Semakin kita terkenal, maka akan semakin banyak orang yang ingin mengetahui identitas kita. Dulu orang-orang tidak mempertanyakan tentang silsilah kekeluargaan Aziel atau tuan besar Arkano, namun sejak semakin majunya perusahaan Ivander dan Griffin’s Hospital, semua orang mulai penasaran dengan sosok wanita pendukung dalam keberhasilan keluarga tersebut.
Wanita yang dimaksud adalah ibu dari Aziel Griffin Ivander, wanita hebat yang telah membesarkan pria hebat itu. wanita hebat mana yang telah berhasil mendorong tuan besar Griffin dalam menjalankan rumah sakit yang dia rintis sendiri. Semua orang penasaran dengan wanita tersebut, nyonya besar Griffin.
Tidak seorang pun mengetahui sosok wanita itu bahkan Aziel sendiri. Pria itu bergegas masuk ke ruangan tempat tuan besar Griffin berada. Tanpa mengetuk pintu, pria berkacamata itu masuk, duduk di hadapan sang ayah. Wajahnya tetap tenang seperti biasa.
“Apa yang harus aku katakan pada mereka tentang ibu?” tanya Aziel langsung pada intinya. Pria paruh baya itu menatap putranya. Bersandar ke kursi, dia terlihat pusing sekarang.
“Bagaimana dengan ibu baru saja?” tanya pria itu dengan wajah antusias membuat Aziel terkekeh mendengarnya.
“Ide bagus. Ada rekomendasi?” balas Aziel. Humor ayah dan anak sama saja.
Keduanya terkekeh. Rumor mulai tersebar ketika Aziel masih belum memberi jawaban atas pertanyaan mereka. Banyak yang beranggapan kalau ibunda- wanita hebat yang mereka sebut-sebut itu sudah meninggal, namun ada juga yang malah mengatakan kalau mungkin saja Aziel bukan putra kandung dari Arkano Alexander Griffin, pasalnya tidak ada tanda-tanda Arkano pernah melangsungkan pernikahan.
Mereka terjebak dalam ruangan tersebut, tidak berani keluar. Di lobi rumah sakit, para wartawan tengah menunggu kepastian dari mereka. Aziel masih terlihat tenang memainkan ponsel, sementara Arkano mondar-mandir, sedang memikirkan solusi untuk keluar dari ini.
“Kenapa tidak jelaskan silsilah keluarga Griffin pada mereka?” tanya Aziel.
“Apa kau berpikir mereka akan percaya jika aku mengatakan ibumu sudah lama meninggal, atau mungkin mengatakan kalau kau ini anak adopsi?” tannya Arkano.
Aziel mengedikkan bahu, dia tidak terlalu mempermasalahkan apa jawabannya yang terpenting bisa menenangkan media massa yang sudah sangat heboh di luar sana. Jika mereka mennyebar sembarang rumor pun Aziel tidak peduli.
“Baiklah, mari lakukan jumpa pers nanti malam,” keputusan akhirnya diambil.
Aziel tersenyum tipis. Apa pun itu dia menurut saja. Pria itu pamit, dengan dikawal oleh beberapa bodyguard Aziel bisa melewati mereka semua tanpa harus memberikan jawaban. Aziel penasaran apa yang akan ayahnya katakan di jumpa pers nanti.
Aziel turun dengan tenang dari mobil, mengunjungi sebuah rumah mewah. Dia datang untuk mengucapkan turut berduka atas meninggalkan Adam Gautama, yah dia sekarang sedang mengunjungi kediaman keluarga Gautama.
Aziel tersenyum saat melihat Gautama tengah menyeruput kopi.
“Anda terlihat semakin sehat,” ucap Azile basa-basi. Pria tua itu terkekeh lalu mempersilahkan Aziel untuk duduk.
“Sudah lebih baik dari sebelumnya,” balas Gautama. Aziel duduk melihat apa yang baru saja dibaca oleh Gautama di koran tersebut. Rupanya pria itu tengah membaca berita kematian putranya.
“Saya turut berduka atas meninggalnya Adam Gautama,” ucapan Aziel menarik perhatian Gautama, bukannya terlihat sedih pria itu malah tersenyum lalu mengangguk santai.
“Mau bermain catur denganku?” tanya Gautama. Aziel terlihat mulai tertarik lalu mengangguk. Gautama masuk ke dalam rumah, mengambil papan catur. Mereka bermain catur sembari mengobrol.
“Kalian akan mengadakan jumpa pers bukan?” tanya Gautama. Secepat itu memang berita menyebar, Aziel mengangguk. Dia sendiri tidak mengetahui apa yang akan dia lakukan nanti, mungkin dia hanya akan mengangguk saja dengan semua penjelasan Arkano kepada media.
“Aku mengetahui sedikit tentang silsilah keluarga Griffin,” ucap Gautama dengan santai seolah apa yang baru dia katakan adalah hal yang biasa.
“Bagaimana Anda mengetahuinya?” tanya Aziel penasaran.
“Aku dan Arkano dulu sangat akrab, juga dengan Anderson,” ucap Gautama. Ah ternyata begitu ceritanya.
“Griffin memiliki dua anak, Arkano dana Eleana. Arkano adalah anak kedua. Yang aku tau Arkano dan Eleana tidak pernah memiliki hubungan yang baik, namun kepada Anderson, suami Eleana, hubungan Arkano cukup baik,” tutur Gautama sembari memindahkan bidak untuk menghalangi kuda catur milik Aziel menyerang rajanya. Jika sudah dimakan maka kalah sudah Gautama.
“Arkano sama sekali belum pernah menikah, bukan?” tanya Gautama memastikan. Aziel bingung harus menjawab seperti apa. Dia memilih tidak menjawab dan memindahkan kudanya, satu kuda milik Gautama dimakan oleh pion milik Aziel, pria itu tersenyum, satu langkah lagi, dia berhasil mengalahkan Gautama dalam permainan catur.
“Kau memang anak yang jenius, entah aku harus mengatakan kau mirip dengan Arkano atau justru mirip Eleana.” Aku Gautama. Dari wajah pria itu memang cukup memiliki kemiripan dengan Arkano, namun mata sipit pria berkacamata itu lebih mirip dengan Eleana.
Sampai sekarang Gautama sendiri masih belum mengetahui dengan pasti apakah Aziel itu putra Arkano dari wanita bayarannya atau putra Eleana yang selalu disembunyikan dari media. Keluarga Anderson memiliki dua anak menurut rumor dari pembantu yang pernah bekerja di sana. Jika Aziel adalah putranya lalu mengapa mereka menyembunyikan putra setampan itu dari media. Dibandingkan dengan William, putra pertama Anderson, Aziel jauh lebih tampan. Gautama berpikir mereka menyembunyikan salah satu anaknya karena memiliki kekurangan.
“Anda tidak berpikir kalau saya ini putra dari Eleana bukan?” tanya Aziel mencoba menebak.
“Tadinya begitu, namun kau terlalu sempurna untuk disembunyikan dari media,” balas Gautama.
Permainan berakhir dengan kemenangan ditangan Aziel. Pria itu benar-benar jenius.
“Kau pemuda pertama yang berhasil mengalahkanku selain Anderson. Bahkan William, putra sulungnya tidak bisa mengalahkanku,” puji Gautama. Aziel tersenyum tipis menanggapi perkataan Gautama.
“Kau mengetahui tentang berita pembunuhan keluarga Anderson bukan?” tanya Gautama tiba-tiba, Aziel mengangguk, dia pernah mendengar kisah menyedihkan itu dari Arkano.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Gautama lagi. Aziel memainkan jemarinya di atas meja catur, sebelum memberi jawaban.
“Entahlah, Mungkin sudah waktunya mereka untuk kembali ke rumah yang sesungguhnya,” balas Aziel.
Aziel berdiri, tidak terasa mereka sudah berbicara banyak hal hari itu.
“Aku harus kembali sekarang untuk bersiap acara sore nanti. Ku harap semua akan berjalan lancar,” tutur Aziel. Gautama mengangguk.
“Baiklah. lain kali kita harus bermain catur lagi,” ucap Gautama, Aziel mengangguk lalu tersenyum. Baru beberapa langkah tiba-tiba Aziel berhenti, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
“Apa kau tidak berniat mengelola perusahaanmu kembali?” tanya Aziel. Dia berniat mengembalikan perusahaan itu kepada pemiliknya, Gautama. Pria tua itu tertawa.
“Tidak, terima kasih untuk penawaranmu anak muda, tetapi aku sudah tua, waktu terbaik untuk bersantai dan menikmati hidup,” balas Gautama.
“ Baiklah. nikmati waktu terbaikmu tuan Gautama. Aku pamit dulu. Sampai berjumpa lagi,” pamit Aziel.
Pria itu masuk ke dalam mobilnya. Dia tersenyum tipis. Sedikit banyak akhirnya dia mengetahui tentang silsilah keluarga Griffin.
“Bibi Eleana yang malang,” gumamnya.
Ternyata dia lebih tampan dari William. Benar juga, dia itu sempurna, bahkan William, si putra kesayangan Anderson dan Eleana tidak bisa menyaingi kesempurnaan yang dia miliki. Aziel kembali tersenyum mengingat itu. menghabiskan waktu bersama Gautama ternyata cukup berguna untuk mengembalikan mood baiknya. Dia akan kembali nanti untuk bermain catur dengan pria itu lagi. Dia senang melakukannya, membayangkan permainan catur itu sebagai permainan hidup yang hanya akan dimenangkan oleh orang-orang jenius dan sempurna.