam ruangan yang remang-remang. Netranya mencoba mencari tahu di manakah keberadaannya sekarang. Ingatan kembali ke beberapa jam yang lalu seorang wanita yang sangat cantik mengajaknya ke suatu tempat, wanita yang mengaku sebagai orang yang akan membantunya. Mereka sampai sebuah tempat yang amat mewah, tidak ada terbesit kecurigaan dalam benaknya saat wanita cantik itu memberikan minuman yang terlihat aneh. Adam yang sedang frustrasi menerima minuman tersebut, setelahnya Adam tidak ingat apa yang terjadi. Pria itu menyadari mulutnya telah tertutup rapat. Ingatannya kembali pada semua berita tentang pembunuhan sadis oleh psikopat yang sampai sekarang belum diketahui identitasnya. Dia merinding mulai takut, apa dia akan mengalami hal yang sama dengan Ardina, wanita pemilik restoran itu atau lebih parah seperti keluarga Anderson yang dibantai oleh psikopat. “Hai..sudah bangun rupanya,” ucap suara itu, meski terdengar menyapa namun nadanya sangat dingin. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan merinding, ditambah mata merah yang sedang tersenyum miring itu sangat menakutkan. “Kenapa? Kau takut? Kenapa tidak menjawab seperti saat kau menginginkan wanita-wanita itu. kau tampak berani saat itu, sangat berbeda dengan sekarang,” ucap pria itu terkekeh. Dia mengambil sebuah flashdiks berwarna merah, memasangkannya pada komputer yang telah terhubung ke proyektor. Seperti sebuah film, di sana terlihat bagaimana tingkah Adam pada wanita-wanita yang dengan semena-mena dia rebut masa depannya. “Jika ditampilkan di depan media, kira-kia bagaimana tanggapan masyarakat terhadap mantan pengusaha besar Gautama ini. Mungkin mereka akan membulimu habis-habisan,” gumamnya seolah ikut prihatin. Adam terdiam menatap layar, tercenung dengan apa yang sudah dia lakukan. Berapa banyak wanita yang kehilangan masa depannya karenanya. “Mari lihat seberapa banyak orang yang menginginkanmu meninggal saat ini juga,” ucap pria itu. sepertinya sebuah ide bagus, memberi kenangan sebelum kematian mendatanginya, si pria sombong yang terlalu berisik. Dia memutar sebuah video. Wajah pertama yang muncul adalah wajah pria tua yang merupakan pemilik dan pendiri Gautama company. Dia tuan besar Gautama, terlihat marah dan geram. Pria itu terlihat mengumpati putranya yang tidak berguna. Bayangkan bahkan orang tua sendiri pun menginginkan kematiannya. Adam tercengang mendengar ucapan ayahnya sendiri. “Seharusnya saya tidak membesarkan anak tidak berguna seperti dia,” begitulah ucapan marah dari tuan besar Gautama. Harapan apa lagi yang bisa Adam tanamkan dalam hatinya saat ini. Perusahaannya sudah hancur, dia kehilangan segalanya dan orang tuanya pun menginginkan kematiannya. Benar saja, saat ini dia tengah di hadapkan pada kematian itu sendiri. Film belum selesai. Di sana terlihat seorang gadis tengah menangis sembari memeluk foto seseorang. Adam menyipitkan matanya, menatap siapa yang berada dalam foto tersebut. Itu Riani, mantan sekretarisnya yang meninggal beberapa tahun lalu karena frustasi. “Lihat siapa gadis yang berada dalam pelukan itu. hem dia sangat cantik bukan?” Riani itu gadis yang sempurna, dia cantik dan ramah. Namun dengan jahatnya Adam membuatnya kehilangan masa depan cemerlang yang sedang Riani perjuangkan. Gadis yang memeluk foto itu mengangkat wajahnya, dia Daniati, wanita yang merupakan sekretaris dari Aziel Griffin Ivander, apa ini ada sangkut pautnya dengan gadis itu. “Lihat bagaimana dia berlutut untuk keringanan di hadapanku saat itu, Kak.” Gumam Daniati dalam video tersebut. “Dia sudah tidak mampu mengangkat kepalanya lagi,” Daniati terkekeh di tengah air mata yang mengalir, sepertinya gadis itu sedang membayangkan ekspresi memelas dari Adam. “Dia hancur. Dan aku berharap dia menjadi sasaran empuk psikopat itu. Aku berharap dia mati dengan sangat menggenaskan. Dia tidak pantas hidup setelah apa yang dia lakukan pada kakak. Hiks..maafkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa saat kakak diperlakukan buruk olehnya. Maafkan aku kak,” ucap Daniati kembali menangis. Dia menyesali bannyak hal yang terjadi. Layar mati, kegelapan kembali menyergap dan mencekam Adam. Dia menyesal, mungkin saja. Memangnya apa gunanya