Dia tumbuh dalam kegelapan dan kesepian. Tidak seorang pun diizinkan untuk bertemu dengannya, untuk berteman dengannya. Ah iya, kalaupun diizinkan, memangnya siapa yang akan mau berteman dengannya. Bahkan saudaranya sendiri selalu meneriakinya monster. “Monster bermata merah!” begitulah William selalu menyebutnya, meneriakinya seolah Arsenio mengganggu pria itu. bahkan sampai beranjak dewasa pun William tidak berubah sama sekali. Arsenio mengambil mainannya, bermain sendiri di dalam kamar. Dia menatap dari jendela kamarnya, di sana orang tuanya sedang mengantarkan William untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Betapa beruntungnya saudaranya itu, mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Arsenio tumbuh menjadi anak pendiam, dia tidak melawan jika ada orang yang menghinan