menyesal di saat kematian sudah ada di depan matanya. Pria itu mendekat padanya yang terikat dalam keadaan duduk. “Kau dengar apa doa mereka?” tanya suara dingin itu. Dia terkekeh dengan sangat menyeramkan. Memutari Adam, kemudian menempatkan sebuah alat yang terasa dingin di leher pria itu. Adam membeku, tidak berani bergerak. Bergerak sedikit saja, alat itu pasti melukai lehernya. Adam menahan nafas, dia tidak bisa memberontak juga berbicara untuk sebuah negosiasi. “Aku hanya mencoba mengabulkan doa mereka. Memangnya apa yang lebih menyakitkan dari tidak lagi diharapkan kehadirannya,” gumam orang itu. Dia juga mengalami hal yang sama. Kehadirannya tidak diinginkan bahkan oleh keluarganya sendiri. Pria itu berjalan menjauh membuat Adam bernafas lega karena tidak lagi merasakan dinginnya pisau yang tadi berada di lehernya. Pria itu mengambil semua alat yang dibutuhkan. “Mari buat dirimu berguna untuk yang terakhir kalinya,” gumamnya memulai aksinya. Adam sudah pasrah sekarang. Menutup matanya, terserah apa yang akan psikopat itu lakukan padanya. Toh, tidak ada harapan untuknya. Tidak ada lagi yang mengharapkan kehadirannya. “Hahaha..kau terlalu cepat menyerah,” orang itu tertawa lepas. “Baiklah, akan aku permudah saja,” ucapnya. Ini sudah berakhir. Dendam orang-orang yang pernah dia ambil masa depannya sudah terbalaskan. Pagi itu semua kembali gempar dengan ditemukannya Adam Gautama telah meninggal dalam keadaan mengenaskan, sama persis dengan Ardina, mantan sekretaris Aziel. Sungguh malang, perusahaan sudah hancur malah meninggal dengan sangat mengenaskan. Sebagian orang tersenyum menatap berita itu. dendam mereka akhirnya terbalas juga. Anggaplah mereka jahat karena menyumpahi orang yang bahkan sudah meninggal, namun merekalah yang merasakan bagaimana kacaunya hidup mereka karena seorang Adam Gautama. “Lihat Kak. Psikopat itu sepertinya mengetahui target yang sangat tepat. Lihat bagaimana dia berakhir dengan sangat menyedihkan,” gumamnya lagi. Dia menangis, akhirnya kelegaan itu dia dapat. Setelah sekian tahun dia sakit melihat seorang Adam yang bisa tidur nyenyak di tengah kekacauan yang pria itu buat, di tengah penderitaannya karena melihat sang kakak meninggal. “Sekarang kakak bisa tidur dengan tenang,” ucapnya untuk terakhir kali, sebelum pergi meninggalkan tempat peristirahatan sang kakak. Gadis itu tidak menyadari si mata merah tengah mengawasinya sembari tersenyum. Pria berhoodie hitam itu berjalan mendekati tempat peristirahatan Riani. Gadis yang malang. Dengan santai dia berjalan, melewati orang yang tidak memperhatikan keberadaannya karena masih sibuk dengan berita yang sedang hangat itu. Ponselnya berdering, dia tersenyum. Pasti dia akan mendapat pujian lagi. Dengan bergegas dia menuju suatu tempat. Sebelum ke tempat tersebut, ada satu tempat lagi yang ingin dia kunjungi. Rumah besar milik tuan besar Gautama. Pria itu sedang duduk santai sembari menyeruput segelas kopi. Dia bahkan tidak peduli dengan kasus putranya yang meninggal secara tragis. Dia tidak panik, tidak menangisi putranya, benar-benar sudah tidak menganggap Adam Gautama sebagai putranya. Si mata merah tersenyum lagi menatap pria tua itu, mungkin dia akan mengunjunginya dan mengajaknya bermain catur setelah urusannya selesai. Dia memakai kembali tudung kepalanya, menghentikan sebuah taksi dan pergi ke tujuan awalnya. “Dasar orang-orang bodoh. Masih mau saja bersimpati dengan orang sejahat itu,” gumam sopir taksi tersebut, tidak sadar kalau sedang membawa penumpang misterius. Di balik topinya pria itu tersenyum, ternyata banyak juga yang membenci si pria sombong itu. Ah benar juga, targetnya selalu memiliki potensi terbaik untuk menimbulkan kontraversi antar kalangan masyarakat. “Ini terlalu banyak tuan,” dia baru saja ingin mengembalikan uang dari penumpangnya, namun pria itu sudah lebih dahulu masuk ke dalam rumah sakit. Sopir taksi tersebut menggeleng, mungkin memang rejekinya sedang lancar. Si pria mata merah berjalan santai, tersenyum pada seseorang yang tengah menunggunya. Pria itu menyodorkan segelas kopi yang disambut baik olehnya. “Good job!” sambut orang itu pada si mata merah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN